LAMPUNG TIMUR – Tiga hari lagi, Embung Kali Jodo di Tiyuh Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, tak lagi sekadar menjadi destinasi wisata. Tempat itu akan berubah menjadi panggung raksasa.
Seribu penari dijadwalkan bergerak dalam satu irama, satu hentakan dan satu semangat kebudayaan. Melinting Fest 2026 siap digelar mulai 24 Agustus 2026, membawa gaung budaya Marga Melinting ke hadapan masyarakat.
Bukan hanya soal festival.
Bukan pula sekadar mencari keramaian atau membuat panggung untuk berfoto.
Di balik ribuan langkah Tari Melinting, ada upaya untuk menjaga sesuatu yang jauh lebih tua dari usia festival itu sendiri yakni warisan leluhur agar tidak hanya menjadi cerita yang tersimpan di kepala generasi tua.
Dari Delapan Penari di Istana, Kini Menjadi Seribu di Tanah Sendiri
Puncak perhatian Melinting Fest 2026 akan tertuju pada pertunjukan 1.000 Tari Melinting.
Kepala Desa Nibung sekaligus pelaksana kegiatan dan tokoh budaya Melinting, Marlin, mengatakan persiapan pertunjukan kolosal tersebut telah mencapai sekitar 90 persen.
“Persiapan tari sudah 90 persen. Kami ingin penampilan ini apa adanya, namun benar-benar bisa menghipnotis para pengunjung,” ujar Marlin.
Menyatukan seribu penari tentu bukan seperti mengatur antrean di loket. Satu langkah yang terlambat bisa terlihat, satu gerakan yang berbeda bisa langsung mengubah pola.
Namun justru di situlah daya tariknya.
Seribu orang dengan latar belakang berbeda akan bergerak dalam satu tarian yang sama, membawa identitas budaya yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Melinting.
Pertunjukan ini juga menjadi perjalanan yang menarik bagi para pelaku seni Desa Nibung.
Pada 2022, sebanyak delapan penari asal Desa Nibung pernah tampil dalam rangkaian peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka.
Setahun kemudian, Sanggar Melinting Waway dari Desa Nibung kembali dipercaya menampilkan Tari Cetik Kipas Melinting dalam rangkaian peringatan HUT ke-78 RI.
Kini, skalanya berubah.
Dari delapan penari yang tampil di Istana, menjadi seribu penari yang menari di tanah sendiri.
Bukan berarti panggung di desa lebih kecil.
Sebab bagi sebuah kebudayaan, rumah sendiri kadang justru merupakan panggung yang paling penting.
Tari Melinting, Warisan Keratuan yang Terus Menari Melawan Zaman
Tari Melinting bukan sekadar rangkaian gerakan indah dengan iringan musik tradisional.
Tarian ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan melekat dengan identitas masyarakat Melinting.
Tari Melinting berkembang dari lingkungan adat Keratuan Melinting dan kemudian menjadi salah satu kekayaan seni tradisi Lampung yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada 2014, Tari Melinting telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori seni tradisi.
Namun Marlin menegaskan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mendapatkan pengakuan atau sertifikat.
Budaya harus terus dihidupkan.
Harus dimainkan.
Harus ditarikan.
Harus diperkenalkan kepada anak-anak dan generasi muda.
Sebab budaya yang hanya dipajang dalam dokumen pada akhirnya berisiko menjadi seperti barang antik: masih ada, tetapi tidak lagi disentuh.
Melalui Melinting Fest 2026, masyarakat ingin memastikan warisan leluhur itu tetap memiliki ruang untuk bernapas.
“Melalui festival ini, kami ingin menjaga dan melestarikan adat serta kebudayaan leluhur agar tetap dikenal,” ujar Marlin.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya Marga Melinting kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Pitu Tiyuh, Sai Mergo, Melinting Jayo!
Melinting Fest 2026 mengusung semangat:
“Jejamo gham ngeragemi Margo Melinting, Pitu Tiyuh, Sai Mergo, Melinting Jayo!”
Semangat itu menjadi simbol persatuan masyarakat dari tujuh tiyuh yang secara historis berada dalam lingkungan Marga Melinting.
Festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni.
Ia juga menjadi ruang pertemuan.
Tempat masyarakat bertemu sejarahnya.
Tempat generasi muda bertemu akar budayanya.
Dan tempat tradisi kembali diperkenalkan kepada mereka yang mungkin selama ini lebih akrab dengan layar telepon daripada sejarah kampung halaman.
Tidak ada yang salah dengan teknologi.
Tetapi sesekali, layar memang perlu kalah oleh panggung budaya.
Sebab algoritma bisa membuat sesuatu viral dalam sehari, tetapi warisan leluhur membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk tetap bertahan.
Ngulai Pengececangan hingga Pameran UMKM
Melinting Fest 2026 juga tidak hanya berbicara tentang tari.













