“Dalam waktu dekat ini kita akan sementara, mungkin melalui BPBD, melakukan pembuatan tanggul darurat,” ujar Suaidi.
Langkah tersebut menjadi penting karena kondisi cuaca masih menjadi faktor yang harus diwaspadai. Pemerintah daerah tidak ingin menunggu kerusakan semakin parah sebelum melakukan tindakan pengamanan.
Sementara itu, kebutuhan penanganan permanen akan dihitung secara teknis oleh pemerintah daerah. Bentuk pekerjaan nantinya disesuaikan dengan tingkat kerusakan, kondisi aliran sungai, serta kemampuan keuangan daerah.
Jika kebutuhan anggaran melampaui kemampuan APBD, Pemkab Tanggamus membuka kemungkinan mengusulkan dukungan kepada pemerintah pusat.
Warga Diminta Waspada, Pekon Harus Pantau Hulu
Di tengah proses penanganan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Way Belu diminta tidak lengah.
Warga diminta meningkatkan kewaspadaan terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Aparatur pekon juga diminta memperkuat komunikasi dengan wilayah di bagian hulu untuk mengetahui lebih cepat kemungkinan adanya peningkatan debit air.
“Imbauan kepada masyarakat supaya berhati-hati kalau ada hujan. Aparat pekon juga harus saling berkoordinasi dengan wilayah di atas,” jelas Suaidi.
Imbauan tersebut menjadi penting karena banjir sebelumnya telah menunjukkan bagaimana cepatnya luapan Way Belu berdampak ke wilayah hilir.
Banjir pada Selasa (22/9/2026) merendam permukiman warga dengan ketinggian air di sejumlah rumah diperkirakan mencapai 70 sentimeter. Selain rumah warga, fasilitas pendidikan juga terdampak, termasuk pagar SDN 1 Belu yang dilaporkan jebol sekitar 15 meter.***













