Scroll untuk baca artikel
Budaya

Ratu Darah Putih Kukuhkan Bandar Baru Sekappung Limo Migo, Menjaga Adat Bukan Sekadar Pakai Tanjak, tapi Menjaga Marwah Lampung

×

Ratu Darah Putih Kukuhkan Bandar Baru Sekappung Limo Migo, Menjaga Adat Bukan Sekadar Pakai Tanjak, tapi Menjaga Marwah Lampung

Sebarkan artikel ini
penobatan Yus Darmawansah sebagai Bandakh (Bandar) Kebandaran Sekappung Limo Migo oleh Keratuan Darah Putih, melalui Gusti Putra Aji bergelar Ratu Batin Ratu Raden Imba Kesuma Ratu V, dalam prosesi adat yang berlangsung khidmat pada Minggu (28/6).- foto doc

LAMPUNG TIMUR – Festival budaya Sekappung Limo ke-2, kembali menegaskan keberlangsungan struktur adat yang telah diwariskan turun-temurun. Momentum itu ditandai dengan penobatan Yus Darmawansah sebagai Bandakh (Bandar) Kebandaran Sekappung Limo Migo oleh Keratuan Darah Putih, melalui Gusti Putra Aji bergelar Ratu Batin Ratu Raden Imba Kesuma Ratu V, dalam prosesi adat yang berlangsung khidmat pada Minggu (28/6).

Prosesi penobatan disaksikan para penyimbang, tokoh adat, dan pemuka masyarakat dari enam tiyuh (desa adat) yang menjadi bagian Kebandaran Sekappung Limo Migo, yakni Gunung Sugih Besar, Gunung Raya, Toba, Peniangan, Bojong, dan Batu Badak.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Penobatan tersebut bukan sekadar pergantian pemangku adat. Dalam tradisi Lampung Saibatin, seorang Bandar memegang peran sebagai pengatur kehidupan adat, penjaga nilai, sekaligus perekat hubungan antarketurunan dalam wilayah kebandaran.

Dalam sambutannya, Ratu Batin Ratu Raden Imba Kesuma Ratu V mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur terhadap pelestarian budaya Lampung yang dinilai semakin mendapat ruang di tengah masyarakat.

BACA JUGA :  Bikin Bangga, Pakaian Adat Lampung Terpilih sebagai Baju Adat Terbaik Upacara HUT RI 79 di IKN

Ia juga mengucapkan selamat kepada Yus Darmawansah yang kini resmi mengemban amanah sebagai Kepala Bandar Kebandaran Sekappung Limo Migo.

“Kami berharap Festival Budaya Sekappung Limo Migo tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi agenda budaya unggulan yang mampu memperkenalkan adat dan budaya Lampung kepada masyarakat luas. Antusiasme generasi muda dalam menampilkan berbagai kreasi seni menjadi harapan besar agar budaya ini terus hidup,” ujarnya.

Kalimat tersebut seolah menjadi pengingat bahwa adat tidak cukup dipajang saat festival atau dikenakan dalam bentuk pakaian tradisional semata. Budaya hanya akan bertahan jika diwariskan, dipraktikkan, dan dipahami oleh generasi penerus.

Ketua Pelaksana Festival Budaya Sekappung Limo Migo II, Ibrahim Restusaka bergelar Pengeran Ngukup, mengatakan keberhasilan festival merupakan hasil gotong royong seluruh elemen masyarakat.

Mulai dari penyimbang adat, pemerintah daerah, kepala desa, para donatur hingga masyarakat bergandengan tangan menyelenggarakan kegiatan tersebut.

“Festival ini merupakan penyelenggaraan kedua dengan tujuan memperkenalkan budaya adat Kebandaran Sekappung Limo Migo kepada masyarakat luas. Kami berharap budaya ini tetap lestari sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik materi maupun nonmateri,” katanya.

BACA JUGA :  Resmi Gandeng INI, Pemkab Lampung Timur Siap Bentuk Ratusan Koperasi Merah Putih

Ia menjelaskan kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Bandar Marga Sekappung Limo Migo, para penyimbang adat, Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur serta 23 kepala desa yang berada di Kecamatan Sekampung Udik dan Kecamatan Marga Sekampung.

Kebandaran Sekappung Limo Migo merupakan salah satu kesatuan masyarakat adat Lampung yang hingga kini masih mempertahankan struktur kepemimpinan tradisionalnya. Wilayah adat ini terdiri atas enam tiyuh, yakni Gunung Raya, Gunung Sugih Besar, Peniangan, Toba, Bojong, dan Batu Badak yang secara historis berada dalam satu ikatan kebandaran.

Dalam tradisi Lampung Saibatin, jabatan Bandar bukan hanya simbol kehormatan. Bandar menjadi pengatur tata adat, pemimpin musyawarah, penyelesai sengketa adat, sekaligus penjaga kesinambungan nilai-nilai budaya di tengah masyarakat.

Sejarah mencatat hubungan Kebandaran Sekappung Limo Migo dengan Keratuan Darah Putih telah berlangsung selama ratusan tahun. Sejumlah sumber sejarah adat menyebut Sekappung Limo Migo berada di bawah naungan Keratuan Darah Putih, bahkan memiliki ikatan historis melalui penobatan gelar adat serta hubungan genealogis sejak masa penyebaran pengaruh Kesultanan Banten di Lampung.

BACA JUGA :  Cegah Covid-19, ASN dan Sekolah di Lamtim Diliburkan

Dalam perkembangan sejarahnya, Sekappung Limo Migo kemudian menjadi cikal bakal wilayah Marga Sekampung Udik, namun struktur adat Kebandaran tetap dipertahankan dan diwariskan hingga sekarang.

Menjaga Adat, Menjaga Identitas

Di era ketika banyak orang lebih sibuk mencari pengakuan di dunia digital, masyarakat Sekappung Limo Migo justru memilih menjaga pengakuan yang lebih tua: pengakuan dari sejarah.

Prosesi penobatan Bandar menjadi bukti bahwa adat Lampung bukan benda museum yang hanya dipotret saat festival. Ia tetap hidup, memiliki struktur, pemimpin, aturan, dan masyarakat yang setia merawatnya.

Karena pada akhirnya, budaya bukan hanya soal pakaian adat atau tarian yang dipentaskan setahun sekali. Budaya adalah cara sebuah masyarakat memastikan akar mereka tidak tercabut, meski zaman terus bergerak maju.

Dan di Sekappung Limo Migo, akar itu kembali diteguhkan melalui penobatan seorang Bandar baru—sebuah pesan bahwa adat Lampung masih berdiri, masih dihormati, dan masih memiliki masa depan.