BANDAR LAMPUNG — Di tengah stigma mahasiswa hukum identik dengan tumpukan pasal, sidang semu, dan kopi begadang, seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) justru berhasil menembus salah satu program teknologi paling bergengsi di Indonesia.
Dia adalah Aidah Ike Indriani, mahasiswa Fakultas Hukum Unila yang resmi terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026.
Pencapaian ini terasa spesial karena Aidah menjadi satu-satunya wakil Universitas Lampung yang berhasil lolos dalam seleksi nasional super ketat yang diikuti lebih dari 81 ribu mahasiswa dari seluruh Indonesia.
Ya, 81 ribu peserta. Jumlah yang bahkan lebih ramai dibanding antrean diskon tanggal kembar di marketplace.
Dari puluhan ribu peserta tersebut, hanya 2.000 orang yang berhasil melaju ke tahap nasional. Setelah itu, peserta kembali disaring melalui evaluasi portofolio, CV, GSA Challenge, hingga wawancara mendalam untuk menguji visi, kreativitas, dan kemampuan inovasi di era digital.
Hasil akhirnya, hanya 150 delegasi terbaik yang dinyatakan lolos dan diundang mengikuti inaugurasi resmi di Jakarta. Aidah menjadi salah satunya.
Selama mengikuti kegiatan pada 23–24 April 2026, seluruh kebutuhan peserta ditanggung penuh oleh Google. Mulai dari tiket pesawat, hotel berbintang, hingga uang saku.
Namun bagi Aidah, pengalaman itu bukan sekadar soal fasilitas mewah atau foto estetik di SCBD.
Ia mengaku justru mendapatkan pelajaran besar tentang teknologi, kepemimpinan, hingga pentingnya membangun personal branding di era digital.
“Saya belajar bahwa AI itu hadir untuk membantu pekerjaan manusia agar lebih efisien, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir manusia,” ujar Aidah.
Pernyataan itu terasa relevan di tengah fenomena banyak orang yang kini lebih percaya hasil AI dibanding isi kepala sendiri.
Selama di Jakarta, Aidah mengikuti sejumlah agenda prestisius. Mulai dari inaugurasi resmi di MCP Space SCBD yang mempertemukan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai kampus elite Indonesia, hingga kunjungan eksklusif ke Kantor Google Indonesia.
Di sana, ia melihat langsung bagaimana budaya kerja perusahaan teknologi global dibangun: cepat, kreatif, kolaboratif, dan berbasis inovasi.
Bagi Aidah, pengalaman tersebut membuka cara pandang baru bahwa mahasiswa daerah juga punya peluang bersaing di level nasional bahkan internasional.
Tidak harus kuliah di kota besar untuk bisa menembus panggung teknologi dunia.
“Yang penting mau belajar, berani mencoba, dan konsisten membangun kemampuan,” katanya.
Ke depan, Aidah berkomitmen membagikan pengalaman dan pengetahuannya kepada mahasiswa lain di Universitas Lampung.
Ia ingin mendorong mahasiswa agar lebih akrab dengan teknologi digital dan memanfaatkan AI secara positif untuk mendukung aktivitas akademik maupun pengembangan diri.
Prestasi Aidah juga menjadi angin segar bagi dunia pendidikan tinggi di Lampung. Di tengah derasnya arus transformasi digital, mahasiswa dari daerah ternyata mampu membuktikan diri bahwa kualitas tidak selalu ditentukan alamat kampus atau seberapa sering nongkrong di coworking space Jakarta Selatan.
Kadang, talenta besar memang lahir dari kampus hijau di ujung Sumatera dan baru dilirik setelah berhasil bikin Google ikut menoleh.***










