JAKARTA – Di tengah mahalnya biaya pendidikan tinggi dan ramainya perdebatan soal kualitas riset di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) justru meluncurkan langkah yang cukup “tidak biasa”. Bukan sekadar membiayai kuliah doktor, tetapi juga mencoba meramu dialog lintas agama dalam satu meja akademik.
Melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) 2026, Kemenag resmi membuka program partnership beasiswa Doktor (S3) bekerja sama dengan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Yogyakarta.
Program ini bukan hanya menawarkan kuliah gratis jenjang doktoral, tetapi juga menargetkan lahirnya intelektual lintas agama berkelas global dengan perspektif lokal Indonesia.
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kemenag, Ruchman Basori mengatakan, program tersebut dirancang untuk memperkuat kontribusi kajian agama dalam menjawab tantangan dunia modern.
“Program ini menargetkan lahirnya doktor lintas agama berkelas global dengan perspektif lokal. Serta turut mempromosikan perdamaian, keadilan, dan keberlanjutan melalui studi agama interdisipliner,” ujar Ruchman di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Di saat dunia digital dipenuhi debat tanpa ujung di media sosial soal agama, identitas, dan intoleransi, program ini justru mengajak peserta duduk bersama dalam ruang akademik untuk berpikir lebih dalam, bukan sekadar saling menyerang di kolom komentar.
Melalui pendekatan interdisipliner, peserta didorong menghasilkan riset orisinal dengan metodologi mutakhir yang relevan dengan isu global, mulai dari perdamaian, keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, hingga hubungan antarumat beragama.
Ruchman menilai, Indonesia membutuhkan lebih banyak akademisi yang mampu membawa perspektif lokal ke level internasional tanpa kehilangan akar sosial dan budaya masyarakatnya.
“Kami ingin menghadirkan lulusan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu membawa perspektif lokal ke panggung global, terutama dalam membangun narasi keagamaan yang moderat dan solutif,” katanya.
Yang menarik, program ICRS ini menggabungkan kekuatan tiga kampus besar di Yogyakarta yang selama ini memiliki tradisi akademik berbeda.
Ketiga perguruan tinggi tersebut yakni Universitas Gadjah Mada, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Universitas Kristen Duta Wacana.
Lewat konsorsium tersebut, peserta dapat memilih program doktor sesuai minat studi masing-masing. Mulai dari Inter-Religious Studies di UGM, Islamic Thought and Muslim Societies di UIN Sunan Kalijaga, hingga program doktor teologi di UKDW.
Di tengah fenomena “gelar demi jabatan” yang kerap menjadi sindiran publik, program ini mencoba mengembalikan semangat doktoral sebagai ruang lahirnya gagasan dan penelitian yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Kemenag berharap program ini mampu melahirkan pemimpin intelektual baru yang dapat berkontribusi dalam transformasi sosial, baik di tingkat nasional maupun global.
Pendaftaran program dibuka hingga 31 Mei 2026.
Informasi lengkap mengenai syarat, jadwal, hingga kampus tujuan dapat diakses melalui:








