JAKARTA — Pergantian Menteri Keuangan akhirnya menyisakan satu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi di balik pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi bendahara negara?
Sehari setelah Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru, Purbaya memberikan sedikit gambaran mengenai apa yang mungkin menjadi salah satu faktor di balik berakhirnya masa jabatannya.
Bukan soal dividen Danantara. Bukan pula, menurut Purbaya, karena kebijakan yang bertentangan dengan Presiden.
Namun, ia mengakui perombakan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan menjadi salah satu penyebab dirinya dicopot.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya seusai menyerahkan jabatan kepada Suahasil dalam prosesi serah terima jabatan di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
“Sebagian ada (karena perombakan pejabat). Sebagian iya,” ujar Purbaya ketika ditanya apakah perombakan pejabat menjadi salah satu alasan pencopotannya.
Jawaban pendek itu justru membuka ruang pertanyaan panjang. Sebab, di balik struktur birokrasi Kementerian Keuangan, pergantian pejabat bukan sekadar urusan memindahkan kursi. Ia berkaitan dengan kendali, garis komando, dan siapa yang dipercaya menjalankan mesin fiskal negara.
Purbaya tidak mempersoalkan keputusan Presiden Prabowo.
Ia menegaskan reshuffle merupakan hak prerogatif kepala negara dan dirinya memilih menerima keputusan tersebut.
“Itu kan hak prerogatif presiden, kita ikuti saja,” katanya.
Ketika ditanya apakah pencopotannya berkaitan dengan kebijakan yang ia ambil selama menjabat, Purbaya kembali menegaskan bahwa kebijakan yang dijalankan Kementerian Keuangan pada dasarnya mengikuti arah Presiden.
“Kebijakan kita yang ikutin semua kebijakan Presiden, aman lah itu,” ujarnya.
Menariknya, Purbaya mengaku dirinya sebenarnya sudah memperkirakan kemungkinan kehilangan kursi Menteri Keuangan.
Ia menyebut peluang dirinya tetap bertahan dan dicopot berada di posisi “fifty-fifty”.
Namun, perkiraan itu berubah menjadi kenyataan ketika Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menghubunginya.
“Ya kita udah hitung-hitung, kira-kira fifty-fifty lah, tapi baru tahunya waktu itu,” kata Purbaya.
Dengan demikian, keputusan tersebut bukan sepenuhnya datang seperti petir di siang bolong bagi Purbaya. Ia mengaku sudah menghitung kemungkinan tersebut, meski waktu pasti keputusan itu baru diketahui ketika komunikasi resmi dilakukan.
Presiden Prabowo kemudian menunjuk Suahasil Nazara sebagai penggantinya. Suahasil sebelumnya merupakan Wakil Menteri Keuangan dan kini menerima mandat untuk melanjutkan pengelolaan fiskal negara.
Satu isu lain yang turut menjadi sorotan adalah polemik dividen Danantara.
Sebelum dicopot, Purbaya pernah menyampaikan bahwa Danantara berpotensi menyetorkan sekitar Rp120 triliun kepada kas negara. Wacana tersebut kemudian kembali menjadi perhatian setelah pergantian Menteri Keuangan. Kepala Danantara Rosan Roeslani menyatakan pihaknya masih akan membicarakan skema tersebut dengan Suahasil.
Namun ketika ditanya secara langsung apakah pencopotannya berkaitan dengan dividen Danantara, Purbaya menjawab singkat.
“Nggak ada,” tegasnya.
Dengan begitu, setidaknya berdasarkan pernyataan Purbaya sendiri, isu dividen Danantara bukan alasan pencopotannya.***











