BANDUNG – Siapa bilang akhir pekan harus dihabiskan dengan keliling mal sambil bingung memilih diskon yang sebenarnya tidak didiskon? Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB) 2026 hadir membawa alternatif yang lebih berkelas: belanja produk lokal terbaik sambil menyaksikan bagaimana kreativitas warga Jabar mengubah bambu, kayu, rotan, batu, kaca, hingga tekstil menjadi barang bernilai tinggi.
Digelar pada 26–28 Juni 2026 di Trans Studio Mall dan Trans Convention Centre Bandung, PKJB ke-19 siap menjadi panggung besar bagi para pelaku UMKM dan pengrajin yang selama ini bekerja dalam senyap, namun menghasilkan karya yang kualitasnya sanggup membuat produk impor berkeringat dingin.
Mengusung tema “Wastra Istimewa, Tradisi yang Bergaya”, acara ini bukan sekadar pameran. Ini adalah ajang pembuktian bahwa kerajinan Jawa Barat belum pensiun ditelan zaman, melainkan terus berevolusi mengikuti selera pasar, termasuk generasi muda yang biasanya lebih akrab dengan keranjang belanja digital daripada keranjang anyaman bambu.
Ketua Dekranasda Jawa Barat Noneng Komara Nengsih memastikan seluruh produk yang tampil telah melalui proses kurasi ketat. Dengan kata lain, pengunjung tidak akan menemukan barang “asal jadi” yang hanya mengandalkan label kerajinan.
Sebanyak 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat mengirimkan produk unggulan mereka. Setiap daerah hanya menampilkan karya terbaik yang berhasil lolos seleksi.
Mulai dari kerajinan berbahan bambu, rotan, kayu, batu, logam, tekstil, serat alam hingga kaca akan memenuhi area pameran. Banyak di antaranya bahkan telah mengantongi penghargaan tingkat nasional.
“Produk yang disajikan merupakan yang terbaik sehingga tidak akan mengecewakan pengunjung, terutama pembeli,” ujar Noneng.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi pesannya jelas: datanglah dengan ekspektasi tinggi, karena yang dipamerkan memang bukan produk kaleng-kaleng.
Kabar baik bagi para pemburu barang berkualitas yang masih punya hubungan baik dengan isi rekeningnya.
Para pengrajin disebut akan memberikan harga spesial selama pelaksanaan PKJB 2026. Artinya, pengunjung bisa membawa pulang produk premium tanpa harus mengalami drama finansial di akhir bulan.
Di tengah tren barang pabrikan yang seragam dan sering kehilangan identitas budaya, produk-produk kriya lokal justru menawarkan keunikan yang tidak bisa ditiru mesin produksi massal.
Jika biasanya pengunjung hanya melihat barang jadi, tahun ini PKJB menghadirkan konsep yang lebih interaktif.
Melalui program Pinton Kriya, masyarakat bisa menyaksikan langsung proses pembuatan berbagai kerajinan seperti batik dan karya kriya lainnya dari tahap awal hingga menjadi produk siap pakai.
Bahkan pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan para perajin dan belajar mengenai teknik pembuatannya.
Jadi, setelah pulang nanti, setidaknya ada dua kemungkinan: terinspirasi membuka usaha baru atau minimal memahami bahwa membuat satu lembar batik ternyata jauh lebih rumit daripada membuat status media sosial.
Inilah salah satu gebrakan baru PKJB 2026.
Lewat program Saba Kriya, pengunjung dan calon buyer akan diajak melakukan perjalanan edukatif ke sentra-sentra kerajinan di Jawa Barat.
Mulai dari melihat proses penyamakan kulit, produksi batik, hingga mengunjungi langsung workshop para pengrajin.
Biasanya orang membeli barang lalu pulang. Di PKJB, pembeli diajak memahami cerita, proses, dan perjuangan di balik setiap produk yang mereka beli.
Karena nilai sebuah karya sering kali tidak hanya terletak pada barangnya, tetapi juga pada tangan-tangan kreatif yang menciptakannya.
Bagi pecinta fesyen, PKJB 2026 juga menyiapkan panggung peragaan busana yang menampilkan kekayaan wastra Jawa Barat dalam balutan desain modern.
Menariknya, para model bukan hanya profesional, tetapi juga melibatkan perwakilan Dekranasda kabupaten/kota, kepala daerah, pimpinan Bank Indonesia, hingga Gubernur Jawa Barat.
Pesannya sederhana: batik dan wastra Nusantara tidak hanya cocok untuk acara resmi, tetapi juga mampu tampil modis dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah era pembayaran digital, PKJB tetap mengikuti perkembangan zaman.
Seluruh transaksi dapat dilakukan menggunakan QRIS, sehingga pengunjung tidak perlu repot membawa uang tunai dalam jumlah besar.
Tradisi tetap dijaga, teknologi tetap digunakan. Sebuah kombinasi yang menunjukkan bahwa produk lokal bisa modern tanpa kehilangan akar budayanya.
Ajang Promosi, Kolaborasi, dan Mesin Penggerak Ekonomi
Lebih dari sekadar tempat jual beli, PKJB menjadi ruang pertemuan antara pengrajin, pelaku usaha, pembeli, investor, pemerintah, hingga wisatawan.
Menurut Noneng, manfaat yang diharapkan dari penyelenggaraan PKJB sangat jelas:
- Produk kriya Jawa Barat semakin dikenal luas.
- Pelaku usaha mendapatkan jaringan bisnis baru.
- Terbuka peluang kolaborasi dan inovasi.
- Penjualan produk meningkat.
- Generasi muda terdorong untuk terjun ke industri kreatif.
Karena pada akhirnya, ekonomi kreatif tidak tumbuh dari slogan, melainkan dari produk yang dibeli, diapresiasi, dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Yang paling menarik, seluruh rangkaian Pekan Kerajinan Jawa Barat 2026 dapat dinikmati secara gratis.
Jadi, jika akhir pekan ini Anda masih berencana menghabiskan waktu hanya untuk melihat-lihat etalase tanpa membawa pulang inspirasi, mungkin saatnya mengubah agenda.
Datanglah ke PKJB 2026. Di sana, Anda akan menemukan bahwa kerajinan Jawa Barat bukan sekadar warisan budaya, melainkan bukti bahwa kreativitas lokal masih sanggup bersaing, berinovasi, dan bahkan memikat pembeli dari berbagai daerah hingga mancanegara.***













