Scroll untuk baca artikel
Perikanan

Dulu Ikan Rakyat, Kini Raja Ekspor! Tilapia Indonesia Bikin Amerika dan Eropa Ketagihan

×

Dulu Ikan Rakyat, Kini Raja Ekspor! Tilapia Indonesia Bikin Amerika dan Eropa Ketagihan

Sebarkan artikel ini
ikan tilapia saat ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen global. Ikan tilapia dikenal sebagai Chicken of The Sea karena memiliki rasa yang ringan (mild) dan mudah diolah, dengan kandungan protein tinggi mencapai 20 hingga 29 gram per 100 gram sajian

JAKARTA – Siapa sangka ikan nila yang dulu akrab di warung pecel lele pinggir jalan kini berubah status menjadi primadona ekspor dunia. Di tangan pemerintah dan pelaku industri perikanan, tilapia Indonesia sekarang bukan sekadar lauk harian, melainkan komoditas global yang sukses menembus pasar Amerika Serikat hingga Eropa.

Kementerian Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia melalui Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) menegaskan tilapia atau ikan nila kini menjadi salah satu senjata baru ekspor perikanan nasional.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pemerintah tengah mendorong besar-besaran peningkatan produksi nila untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar internasional.

Strateginya tidak main-main. Pemerintah mengembangkan kawasan budidaya ikan nila salin (BINS) di Karawang sekaligus merevitalisasi tambak Pantura agar produksi tilapia nasional makin agresif.

“Program ini untuk meningkatkan kapasitas produksi nila nasional sekaligus memastikan seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional,” ujar Trenggono dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).

BACA JUGA :  DKP Lamsel Perlu Rp4 Miliar untuk Nelayan di 2020

Di pasar global, tilapia memang sedang naik daun. Ikan ini bahkan mendapat julukan “Chicken of The Sea” karena rasanya ringan, mudah diolah, dan cocok masuk ke berbagai menu modern.

Satirnya, di Indonesia ikan nila kadang masih dipandang sebagai lauk sederhana. Tapi di Eropa, ikan yang sama bisa berubah jadi menu fine dining dengan harga berkali lipat.

Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP Erwin Dwiyana menjelaskan tilapia Indonesia memiliki daya saing tinggi karena memenuhi standar mutu global yang sangat ketat.

Mulai dari GMP-SSOP, HACCP, Health Certificate hingga sertifikasi internasional seperti GLOBALG.A.P., ISO 22000, SQF, BAP, ASC dan BRC telah dikantongi eksportir Indonesia.

“Hari ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang zero penolakan,” ujar Erwin.

Kalimat “zero penolakan” itu penting. Sebab di pasar ekspor, satu masalah kecil soal kualitas bisa membuat produk langsung dipulangkan negara tujuan. Dan untuk urusan pangan internasional, negara maju terkenal jauh lebih galak dibanding kolom komentar media sosial.

BACA JUGA :  22 Kapal Ikan Ilegal Ditangkap Dalam Operasi Pengawasan di Enam Titik WPP

Menurut Erwin, kepatuhan terhadap standar global menjadi alasan utama mengapa tilapia Indonesia mulai dipercaya pasar dunia.

Keberhasilan itu salah satunya dirasakan Regal Springs Indonesia, produsen tilapia nasional yang berhasil memasok jaringan pub ternama Inggris, Greene King.

Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra, menyebut keberhasilan masuk pasar Eropa tidak datang secara instan. Perusahaannya harus memenuhi 37 sertifikasi internasional, termasuk ASC atau Aquaculture Stewardship Council.

“Dengan ASC, semua proses budidaya harus terukur, dicatat, dan dievaluasi. Mulai dari kualitas air, pemberian pakan, hingga kesehatan ikan,” jelasnya.

Transformasi ini membuat budidaya nila Indonesia bukan hanya mengejar kuantitas, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Di Inggris, tilapia Indonesia kini diolah menjadi berbagai menu premium mulai dari fish and chips hingga sajian boneless ala restoran mewah.

BACA JUGA :  Trenggono Lepas Jabatan di Agrinas dan KKIP

Ironinya terasa lucu: di kampung halaman, ikan nila sering dimakan sambil lesehan dan sambal dadak. Tapi di luar negeri, ikan yang sama bisa tampil elegan di atas piring putih dengan saus lemon butter dan harga setara setengah gaji harian pekerja.

Dari sisi bisnis, tilapia juga dinilai sangat kompetitif dibanding ikan putih lain seperti kod dan trout yang selama ini mendominasi pasar Eropa.

Dengan harga lebih bersaing, kualitas stabil, dan pasokan besar, tilapia Indonesia perlahan mulai merebut pasar global yang sebelumnya dikuasai negara lain.

Kini tantangannya tinggal satu: bagaimana memastikan booming ekspor ini tidak hanya menguntungkan industri besar, tetapi juga benar-benar meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan lokal di daerah.

Sebab sehebat apa pun ikan nila menaklukkan restoran Eropa, ujung keberhasilan sesungguhnya tetap ada di kolam-kolam rakyat tempat ikan itu pertama kali dibesarkan.***