Scroll untuk baca artikel
Lingkungan Hidup

Gunungan Sampah Bandung Raya Bersiap Disulap Jadi Listrik, Proyek Legok Nangka Resmi Digas!

×

Gunungan Sampah Bandung Raya Bersiap Disulap Jadi Listrik, Proyek Legok Nangka Resmi Digas!

Sebarkan artikel ini
TPPAS Legok Nangka,di Jalan Raya Nagreg, Citaman, Kec. Nagreg, Kabupaten Bandung, Jumat (14/2/2025)
TPPAS Legok Nangka,di Jalan Raya Nagreg, Citaman, Kec. Nagreg, Kabupaten Bandung, Jumat (14/2/2025)

BANDUNG – Jika selama ini sampah identik dengan bau menyengat, gunungan limbah, dan konflik tempat pembuangan akhir yang tak kunjung usai, Jawa Barat kini mencoba mengubah cerita tersebut.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama PT Jabar Environmental Solutions (PT JES) resmi memperkuat kerja sama pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka melalui penandatanganan Perubahan dan Pernyataan Kembali Perjanjian Kerja Sama (PKS) proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kesepakatan yang ditandatangani pada Jumat (5/6/2026) di Kabupaten Indramayu ini menjadi tonggak penting bagi salah satu proyek lingkungan terbesar di Jawa Barat yang selama bertahun-tahun dinanti sebagai solusi krisis sampah kawasan Bandung Raya.

Penandatanganan dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi selaku Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) bersama Direktur PT JES, Kenichi Ishikawa.

Selain itu, turut dilakukan penandatanganan Perjanjian Penjaminan antara PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) dan PT JES, serta penyerahan Perjanjian Regres dari Pemprov Jabar kepada PT PII.

BACA JUGA :  Dugaan Korupsi Retribusi Sampah DLH Kota Bekasi Dilaporkan ke Kejagung

Proyek TPPAS Regional Legok Nangka bukan sekadar tempat membuang sampah modern.

Fasilitas ini dirancang menggunakan teknologi Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), sebuah konsep yang mengubah sampah menjadi sumber energi yang bernilai ekonomis.

Jika berjalan sesuai rencana, fasilitas ini mampu mengolah hingga 2.131 ton sampah setiap hari.

Jumlah tersebut setara dengan ribuan truk sampah yang selama ini setiap hari mencari tempat berakhirnya perjalanan mereka.

Dengan teknologi ini, sampah tidak lagi hanya ditimbun hingga menggunung, melainkan diolah menjadi energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Sederhananya, yang selama ini menjadi sumber masalah lingkungan diharapkan berubah menjadi sumber energi.

TPPAS Regional Legok Nangka akan melayani enam wilayah utama, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang.

Wilayah-wilayah tersebut selama ini menghadapi tekanan besar dalam pengelolaan sampah akibat pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan meningkatnya volume limbah rumah tangga.

BACA JUGA :  Rencana TPA Sampah di Desa Tanjung Sari Ditolak Kades se-Lampung Selatan

Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan sampah bahkan berulang kali menjadi isu darurat lingkungan di Bandung Raya.

Tempat pembuangan akhir yang semakin penuh membuat pemerintah harus terus mencari solusi jangka panjang yang tidak sekadar memindahkan sampah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan keberadaan Legok Nangka diharapkan menjadi jawaban atas persoalan tersebut.

“TPPAS Regional Legok Nangka akan mengurangi ketergantungan terhadap fasilitas pembuangan akhir yang telah mengalami keterbatasan kapasitas,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya produksi sampah perkotaan, pendekatan lama berupa penimbunan di tempat pembuangan akhir dinilai semakin tidak relevan.

Lahan semakin terbatas, volume sampah terus meningkat, sementara dampak lingkungan seperti pencemaran air, tanah, dan udara terus mengintai.

Dalam konteks inilah Legok Nangka diposisikan sebagai proyek strategis yang tidak hanya berbicara soal kebersihan kota, tetapi juga tentang ketahanan lingkungan dan energi masa depan.

BACA JUGA :  Way Sekampung Tercemar Lagi, Pemerintah Kembali Janji: Kali Ini Baru Mau Evaluasi

Karena pada akhirnya, sampah yang dibiarkan menumpuk hanya akan menghasilkan masalah baru. Sebaliknya, sampah yang diolah dengan teknologi dapat menjadi sumber daya yang menghasilkan manfaat.

Meski kerja sama telah diperbarui, perjalanan proyek belum selesai.

Tahapan berikutnya adalah penyelesaian pembiayaan atau financial close yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026.

Setelah itu, proses konstruksi fisik akan dipercepat agar fasilitas pengolahan sampah modern tersebut dapat segera beroperasi.

Publik tentu berharap proyek yang telah lama dinanti ini tidak kembali tersendat oleh persoalan administratif maupun pembiayaan.

Sebab bagi jutaan warga Bandung Raya dan sekitarnya, persoalan sampah bukan lagi sekadar isu kebersihan, melainkan persoalan lingkungan yang mendesak untuk segera dituntaskan.

Jika proyek ini berhasil, maka Jawa Barat berpeluang membuktikan bahwa gunungan sampah tidak harus selalu menjadi simbol masalah. Di tangan teknologi yang tepat, sampah bahkan bisa berubah menjadi listrik yang menerangi kehidupan.***