Scroll untuk baca artikel
Persona

Selamat Jalan Bang Wiro, Wartawan Senior Lampung Timur yang Menghidupkan Banyak Jurnalis

×

Selamat Jalan Bang Wiro, Wartawan Senior Lampung Timur yang Menghidupkan Banyak Jurnalis

Sebarkan artikel ini
foto dok

LAMPUNG TIMUR – Dunia jurnalistik di Lampung kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Jurnalis senior sekaligus Pemimpin Redaksi Koran Pesona Lampung, Herman S Wira, meninggal dunia pada Sabtu (27/6/2026) sekitar pukul 05.00 WIB setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Kabar wafatnya pria yang akrab disapa Bang Wiro itu menyebar cepat di berbagai grup WhatsApp wartawan. Ucapan belasungkawa mengalir dari para sahabat, junior, hingga para pejabat yang mengenalnya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga almarhum diampuni segala dosanya, dijadikan kuburnya taman surga, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tulis salah satu pesan yang beredar.

Jenazah almarhum kemudian dibawa ke rumah duka di Desa Bojong, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur.

Kepergian Herman S Wira bukan sekadar meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga menyisakan ruang kosong di dunia pers Lampung . Ia adalah salah satu wartawan generasi awal yang percaya bahwa media bukan hanya bisnis, melainkan ruang pengabdian dan perjuangan.

BACA JUGA :  Pengadilan Niaga Medan Tegaskan Keabsahan IWO, Gugatan Kekayaan Intelektual Ditolak

Di saat banyak orang menjadikan profesi wartawan sebagai batu loncatan mencari kekuasaan dan kedekatan dengan penguasa, Bang Wiro justru memilih jalan yang lebih sunyi: membangun media dari bawah, membesarkan wartawan-wartawan muda, dan menjaga persahabatan.

Karier jurnalistiknya dimulai pada pertengahan tahun 2000-an dengan bergabung di sebuah tabloid. Merasa tidak sejalan dengan visi yang dipegangnya, ia kemudian memilih mendirikan media sendiri.

Pada tahun 2010, lahirlah Koran Mingguan Pesona Lampung.

Saat itu, Pesona Lampung masih rapuh. Modal terbatas, jaringan belum kuat, dan dunia media cetak mulai menghadapi gelombang perubahan digital. Namun Herman S Wira tidak menyerah.

Ia berkeliling dari satu kabupaten ke kabupaten lain, mengonsolidasi para biro, memberi arahan, membimbing para wartawan muda, dan menanamkan satu hal yang selalu diingat anak-anak didiknya bahwa wartawan harus punya kredibilitas dan karya tulis yang layak dibaca.

BACA JUGA :  Kisah Inspirasi, Pasangan Suami Istri di Rembang Berangkat Haji dari Hasil Jualan Keliling

Banyak jurnalis di Lampung hari ini, baik di media cetak maupun online, pernah merasakan didikan dan sentuhan tangan dinginnya.

“Beliau bisa merawat kebersamaan. Sosoknya bijak dan mampu mengayomi. Banyak mantan wartawan Pesona Lampung yang sampai sekarang tetap menjaga silaturahmi karena didikan beliau,” ujar Wahid Toba yang pernah dalam satu tim dan kini salah satu petinggi di Wawai News.

Bagi para juniornya, Bang Wiro bukan hanya pimpinan redaksi. Ia adalah guru, kakak, sekaligus orang tua.

Kandar, perwakilan Wawai News Lampung, mengenang almarhum sebagai sosok yang tak pernah kehilangan semangat.

“Beliau tetap eksis menjalankan dunia jurnalistik dengan Pesona Lampung. Bahkan saat kondisi kesehatannya menurun, pikirannya masih untuk media dan wartawan,” katanya.

Di kalangan birokrat, nama Herman S Wira juga bukan nama asing. Ia dikenal luas, dekat dengan banyak kalangan, namun tetap menjaga marwah profesi sebagai jurnalis.

Pada tahun 2024, ia sempat menunaikan ibadah umrah. Kepada rekan-rekannya, ia pernah berpesan bahwa mengejar dunia jangan sampai melupakan akhirat.

BACA JUGA :  Pimpinan Jamaah Aolia Ternyata Bukan Sosok Sembarang, Inilah Profil Mbah Benu?

“Kalau diberi rezeki dan umur panjang, nanti kita berhaji,” begitu kira-kira harapan yang pernah diucapkannya.

Namun Tuhan ternyata memiliki rencana lain.

Kini, sosok yang selama puluhan tahun menjaga nyala kecil jurnalistik di Lampung itu telah berpulang.

Di tengah zaman ketika banyak media tumbang, idealisme diperdagangkan, dan pers sering kehilangan arah, Herman S Wira memilih bertahan menjadi dirinya sendiri: seorang wartawan yang percaya bahwa ilmu harus diwariskan dan persahabatan harus dirawat.

Selamat jalan, Bang Wiro.

Tulisan-tulisanmu mungkin berhenti hari ini, tetapi jejakmu akan tetap hidup di ruang redaksi, di lembar-lembar koran yang pernah kau perjuangkan, dan di hati para wartawan yang pernah kau bimbing.

Semoga segala amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT dan ilmu yang engkau wariskan menjadi pahala yang terus mengalir.***