JAKARTA – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia melontarkan bantahan keras atas tudingan yang menyeret namanya dalam dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Tak sekadar membantah, Bahlil mengancam menempuh jalur hukum dan memberikan tenggat waktu 3 x 24 jam kepada pihak yang menyebarkan tuduhan tersebut untuk membuktikannya.
Dengan nada tinggi, Bahlil menegaskan dirinya tidak akan tinggal diam ketika nama pribadi dan marwah Partai Golkar diseret dalam isu yang menurutnya dibangun tanpa bukti. Ia bahkan menantang aparat penegak hukum (APH) dan Polri mengusut tuntas dugaan penyadapan tersebut, termasuk membuka fakta mengenai siapa saja yang terlibat dalam pertemuan yang menjadi sumber tudingan.
Bahlil mengaku awalnya tidak terlalu memedulikan informasi yang menyebut ada ketua umum partai politik menggelar pertemuan dengan pihak tertentu selama sekitar tiga jam. Menurutnya, jumlah ketua umum partai politik cukup banyak sehingga informasi itu belum membuatnya merasa perlu bereaksi. Namun, situasi berubah ketika tuduhan mulai diarahkan kepadanya.
“Awalnya saya tidak peduli. Ketua umum partai kan banyak. Tetapi ketika pagi kok arahnya tuduhan ke saya, saya bilang apa maksudnya? Saya segera menyampaikan agar dilakukan klarifikasi dan dibuktikan,” tegas Bahlil.
Ia meminta pihak yang menyebarkan informasi tersebut tidak sekadar membangun persepsi melalui tuduhan yang terus berulang. Bahlil menilai tuduhan bahwa dirinya terlibat penyadapan merupakan persoalan serius yang tidak bisa diselesaikan dengan spekulasi atau permainan opini.
“Kalau memang ada rapat seperti yang dituduhkan, buka saja. Saya minta kepada pihak yang menyebarkan hoaks agar disampaikan secara jelas kepada APH dan Polri untuk diusut tuntas,” ujarnya.
Bahlil juga menyampaikan ultimatum. Jika dalam waktu 3 x 24 jam tuduhan tersebut tidak disertai bukti dan tidak diklarifikasi, ia menyatakan akan melayangkan somasi serta membawa persoalan itu ke jalur hukum.
“Kalau tidak, negara kita negara hukum. Saya akan menempuh jalur hukum,” katanya.
Di tengah polemik tersebut, Bahlil turut mengingatkan agar Partai Golkar tidak dijadikan sasaran permainan politik. Ia menyebut posisi elektoral partainya masih berada pada angka dua digit, dengan hasil survei yang menurutnya berkisar 10–11 persen.
Karena itu, ia meminta semua pihak berhati-hati agar tidak memainkan isu yang berpotensi mengganggu soliditas partai. Bahlil menegaskan tidak akan mundur sejengkal pun ketika menyangkut kepentingan dan kehormatan Golkar.
“Saya tidak akan mundur sejengkal pun untuk partai. Jangan uji nyali kita,” tandasnya.
Pernyataan paling keras Bahlil muncul ketika ia mempertanyakan logika tuduhan bahwa dirinya melakukan penyadapan, sementara ia sendiri mengaku menjadi sasaran penyadapan. Dengan gaya khasnya, ia menyebut tuduhan tersebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
“Bagaimana mungkin saya melakukan penyadapan sementara saya juga disadap? Ini ilmu abuleleke. Kreatif sedikitlah,” sindirnya.
Tak berhenti di situ, Bahlil membawa pembelaannya ke ranah karakter dan loyalitas. Ia menyebut dirinya memahami betul nilai kepercayaan dan kesetiaan yang menjadi pegangan dalam bekerja, sekaligus menolak keras anggapan bahwa dirinya memiliki karakter pengkhianat.
“Kalian pikir saya orang kampung, tidak paham? Kanda paham. Ciri karakter orang Timur dalam bekerja itu kepercayaan nomor satu, loyalitas. Tidak ada jiwa pengkhianat,” ucapnya.
Ia juga menegaskan latar belakangnya sebagai orang yang lahir di negeri para raja menjadi bagian dari prinsip hidup yang dipegangnya. Bahlil bahkan menyampaikan bahwa dirinya sudah memahami pola dan gaya pihak-pihak yang melontarkan tuduhan tersebut.
“Adik kau baru mau tulis, Kakak sudah baca. Saya sudah tahu gaya ini. Saya dilahirkan di negeri para raja, tidak ada jiwa pengkhianat,” katanya.
Menutup pernyataannya, Bahlil melontarkan kalimat bernada perlawanan yang menggambarkan sikapnya menghadapi tekanan politik. Ia menyebut tidak ada nahkoda hebat tanpa terik badai laut.
“Lebih baik mati di medan perang daripada jadi pengkhianat. Tidak ada nahkoda hebat tanpa terik badai laut. Sekali layar berkembang, pantang surut ke belakang,” tegasnya.***












