Sebuah feature sejarah budaya yang menelusuri kisah Keratuan Pugung, dakwah Sunan Gunung Jati, lahirnya Ratu Darah Putih, hingga berdirinya Keratuan Melinting. Disusun berdasarkan tradisi lisan, silsilah adat, dan catatan yang berkembang di lingkungan keturunan Keratuan Darah Putih.
Oleh: Redaksi
“Sejarah tidak selalu ditulis di atas batu. Sebagian hidup di dalam ingatan para tetua, diwariskan melalui hikayat, silsilah keluarga, dan cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.”
Begitulah kisah tentang Keratuan Pugung.
Sebuah kerajaan tua yang dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Taman Purbakala Pugung Raharjo, Kabupaten Lampung Timur. Di tempat itu, arkeologi berbicara melalui benteng tanah, menhir, dolmen, arca batu, hingga pecahan keramik kuno. Namun di balik temuan ilmiah itu, masyarakat adat Lampung juga mewariskan sebuah kisah yang hidup dari mulut ke mulut: tentang lahirnya Keratuan Melinting, Keratuan Darah Putih, dan hubungan mereka dengan penyebaran Islam di Tanah Lampung.
Tulisan ini merangkum salah satu versi hikayat yang berkembang di lingkungan keturunan Keratuan Darah Putih sebagaimana dipublikasikan dalam blog Keratuan Darah Putih dan dirangkum oleh WawaiNews. Sebagai tradisi lisan, kisah ini merupakan bagian dari memori budaya masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan kajian sejarah akademik.
Sebuah Keratuan Tua di Tanah Pugung
Dalam riwayat turun-temurun, Keratuan Pugung dipimpin oleh seorang tokoh bernama Ratu Galuh, yang juga dikenal sebagai Ratu Pelebuh Kaco atau Ratu Pugung.
Keratuan ini diyakini menjadi pusat kekuasaan masyarakat Lampung Timur pada masanya. Di bawah kepemimpinan Ratu Galuh, kawasan Pugung berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, sekaligus kebudayaan.
Namun, perubahan besar mulai terjadi ketika Islam memasuki wilayah Lampung.
Menurut tradisi yang berkembang di lingkungan Keratuan Darah Putih, orang pertama dari keluarga Keratuan Pugung yang memeluk Islam bukanlah sang raja, melainkan adiknya sendiri, Minak Raja Jalan.
Saat itu, tokoh yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati disebut belum tampil sebagai seorang sultan, melainkan dikenal masyarakat sebagai seorang tabib yang berkeliling melakukan pengobatan sekaligus menyampaikan ajaran Islam.
Pendekatan yang dipilih bukan melalui peperangan.
Melainkan melalui hubungan kemanusiaan.
Dakwah yang Berawal dari Ikatan Keluarga
Minak Raja Jalan kemudian menjadi pintu masuk penyebaran Islam di lingkungan Keratuan Pugung.
Ia memiliki seorang putri bernama Putri Kendang Rarang, yang dalam beberapa versi silsilah juga disebut Putri Sinar Kaca.
Putri inilah yang kemudian dipersunting oleh Sunan Gunung Jati.
Dari perkawinan tersebut lahirlah seorang putra bernama Minak Kejalo Bidien, yang dalam tradisi adat dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya Keratuan Melinting di wilayah Meringgai.
Ikatan pernikahan itu bukan sekadar menyatukan dua keluarga besar.
Ia juga membuka jalan bagi semakin luasnya penyebaran Islam di wilayah Lampung Timur.
Melalui hubungan kekerabatan tersebut, Ratu Pugung bersama masyarakatnya kemudian menerima ajaran Islam tanpa pertumpahan darah.
Tabib yang Ternyata Seorang Sultan
Setelah Keratuan Pugung memeluk Islam, menurut hikayat tersebut, Sunan Gunung Jati baru mengungkapkan identitasnya yang sesungguhnya.
Ia bukan sekadar seorang tabib.
Ia adalah Syarif Hidayatullah, Sultan Cirebon, cucu Prabu Siliwangi dari jalur ibunya, Nyai Rara Santang (Syarifah Mudaim), serta putra Syarif Abdullah, yang dalam silsilah Islam dipercaya memiliki garis keturunan hingga Nabi Muhammad SAW melalui Sayyidina Husain bin Ali.
Pengungkapan identitas itu semakin mempererat hubungan antara Keratuan Pugung dan Kesultanan Cirebon.
Putri Sinar Alam dan Lahirnya Garis Darah Putih
Versi lain dari hikayat yang berkembang menyebut Sunan Gunung Jati kemudian meminang Putri Sinar Alam, putri Ratu Pugung.
Prosesi adat berlangsung meriah.













