Scroll untuk baca artikel
ADVERTORIALBUDAYALAMPUNG TIMUR

1.000 Penari Mengguncang Nibung! Melinting Fest 2026 Buktikan Budaya Lampung Timur Bukan Sekadar Pajangan

×

1.000 Penari Mengguncang Nibung! Melinting Fest 2026 Buktikan Budaya Lampung Timur Bukan Sekadar Pajangan

Sebarkan artikel ini
Bupati Lampung Timur bersama istri Waki Bupati ikut turun menari bersama di acara Melinting Fest 2026 di Desa Nibung, Senin (24/8) - foto Jali

LAMPUNG TIMUR Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur, mendadak berubah menjadi lautan warna, gerak dan semangat kebudayaan, pada Senin (24/8/2026). Terlihat Bupati dan rombongan pun ikut turun menari ceria dalam event budaya tersebut.

Bukan konser musik dengan lampu panggung raksasa. Bukan pula festival yang mengandalkan kemewahan dekorasi. Namun, ketika 1.000 penari Tari Melinting bergerak serempak, satu pesan langsung terasa bahwa budaya Lampung Timur masih punya tenaga untuk membuat ribuan pasang mata terpukau.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Melinting Fest 2026 mengusung semangat, “Budaya Kita, Identitas Kita, Masa Depan Kita.” Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tetapi menjadi semakin penting di tengah zaman ketika generasi muda lebih cepat mengenali tren dari layar ponsel dibandingkan memahami warisan budaya di daerahnya sendiri.

Di Nibung, jawabannya diberikan bukan melalui seminar panjang.

Seribu penari yang bergerak bersama menjadi jawabannya.

Puncak kemeriahan Melinting Fest 2026 terlihat saat 1.000 penari tampil membawakan Tari Melinting.

Mengenakan busana bernuansa adat Lampung, para penari bergerak serempak dalam komposisi yang menciptakan pemandangan spektakuler.

Gerakan demi gerakan bukan sekadar koreografi.

Di tengah arus modernisasi, penampilan massal tersebut seolah menjadi pernyataan terbuka bahwa tradisi masih memiliki ruang di tengah masyarakat. Budaya tidak akan hidup hanya karena ditulis dalam buku atau dipajang di museum. Budaya harus dimainkan, dikenakan, dimasak, diwariskan dan yang paling penting dirayakan.

BACA JUGA :  Diam-diam Lapak Sabut Kelapa Milik WNA di Lahan Register 38 Lamtim, Sudah Beroperasi?

Melinting Fest 2026 mencoba menghadirkan semua itu dalam satu panggung besar.

Ribuan masyarakat, pelaku seni, tokoh adat, pemerintah daerah dan para tamu undangan pun melebur dalam suasana yang sama.

Bupati Ela Turun ke Tengah Keramaian

Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah turut hadir dan berbaur dengan masyarakat.

Kehadiran kepala daerah dalam festival budaya ini menjadi simbol penting bahwa kebudayaan tidak seharusnya hanya muncul ketika ada seremoni atau perayaan tahunan.

Budaya, jika ingin bertahan, harus memiliki ruang hidup.

Pemerintah daerah pun dituntut bukan hanya menjadi penonton dari kursi kehormatan, melainkan ikut memastikan tradisi memiliki kesempatan untuk terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melinting Fest menjadi ruang pertemuan antara masyarakat dan pemerintah, antara generasi tua yang menjaga tradisi dan generasi muda yang kelak menentukan apakah budaya tersebut terus hidup atau perlahan tinggal nama.

Pesan yang diusung pun terus bergema:

“Budaya Kita, Identitas Kita, Masa Depan Kita.”

Pesan itu menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar cerita masa lalu.

BACA JUGA :  Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili, Ribuan Warga Tionghoa Padati Tiga Vihara di Bandung

Ia juga bisa menjadi modal masa depan.

Mulai dari seni pertunjukan, busana adat, kuliner tradisional hingga kegiatan ekonomi kreatif, semua memiliki peluang untuk berkembang menjadi kekuatan baru bagi daerah.

Gulai Pengucangan, Bukti Dapur Bisa Jadi Urusan Bapak-Bapak

Jika 1.000 penari menjadi magnet utama, maka gulai pengucangan menjadi salah satu bintang lain dalam Melinting Fest 2026.

Kuliner khas masyarakat Melinting itu tidak hanya disajikan sebagai makanan tradisional, tetapi juga membawa cerita unik.

Di tengah suasana makan bersama, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim atau Nunik melontarkan celetukan yang langsung mencairkan suasana.

“Keren, gulai pengucangan makanan khas Melinting. Hanya dilakukan masak-masak oleh bapak-bapak, ibu-ibu terima beres,” celetus Nunik.

Kalimat itu disambut hangat.

Dan di situlah salah satu keunikan tradisi muncul.

Ketika urusan dapur yang selama ini sering dilekatkan kepada ibu-ibu, dalam tradisi gulai pengucangan justru bapak-bapak yang mengambil peran memasak.

Ibu-ibu tinggal terima beres.

Sebuah pembagian tugas yang, kalau dilakukan secara konsisten di banyak rumah, mungkin akan membuat sebagian bapak-bapak modern mulai mempertimbangkan kembali definisi “kepala rumah tangga”.

Namun di Melinting, tradisi tersebut bukan sekadar bahan candaan.

Gulai pengucangan menjadi bagian dari identitas masyarakat dan memperlihatkan bahwa kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk memahami budaya.

BACA JUGA :  Pemkab Lampung Timur Jajaki STM Otomotif, Siapkan SDM Siap Industri

Di satu meja, makanan menyatukan banyak orang.

Tidak ada pangkat yang terlalu tinggi untuk menikmati gulai. Tidak ada jabatan yang terlalu penting untuk duduk bersama.

Satu Meja, Banyak Tokoh, Satu Pesan

Momen kebersamaan juga terlihat ketika sejumlah tokoh duduk bersama dalam satu meja.

Di antaranya Bupati Lampung Timur Hj. Ela Siti Nuryamah, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Hj. Chusnunia Chalim, anggota DPRD Kabupaten Lampung Timur Yulida Saputri Ayu, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, anggota DPRD Provinsi Lampung Salsa, serta Ketua Mighul Lampung Bersatu Lampung Timur Hj. Huzaimah Azwar Hadi.

Kehadiran berbagai tokoh tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan memiliki kemampuan untuk mempertemukan banyak kepentingan dalam satu ruang.

Politik bisa berbeda. Jabatan bisa berbeda. Lembaga juga berbeda.

Tetapi ketika musik tradisional dimainkan, Tari Melinting bergerak dan makanan khas tersaji, semua kembali kepada satu identitas yang sama.

Lampung Timur.

Melinting Fest 2026 akhirnya bukan sekadar festival. Ia menjadi pengingat bahwa identitas daerah tidak dibangun hanya dengan slogan, tetapi dengan masyarakat yang masih mau menari, memasak, berkumpul dan bangga menyebut budayanya sendiri sebagai bagian dari masa depan.***