LAMPUNG TENGAH — Niat berkumpul dalam yasinan berubah menjadi petaka di Kampung Terbanggi Mulya, Kecamatan Bandar Mataram, Lampung Tengah. Sebanyak 61 warga mengalami gejala dugaan keracunan makanan, 34 di antaranya harus menjalani rawat inap dan satu warga, Nanik (42), meninggal dunia setelah menghadiri acara pada Sabtu (12/9/2026).
Korban mulai merasakan mual, muntah, diare, pusing hingga lemas sejak sekitar pukul 22.00 WIB. Jumlah warga yang sakit terus bertambah hingga Minggu sore.
Mereka tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan, mulai puskesmas, klinik hingga praktik tenaga kesehatan. Untuk sementara, 27 korban lainnya menjalani rawat jalan atau pemulihan di rumah.
Ironisnya, hidangan yang disantap warga bukan berasal dari katering besar. Makanan prasmanan untuk sekitar 20 jemaah disiapkan secara gotong royong oleh keluarga dan tetangga di rumah Yoto, Dusun 3 Blora.
Anak tuan rumah, Fajar, mengatakan hampir seluruh keluarganya ikut mengalami gejala serupa. Gotong royong yang biasanya identik dengan kebersamaan, kali ini justru berujung antrean fasilitas kesehatan.
Kepala Puskesmas Jatidatar Mataram, M. Prihatiningsih, mengatakan petugas awalnya belum mencurigai kejadian luar biasa karena warga datang secara bertahap dengan keluhan yang tampak seperti gangguan pencernaan biasa.
Namun, ketika pasien berdatangan semakin banyak, dugaan keracunan makanan mulai menguat.
Dinas Kesehatan Lampung Tengah kini mengamankan lima sampel makanan, yakni mi, urap, daging kambing, ayam dan jengkol untuk pemeriksaan laboratorium.
Kepala Dinkes Lampung Tengah dr. Benni Jeki Maruli menegaskan penyebab spesifik belum dapat dipastikan, apakah berkaitan dengan bakteri, zat kimia atau faktor lain. Karena itu, makanan tertentu belum bisa ditetapkan sebagai sumber keracunan sebelum hasil pemeriksaan keluar.
Dari 61 korban, 34 orang menjalani rawat inap, tersebar di RS Yukum Medical Center, RS Artha Bunda, sejumlah klinik, puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.
Sementara 27 korban menjalani rawat jalan atau pemulihan mandiri. Satu korban meninggal dunia dan dimakamkan keluarganya di Way Jepara, Lampung Timur.
Dinkes Lampung Tengah mengingatkan masyarakat bahwa memasak untuk acara besar bukan sekadar soal cukup rasa dan cukup porsi. Pengolahan, penyimpanan, kebersihan peralatan hingga pembagian makanan harus diawasi untuk mencegah kontaminasi silang.
Dinkes juga mendorong penyelenggara hajatan, tahlilan dan kegiatan warga berkoordinasi dengan Puskesmas serta memanfaatkan program Penyehatan Tempat Pengelolaan Pangan (TPP).
Kini teka-teki terbesar berada di laboratorium: apa yang membuat satu hidangan bersama berubah menjadi musibah massal? Pemkab Lampung Tengah belum menetapkan status KLB secara formal, sementara penanganan epidemiologis terus berjalan.
Satu hal sudah jelas, acara yang semestinya berakhir dengan doa kini meninggalkan pekerjaan rumah serius: keamanan pangan tak boleh dianggap urusan sepele hanya karena makanan dimasak secara gotong royong.***













