Scroll untuk baca artikel
Lingkungan Hidup

Baru Viral Jalan-Jalan, Kini Viral Disembelih! Tapir Dilindungi di Mesuji Tewas, Polisi Buru Pelaku

×

Baru Viral Jalan-Jalan, Kini Viral Disembelih! Tapir Dilindungi di Mesuji Tewas, Polisi Buru Pelaku

Sebarkan artikel ini
Seekor tapir (Tapirus indicus) yang sehari sebelumnya viral karena berkeliaran di jalan raya kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, ditemukan dalam kondisi mati dan diduga telah disembelih. - foto dok

MESUJI – Seekor tapir (Tapirus indicus) yang sehari sebelumnya viral karena berkeliaran di jalan raya kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, ditemukan dalam kondisi mati dan diduga telah disembelih. Peristiwa itu memicu kecaman publik sekaligus mendorong aparat kepolisian bergerak cepat memburu pelaku.

Ironisnya, satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut sebelumnya sempat digiring warga agar kembali masuk ke kawasan hutan maupun perkebunan sawit. Namun, tak lama setelah menjadi tontonan warga, tapir itu justru ditemukan tak bernyawa.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Video yang memperlihatkan bangkai tapir dengan kondisi diduga telah disembelih beredar luas di media sosial. Rekaman tersebut memancing beragam reaksi, mulai dari rasa prihatin hingga kemarahan masyarakat yang menilai satwa dilindungi itu seharusnya diselamatkan, bukan dibunuh.

BACA JUGA :  Marak Pungli di Lokasi Jembatan Ambrol Wilayah Mesuji

Kapolres Mesuji AKBP Muhammad Firdaus membenarkan pihaknya telah menerima laporan terkait dugaan penyembelihan satwa liar tersebut.

“Anggota sudah melakukan pengecekan ke lokasi, dan saat ini Satreskrim sedang melakukan penyelidikan serta memburu pelaku,” kata Firdaus, Kamis (2/7/2026).

Berawal dari Tapir Tersesat

Informasi yang dihimpun menyebutkan, tapir itu telah terlihat berkeliaran di sekitar permukiman warga sejak sehari sebelumnya.

Belum diketahui secara pasti penyebab satwa tersebut keluar dari habitat alaminya. Namun, kemunculan tapir di tengah permukiman diduga berkaitan dengan semakin menyempitnya habitat satwa liar akibat perubahan bentang alam maupun faktor lingkungan lainnya. Dugaan tersebut masih memerlukan kajian dari instansi terkait.

Alih-alih berhasil dievakuasi, satwa yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan itu justru diduga diburu hingga mati.

BACA JUGA :  Sampah Penuhi Pintu Air Rumah Pompa Kali Lengkak, Warga: Dulu Jaman Pak Pepen Respon Cepat!

Satir pahit pun bermunculan di media sosial. Banyak warganet menyebut tapir itu “salah alamat”. Keluar dari hutan untuk menyelamatkan diri, tetapi justru kehilangan nyawanya di tengah permukiman.

Polres Mesuji memastikan proses penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap siapa pihak yang bertanggung jawab atas kematian satwa dilindungi tersebut.

Selain mengumpulkan barang bukti, penyidik juga memeriksa sejumlah saksi yang mengetahui kronologi kemunculan hingga kematian tapir tersebut.

Tapir merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi negara.

Perlindungannya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Setiap orang yang dengan sengaja menangkap, melukai, membunuh, memiliki, maupun memperniagakan satwa dilindungi dapat dikenai sanksi pidana sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BACA JUGA :  International Day for Fight Against IUU Fishing, Seluruh Negara Diajak Bersatu Berantas IUU Fishing

Karena itu, Polres Mesuji mengimbau masyarakat agar tidak mengambil tindakan sendiri apabila menemukan satwa liar keluar dari habitatnya.

Langkah yang benar adalah segera melaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kepolisian, atau instansi terkait agar satwa dapat dievakuasi dengan aman tanpa membahayakan manusia maupun kelestarian satwa.

Kasus kematian tapir ini menjadi pengingat bahwa konflik antara manusia dan satwa liar semakin sering terjadi seiring menyusutnya habitat alami. Ketika hutan semakin sempit, satwa liar tidak sedang “bertamu” ke permukiman, melainkan sedang berjuang mencari ruang hidup yang kian terbatas.

Hingga berita ini diterbitkan, polisi masih memburu pelaku dan mendalami kronologi lengkap dugaan penyembelihan tapir tersebut.***