Scroll untuk baca artikel
Lingkungan Hidup

Bukan Hanya Badak Jawa, Macan Tutul Jadi Penjaga Terakhir Keseimbangan Hutan Ujung Kulon

×

Bukan Hanya Badak Jawa, Macan Tutul Jadi Penjaga Terakhir Keseimbangan Hutan Ujung Kulon

Sebarkan artikel ini
Macan Tutul Jawa

BANTEN – Nama Taman Nasional Ujung Kulon selama ini identik dengan Badak Jawa, mamalia langka yang menjadi ikon konservasi Indonesia. Namun, jauh di balik lebatnya hutan hujan tropis itu, hidup seekor pemburu senyap yang memegang peranan vital dalam menjaga keseimbangan alam.

Satwa endemik Pulau Jawa yang kini berstatus Kritis (Critically Endangered) ini bukan sekadar penghuni hutan, melainkan predator puncak yang mengendalikan populasi berbagai satwa liar. Tanpa kehadirannya, rantai makanan di kawasan hutan berpotensi terganggu dan memicu dampak berantai bagi seluruh ekosistem.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Berbeda dengan Badak Jawa yang lebih banyak berkeliaran di lantai hutan, Macan Tutul Jawa mengandalkan kecerdikan, kesabaran, dan kemampuan memanjat pohon. Dari balik rimbunnya kanopi, predator ini mengintai mangsa sebelum melancarkan serangan cepat yang nyaris tanpa memberi kesempatan melarikan diri.

Penelitian melalui analisis kotoran (scat analysis) menunjukkan mangsa utama Macan Tutul Jawa meliputi kancil, kijang, anak babi hutan, hingga primata seperti monyet ekor panjang dan lutung. Ketersediaan satwa-satwa tersebut menjadi penentu keberlangsungan hidup sang predator di alam liar.

Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, menegaskan bahwa menjaga habitat alami merupakan langkah paling efektif mencegah konflik antara satwa liar dan manusia.

BACA JUGA :  Cambuk Demi Hujan, Bukan Demi Konten! Tradisi Tiban “Badak Lampung” Menggila di Lampung Timur

“Apabila ekosistem hutan dataran rendah rusak dan populasi mangsa alami seperti kijang maupun kancil terus menurun, maka potensi Macan Tutul keluar dari kawasan hutan menuju permukiman akan semakin besar. Karena itu, menjaga habitat mereka menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Ancaman terhadap kawasan konservasi ini masih nyata. Berdasarkan penilaian konservasi IUCN tahun 2025, perburuan liar terhadap Badak Jawa pada periode 2019–2023 menyebabkan sekitar sepertiga populasi badak yang tersisa hilang. Selain itu, aktivitas perburuan satwa lain serta penangkapan ikan secara ilegal dengan cara-cara merusak juga masih menjadi tantangan serius bagi kelestarian kawasan.

BACA JUGA :  PSM Kalahkan Badak Lampung 4:0

Keberadaan Macan Tutul Jawa sesungguhnya menjadi indikator sehat atau tidaknya sebuah hutan. Selama predator puncak ini memiliki habitat yang utuh dan mangsa yang cukup, keseimbangan alam akan tetap terjaga. Sebaliknya, ketika rantai makanan mulai rusak, konflik satwa dengan manusia menjadi ancaman yang sulit dihindari.

Ujung Kulon bukan hanya rumah bagi Badak Jawa. Kawasan ini menyimpan jaringan kehidupan yang saling bergantung satu sama lain. ***