Scroll untuk baca artikel
BUDAYALAMPUNG TIMURUncategorized

Misteri Makam Kuno Ratu Meghandung di Lampung Timur, Jejak Keratuan yang Diyakini Jadi Awal Penyebaran Islam

×

Misteri Makam Kuno Ratu Meghandung di Lampung Timur, Jejak Keratuan yang Diyakini Jadi Awal Penyebaran Islam

Sebarkan artikel ini
Komplek pemakaman kuno keratuan Meghandung di Sekampung Udik, Lampung Timur
Komplek pemakaman kuno Keratuan Meghandung di Sekampung Udik, Lampung Timur, oleh warga masih ada kaitannya dengan Keratuan Pugung - foto dok

LAMPUNG TIMUR – Di balik hiruk-pikuk aktivitas Pasar Desa Merandung Sari, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, tersimpan sebuah kompleks makam kuno yang hingga kini masih menyelimuti rasa penasaran masyarakat.

Belasan nisan batu yang berdiri di lokasi itu tidak seperti makam pada umumnya. Bentuknya menyerupai batu karang atau batu keriting alami tanpa satu pun tulisan nama maupun penanda tahun. Usianya pun belum diketahui secara pasti.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bagi sebagian orang, kompleks makam itu hanyalah situs pemakaman tua. Namun bagi masyarakat adat dan para tetua kampung, tempat tersebut diyakini sebagai Makam Keramat Ratu Meghandung, peninggalan era Keratuan yang menjadi bagian penting dari sejarah lisan Lampung.

Konon, dari nama Ratu Meghandung Sang Dewa Ratu inilah kemudian lahir nama wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Merandung Sari.

Tak ada prasasti, tak ada catatan kerajaan yang menjelaskan secara rinci siapa saja yang dimakamkan di sana. Yang tersisa hanyalah kisah-kisah yang terus diwariskan dari mulut ke mulut selama ratusan tahun.

BACA JUGA :  Jejak Wali Unang di Tepian Way Sekampung: Dakwah Tak Pernah Mati, Makamnya Tak Pernah Sepi Diziarahi

Menurut penuturan para tetua kampung (Tiuh Tuho) Desa Toba, kompleks makam tersebut dipercaya menjadi tempat peristirahatan terakhir Ratu Meghandung Sang Dewa Ratu, yang disebut sebagai orang tua dari Batin Rio Sangguduk, sosok yang kemudian lebih dikenal dengan gelar Rajo Jalan.

Cerita rakyat menyebutkan, Batin Rio Sangguduk mempersunting putri dari Keratuan Pugung pada masa pemerintahan Temenggung Kalilatun. Setelah pernikahan tersebut, ia mendapat gelar kehormatan Rajo Jalan dari Keratuan Pugung.

Perjalanan sejarah lisan itu kemudian berlanjut ketika Rajo Jalan dikaruniai seorang putri bernama Sinar Kaca.

Kisah yang Dikaitkan dengan Datangnya Islam

Dalam cerita turun-temurun masyarakat, masa itu juga menjadi awal masuknya pengaruh Islam di wilayah tersebut.

Dikisahkan, Putri Sinar Kaca kemudian dipinang oleh Sunan Gunung Jati, sehingga Batin Rio Sangguduk bersama ayahnya, Sang Dewa Ratu, memeluk agama Islam.

Versi cerita yang sama juga menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Depati Pelebuh Kaco di Keratuan Pugung, putrinya yang bernama Putri Sinar Alam juga menikah dengan Sunan Gunung Jati.

BACA JUGA :  Pemkab Lampung Timur Gandeng NU, Bidik Hilirisasi Pertanian hingga Pasar Lebih Luas

Saat Keratuan Pugung mengalami kekosongan pemerintahan, Rajo Jalan dipercaya memimpin pemerintahan sementara atas amanah Depati Pelebuh Kaco.

Setelah itu, Putri Sinar Alam bersama Putri Sinar Kaca menetap di wilayah Meghandung dan, menurut cerita masyarakat, turut menyebarkan ajaran Islam bersama Rajo Jalan dan Sang Dewa Ratu hingga akhir hayat mereka.

Perlu dicatat, kisah tersebut merupakan tradisi lisan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dan belum seluruhnya didukung oleh bukti sejarah tertulis maupun hasil penelitian arkeologi.

Yang paling menarik perhatian dari kompleks makam ini adalah bentuk nisannya.

Batu-batu berwarna gelap itu tampak alami, menyerupai batu karang yang dipahat sederhana. Tidak terdapat nama, gelar, ataupun angka tahun sebagaimana makam modern.

Kesederhanaan itulah yang justru menambah aura misterius situs tersebut.

Banyak warga meyakini bentuk nisan menjadi penanda bahwa kompleks itu berasal dari masa yang sangat tua, meski hingga kini belum ada penelitian ilmiah yang menetapkan usia maupun asal-usul pastinya.

BACA JUGA :  Hadir di 7 Titik, Ini Jadwal Samsat Keliling Lampung Timur

Kini, harapan menjaga jejak sejarah itu datang dari generasi muda.

Sejumlah pemuda Desa Toba mulai bergotong royong membersihkan area makam, memangkas semak belukar, serta menjaga kelestarian situs agar tidak rusak ataupun terlupakan.

Upaya tersebut dilakukan setelah mendapat izin dari pemilik lahan yang selama ini dikenal masyarakat sebagai pihak yang merawat atau menjadi juru pelihara kompleks makam kuno tersebut.

Bagi mereka, makam kuno itu bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan warisan budaya yang menyimpan identitas sejarah masyarakat Lampung.

Terlepas dari benar atau tidaknya seluruh kisah yang berkembang, Kompleks Makam Keramat Ratu Meghandung tetap menjadi salah satu situs yang menyimpan daya tarik budaya, sejarah, dan spiritual di Lampung Timur. Situs ini menjadi pengingat bahwa banyak jejak masa lalu yang masih hidup melalui ingatan kolektif masyarakat, menunggu untuk diteliti, didokumentasikan, dan dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.***