JAKARTA – Ancaman ikan asing invasif di perairan Indonesia semakin meluas dan menjadi perhatian serius. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa bukan hanya ikan sapu-sapu yang kini mendominasi sejumlah perairan, tetapi juga ikan cere yang populasinya berkembang tanpa kendali dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro, menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya merupakan salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas ikan air tawar terbesar di dunia.
Dari sekitar 15.750 spesies ikan air tawar global, sebanyak 5.114 spesies di antaranya terdapat di Indonesia. Namun, kekayaan ini kini menghadapi tekanan serius akibat masuknya spesies asing.
“Berdasarkan hasil riset, terdapat sekitar 247 jenis ikan asing di Indonesia dan sekitar 50 di antaranya sudah menyebar di perairan umum,” ujar Gema dalam Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie, Jakarta baru baru ini.
Salah satu spesies invasif yang paling menonjol adalah ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang berasal dari Sungai Amazon, Amerika Selatan. Ikan ini diduga masuk ke Indonesia pada periode 1970–1980 melalui perdagangan ikan hias, yang awalnya digunakan sebagai pembersih akuarium.
Namun, dalam perkembangannya, ikan ini justru menyebar luas ke berbagai sungai dan danau di Indonesia.
“Ikan sapu-sapu kini telah tersebar di berbagai perairan umum dan menjadi salah satu spesies invasif yang sulit dikendalikan,” jelasnya.
Ikan Cere dan Guppy Ikut Tak Terkendali
Selain sapu-sapu, ikan cere dan guppy juga menjadi perhatian. Kedua spesies ini awalnya didatangkan untuk tujuan pengendalian jentik nyamuk penyebab malaria.
Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, populasi keduanya justru berkembang pesat dan tidak terkendali.
“Guppy dan ikan cere yang dulu didatangkan untuk mengatasi malaria, kini justru berkembang liar di banyak perairan,” kata Gema.
Dampak Serius bagi Ekosistem dan Ekonomi
BRIN mencatat, sebagian besar spesies ikan asing masuk ke Indonesia akibat aktivitas manusia. Jalurnya beragam, mulai dari perdagangan ikan hias, introduksi ikan konsumsi, ballast air kapal, hingga kegiatan rekreasi seperti memancing.
Ikan invasif umumnya memiliki kemampuan adaptasi tinggi, berkembang biak cepat, serta tidak memiliki musuh alami di habitat barunya. Kondisi ini membuat mereka mampu bersaing dan menggeser spesies ikan lokal.
“Pada banyak kasus, ikan invasif bukan predator utama, tetapi kompetitor kuat yang mengganggu keseimbangan ekosistem perairan,” jelasnya.
Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat. Penurunan populasi ikan lokal bernilai tinggi turut mempengaruhi hasil tangkapan nelayan.
Selain itu, beberapa penelitian juga menemukan potensi kandungan logam berat serta bakteri Escherichia coli pada ikan invasif tertentu yang dapat berdampak pada kesehatan jika dikonsumsi tanpa pengolahan tepat.
BRIN Dorong Pengendalian dan Pencegahan
BRIN menegaskan perlunya langkah serius dalam pengendalian spesies invasif, mulai dari penangkapan rutin, riset siklus reproduksi, identifikasi musuh alami, hingga restorasi lingkungan perairan.
Selain itu, edukasi masyarakat dan penguatan regulasi juga dianggap penting untuk mencegah masuknya spesies asing baru.
“Sebagian besar spesies asing masuk karena aktivitas manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, mereka bisa menjadi invasif dan mengancam biodiversitas lokal,” tegas Gema.
BRIN menekankan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menjaga kelestarian ekosistem perairan Indonesia di masa depan.***







