Scroll untuk baca artikel
Budaya

Nyahi Diangkat Jadi Ikon Gastronomi Betawi, Siap Perkuat Wisata Budaya dan UMKM Jakarta Menuju 500 Tahun

×

Nyahi Diangkat Jadi Ikon Gastronomi Betawi, Siap Perkuat Wisata Budaya dan UMKM Jakarta Menuju 500 Tahun

Sebarkan artikel ini
Foto: Seminar Budaya dan Gastronomi bertajuk “Nyahi, Warisan Rasa Betawi: Potensi Wisata Budaya, Ekonomi Kreatif, dan Penguatan UMKM Jakarta” yang berlangsung di Ruang Seminar Elang Bondol, Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Rabu (17/6)

JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta, upaya memperkuat identitas budaya ibu kota terus digencarkan. Salah satunya melalui pengangkatan tradisi Nyahi, budaya minum teh khas Betawi, sebagai bagian penting dari pengembangan wisata budaya, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan UMKM Jakarta.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Budaya dan Gastronomi bertajuk “Nyahi, Warisan Rasa Betawi: Potensi Wisata Budaya, Ekonomi Kreatif, dan Penguatan UMKM Jakarta” yang berlangsung di Ruang Seminar Elang Bondol, Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Rabu (17/6).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah, akademisi, budayawan Betawi, pelaku industri kuliner, hotel dan restoran, komunitas kreatif, hingga pelaku UMKM.

Mereka bersama-sama membahas strategi pelestarian sekaligus pengembangan Nyahi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai budayanya.

Bagi masyarakat Betawi, Nyahi bukan sekadar tradisi menikmati secangkir teh. Tradisi ini menyimpan nilai keramahan, penghormatan kepada tamu, kebersamaan, serta semangat gotong royong yang telah hidup dalam kehidupan sosial masyarakat selama berabad-abad.

BACA JUGA :  Pajak Listrik Jalan, Tapi PJU di Cikiwul Mati: Warga Gelap, Kriminalitas Siap Panen

Di tengah transformasi Jakarta menjadi kota global, Nyahi dinilai memiliki nilai lebih sebagai ruang temu berbagai peradaban yang pernah membentuk wajah Jakarta. Dari tradisi sederhana tersebut tersimpan jejak interaksi antaretnis, sejarah perdagangan, hingga proses akulturasi budaya yang menjadi fondasi keberagaman Jakarta saat ini.

Ketua Panitia Seminar, Indah Erniawati, S.E., mengatakan bahwa seminar ini menjadi langkah awal untuk membangun fondasi akademik, budaya, dan ekonomi dalam pengembangan Nyahi sebagai identitas gastronomi Jakarta.

“Nyahi bukan hanya warisan masa lalu. Di dalamnya terdapat potensi besar yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan budaya, daya tarik wisata, sumber inovasi ekonomi kreatif, sekaligus sarana pemberdayaan UMKM Jakarta. Karena itu diperlukan kolaborasi lintas sektor agar tradisi ini tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

BACA JUGA :  “Lebaran Bekasi II: Panggung Budaya Betawi dan Pesta Kuliner yang Menyatukan Warga”

Selain menggali aspek sejarah dan filosofi, seminar juga membahas berbagai peluang pengembangan Nyahi sebagai produk wisata budaya yang memiliki nilai ekonomi. Para narasumber menilai tradisi ini dapat menjadi bagian dari ekosistem wisata gastronomi Jakarta yang mampu menghadirkan pengalaman autentik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sebagai tindak lanjut dari seminar tersebut, berbagai program kolaboratif tengah disiapkan yang akan bermuara pada penyelenggaraan Festival 499 Tahun Jakarta Rasa: Nyahi, Ruang Temu Peradaban dalam Rasa Betawi.

Festival ini dirancang sebagai perayaan budaya yang menggabungkan pengalaman menikmati tradisi Nyahi dengan ragam kuliner khas Jakarta, pertunjukan seni budaya Betawi, aktivasi UMKM, program edukasi, serta berbagai atraksi wisata gastronomi yang melibatkan masyarakat secara luas.

Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah program “Nyahi on The Bus”, sebuah konsep wisata budaya tematik yang memadukan tradisi Nyahi, sajian kuliner khas Jakarta, serta narasi sejarah kota dalam satu perjalanan wisata interaktif. Program tersebut diharapkan menjadi produk wisata unggulan yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Jakarta dengan cara yang lebih kreatif dan menarik.

BACA JUGA :  Enteng Tanamal Rayakan 81 Tahun dengan Buku: Musik Boleh Tua, Tapi Hak Cipta Harus Tetap Muda!

Lebih jauh, inisiatif ini juga diproyeksikan menjadi sarana diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas Jakarta kepada dunia internasional, sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku UMKM, industri kuliner, dan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas budaya, Nyahi diharapkan tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi tumbuh menjadi simbol budaya Jakarta yang hidup, produktif, dan bernilai ekonomi.

Lebih dari sekadar tradisi minum teh, Nyahi adalah representasi keramahan, kebersamaan, dan keberagaman yang telah menjadi wajah Jakarta sejak dahulu hingga kini.

Dari secangkir teh Nyahi tersimpan harapan besar untuk memperkuat identitas budaya, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta membawa Jakarta memasuki usia ke-500 tahun sebagai kota global yang tetap berakar kuat pada warisan budayanya.***