TANGGAMUS — Di negeri yang gemar bicara pembangunan, sebuah sekolah di pelosok justru mengajarkan pelajaran paling dasar, kalau mau diperhatikan, harus viral dulu.
Kondisi memprihatinkan gedung kelas jauh SDN 1 Tanjung Raja di Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, akhirnya mencuri perhatian. Bukan karena program resmi, melainkan karena gerakan spontan, jurnalis dan konten kreator turun langsung, menggerakkan gotong royong.
Dari kejauhan, bangunan itu tidak menunjukkan identitasnya sebagai sekolah. Dindingnya tersusun dari papan kayu yang mulai rapuh dimakan usia, beberapa bagian tampak melengkung seolah tak lagi sanggup menahan waktu. Namun bendera merah putih tetap berkibar di depan kelas reyot itu.
Atap seng berkarat memantulkan panas siang hari, sementara lantai tanah menjadi saksi setiap langkah kecil anak-anak yang datang dengan sepatu penuh debu atau tanpa alas sama sekali. Namun di balik kesederhanaan itu, setiap pagi tetap ada kehidupan yang tumbuh.
Sekitar 15 anak duduk dalam satu ruangan yang sama. Dari kelas satu hingga kelas enam, mereka belajar tanpa sekat, tanpa batas jenjang yang lazim ditemui di sekolah lain. Suara mereka bercampur, membaca huruf, menghitung angka, dan sesekali tanya jawab yang tumpang tindih di udara yang sama.
Di depan mereka, hanya satu guru yang mengelola semuanya.
Apriana, seorang guru pembantu yang telah mengabdi selama 18 tahun, menjadi sosok yang menjaga agar ruang kecil itu tetap berfungsi sebagai sekolah. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga mengatur ritme belajar yang serba terbatas, memastikan setiap anak tetap mendapatkan giliran untuk didengar.
“Kalau bukan di sini, mereka harus berjalan jauh sekali,” begitu kira-kira alasan yang membuat ruang ini tetap hidup, meski jauh dari kata layak.
Perjalanan menuju tempat ini sendiri bukan hal yang ringan. Dari sekolah induk, jaraknya sekitar 10 kilometer. Namun angka itu tidak cukup menjelaskan apa yang sebenarnya dilalui, jalan menanjak dan menurun curam, lintasan tanah yang licin saat hujan, serta sungai kecil yang harus diseberangi sebelum sampai ke ruang belajar.
Di titik ini, pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga soal ketahanan fisik.
Kelas jauh ini berdiri bukan sebagai proyek formal yang direncanakan rapi di atas kertas, melainkan lahir dari kebutuhan yang sangat nyata. Bertahun-tahun lalu, warga berinisiatif membangun ruang sederhana agar anak-anak mereka tidak harus putus sekolah hanya karena jarak.
Mereka membeli lahan secara swadaya, mendirikan bangunan seadanya, dan membiarkan waktu memperlakukan struktur itu sebagaimana adanya: bertahan selama masih bisa. Namun waktu tidak selalu bersahabat.
Baru-baru ini, kondisi bangunan tersebut mulai menarik perhatian setelah sejumlah jurnalis dan konten kreator datang langsung ke lokasi. Mereka tidak hanya merekam, tetapi juga menginisiasi gerakan gotong royong untuk memperbaiki ruang belajar itu. Konsepnya sederhana, masyarakat menyumbang material, warga setempat menyumbang tenaga.
Di tengah keterbatasan sistem formal, solidaritas sosial kembali mengambil peran yang sangat nyata.
Pemerintah daerah menyatakan telah mengetahui kondisi tersebut. Namun, seperti banyak kasus serupa di wilayah lain, kendala administratif menjadi bagian yang tidak terhindarkan terutama soal status lahan yang belum tercatat sebagai milik pemerintah.
“Kalau lahannya sudah sesuai aturan, pembangunan bisa diproses,” begitu penjelasan yang mengalir dari sisi birokrasi.
Di antara penjelasan teknis itu, anak-anak di Batu Nyangka tetap melanjutkan hari mereka seperti biasa. Mereka tidak menunggu rapat, tidak menunggu keputusan anggaran, dan tidak menunggu prosedur selesai. Mereka belajar dengan cara yang mereka punya.
Di ruang yang sederhana itu, pendidikan tidak kehilangan maknanya. Justru sebaliknya, ia terlihat lebih mentah, lebih nyata, dan mungkin lebih jujur dibanding banyak ruang kelas lain yang lebih modern.
Karena di sini, sekolah bukan sekadar bangunan. Ia adalah hasil dari kompromi panjang antara harapan dan keterbatasan.
Dan setiap pagi, ketika pelajaran dimulai di bawah atap seng yang berkarat, satu hal tetap bertahan, keyakinan bahwa masa depan tetap layak diperjuangkan, bahkan dari ruang yang nyaris tak dianggap ada.
Seorang warga mengungkapkan, selama hampir dua dekade, bangunan tersebut jarang tersentuh bantuan nyata dari pemerintah.












