Dari kisah dakwah abad ke-16, legenda Rio Lanang Kunno, hingga tradisi ziarah yang terus hidup di tepian Way Sekampung.
LAMPUNG TIMUR – Di tepian tenang Way Sekampung, di bawah rindangnya pepohonan dan tak jauh dari jembatan penyeberangan lama atau disebut jembat kenali yang menjadi saksi perjalanan zaman, terdapat sebuah makam tua yang tak pernah kehilangan tamunya. Warga mengenalnya sebagai Makam Wali Unang, sementara masyarakat adat setempat lebih akrab menyebutnya Wali Wenang.
Lokasinya sederhana. Secara administratif berada di Desa Gunung Agung, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur. Namun nilai sejarah dan spiritual yang dikandungnya jauh melampaui kesederhanaan itu.
Hanya sekitar seratus meter dari Jalan Lintas Ir. Sutami Sribhawono, makam tersebut seolah menjadi ruang sunyi di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang melintas. Siapa sangka, di balik keteduhan itu tersimpan kisah panjang tentang awal penyebaran Islam di Lampung khususnya warga adat Sekappung Limo Migo.
Dalam tradisi lisan masyarakat, Wali Unang diyakini sebagai seorang ulama yang hidup sekitar abad ke-16. Namanya selalu disebut ketika membicarakan sejarah masuknya Islam ke wilayah Sekappung Limo Migo.
Meski sumber tertulis mengenai sosoknya masih sangat terbatas, cerita turun-temurun tetap hidup dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat adat, kisah itu bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari identitas yang diwariskan oleh para leluhur.
Konon, setelah terjalin hubungan dengan salah satu keluarga Keratuan Darah Putih di Kalianda, datanglah panggilan dari “pulau seberang”. Dalam cerita masyarakat, saat itu diminta seorang utusan dari wilayah Sekappung Limo Migo.
Namun para pemuka adat kala itu dikisahkan menolak. Mereka berpegang pada sebuah ikrar lama bahwa apabila Kesultanan Banten menghadapi peperangan, maka orang-orang Lampunglah yang akan berada di barisan terdepan sebagai bentuk kesetiaan terhadap perjanjian yang telah disepakati para leluhur.
Di tengah perjalanan sejarah itulah muncul nama Rio Lanang Kunno, sosok yang dalam cerita rakyat dikenang sebagai bagian dari perjuangan menjaga amanah leluhur. Hingga kini kisah tersebut masih diceritakan dalam berbagai kesempatan adat.
Masyarakat lebih mengenang Wali Unang bukan karena kemegahan bangunan makamnya, melainkan karena teladan hidup yang diyakini pernah beliau tinggalkan.
Dalam tradisi Islam, para wali dikenal bukan karena banyaknya orang yang datang kepada mereka, melainkan karena besarnya kecintaan mereka kepada Allah dan pengabdian kepada umat.
Seorang sesepuh desa pernah berkelakar dengan gaya yang mengingatkan pada kisah-kisah para sufi.
“Kalau orang datang ke makam hanya minta kaya, mungkin dompetnya yang pulang senang. Tapi kalau pulang membawa akhlak yang lebih baik, itu baru rezeki yang sebenarnya.”
Candaan itu mengundang senyum, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa hakikat ziarah bukanlah meminta kepada penghuni makam, melainkan mengingat kematian, mendoakan orang-orang saleh, dan memperbaiki diri di hadapan Allah.
Barangkali itulah humor para sufi yang membuat orang tertawa lebih dulu, lalu diam karena tersadar.
Makam Wali Unang kerap didatangi peziarah. Mereka datang dari berbagai daerah di Lampung bahkan luar provinsi. Ada yang sekadar berziarah bersama keluarga, ada yang membaca Yasin dan tahlil, ada pula yang mengikuti kenduri atau doa bersama yang rutin digelar masyarakat.
Di sisi lain, berkembang pula berbagai keyakinan masyarakat bahwa berziarah ke makam tersebut dapat membawa kelancaran usaha, mempermudah rezeki, bahkan membantu meraih cita-cita tertentu.
Kepercayaan-kepercayaan semacam itu hidup sebagai bagian dari tradisi masyarakat. Namun para tokoh agama setempat terus mengingatkan agar ziarah tetap ditempatkan dalam koridor ajaran Islam, yakni untuk mendoakan orang yang telah wafat, mengingat kematian, serta mengambil teladan dari kehidupan para ulama terdahulu.
Selain menjadi lokasi ziarah, kawasan Makam Wali Unang juga menjadi pusat berbagai aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat.
Doa bersama, tahlilan, pengajian, hingga kenduri adat kerap dilaksanakan secara turun-temurun. Tradisi itu menjadi ruang pertemuan lintas generasi, tempat anak-anak mengenal sejarah kampungnya, sementara orang tua mewariskan nilai-nilai agama dan adat.
Bagi masyarakat Sekampung Udik, makam ini bukan sekadar kompleks pemakaman tua.
Ia adalah pengingat bahwa Islam di Lampung tumbuh melalui dakwah yang santun, keteladanan, dan penghormatan terhadap budaya lokal.
Jauh sebelum Kabupaten Lampung Timur berdiri dan masih menjadi bagian dari Kabupaten Lampung Tengah, kawasan ini masuk wilayah Desa Gunung Sugih Besar. Kini, meski administrasi telah berubah, jejak sejarah itu tetap melekat di ingatan masyarakat.
Di tepian Way Sekampung, angin masih berembus pelan melewati pusara tua itu.
Tak ada kemewahan. Tak ada pagar menjulang tinggi. Yang ada hanyalah doa-doa yang terus dipanjatkan, langkah kaki para peziarah yang silih berganti, serta harapan agar warisan dakwah para ulama terdahulu tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Mungkin benar kata para arif, seorang wali tidak pernah benar-benar pergi. Selama ajaran, akhlak, dan keteladanannya masih dikenang, selama itu pula ia tetap hidup di hati orang-orang yang mengambil pelajaran darinya.
Jejak yang Masih Hidup di Tepian Way Sekampung
Redaksi Wawai News berkesempatan berkunjung langsung ke kompleks Makam Wali Unang. Begitu melangkah memasuki kawasan yang berada di tepian Way Sekampung itu, suasana hening seketika menyelimuti. Semilir angin yang berembus dari aliran sungai berpadu dengan rindangnya pepohonan tua menghadirkan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.













