Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Hardiknas 2026: Saat Belasan Anak Tanggamus Belajar di Gubuk Lapuk, Negara Baru Datang Setelah Viral

×

Hardiknas 2026: Saat Belasan Anak Tanggamus Belajar di Gubuk Lapuk, Negara Baru Datang Setelah Viral

Sebarkan artikel ini
kondisi peserta didik di dalam ruangan saat mengikuti pelajaran - foto Sumantri

TANGGAMUS — Di saat spanduk Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 ramai dipasang dengan slogan “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, belasan anak di Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, justru masih belajar di bangunan yang lebih mirip gubuk kebun ketimbang ruang kelas.

Tampilkan Pos(buka di tab baru)

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pantauan langsung Wawai News, di lokasi terlihat dindingnya papan lapuk. Atapnya seng berkarat. Lantainya tanah. Ketika hujan turun, suara air lebih nyaring daripada suara guru mengajar. Namun di tempat sederhana itulah, mimpi anak-anak pelosok tetap dipaksa hidup meski nyaris tanpa fasilitas.

Ironisnya, perhatian terhadap kondisi kelas jauh SDN 1 Tanjung Raja itu baru benar-benar datang setelah viral di media sosial dan didatangi para jurnalis serta konten kreator.

Di tengah gegap gempita pidato Hardiknas, realitas di Batu Nyangka justru seperti tamparan keras bagi dunia pendidikan. Saat pejabat bicara transformasi digital dan sekolah pintar, di sudut Tanggamus masih ada anak-anak yang belajar dengan fasilitas ala “zaman darurat”.

BACA JUGA :  Terungkap! Kordes PIP di Tanggamus Diduga Sunat Bantuan Siswa Miskin, Dalih Jasa Pengurus

Sekitar 15 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 belajar dalam satu ruangan sempit tanpa sekat. Tidak ada proyektor. Tidak ada laboratorium. Bahkan untuk disebut ruang kelas layak pun masih jauh.

Yang lebih menyentuh, proses belajar mengajar selama bertahun-tahun hanya ditopang satu guru pembantu bernama Apriana, warga setempat yang sudah mengabdi selama 18 tahun.

Di tengah keterbatasan itu, masyarakat akhirnya bergerak sendiri. Pada Kamis, 30 April 2026, sejumlah jurnalis dan konten kreator datang ke lokasi membawa gagasan sederhana: gotong royong membangun sekolah.

Konsepnya pun khas Indonesia ketika negara lambat hadir rakyat urunan, warga jadi tukang, publik jadi donatur.

“Ini kita lagi nunggu RAB material dari masyarakat di sana untuk pengumpulan dana,” ujar salah satu relawan.

“Konsepnya publik bantu material, masyarakat bantu tenaga. Semangatnya gotong royong,” tambahnya.

Di negeri yang katanya menuju Indonesia Emas 2045, ruang kelas anak-anak di Batu Nyangka justru berdiri dengan semangat swadaya. Seolah pendidikan di pelosok masih bergantung pada rasa iba, bukan prioritas pembangunan.

BACA JUGA :  Tingkatkan Kompetensi Guru, SDN 1 Kanoman Gelar Workshop

Warga mengaku bangunan kelas jauh itu sudah berdiri sejak 2007. Namun selama hampir dua dekade, perhatian serius nyaris tak pernah datang.

“Baru kali ini kepala dinas datang langsung. Biasanya cuma ditinjau dari jauh,” kata seorang warga sambil tersenyum getir.

Kelas jauh itu lahir bukan karena proyek besar pemerintah, melainkan karena kebutuhan mendesak masyarakat. Jarak menuju sekolah induk mencapai sekitar 10 kilometer dengan medan ekstrem: tanjakan curam, turunan tajam, jalan tanah, hingga harus melewati sungai kecil.

Karena tak ingin anak-anak putus sekolah, warga akhirnya iuran membeli lahan dan membangun ruang belajar seadanya.

Guru Pendidikan Agama Islam SDN 1 Tanjung Raja, Agus Muzani, membenarkan kondisi tersebut.

“Jumlah siswa sekitar 15 orang dari kelas satu sampai kelas enam,” ujarnya pelan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus, Viktor, menyebut pemerintah sebenarnya memiliki rencana pembangunan. Namun proses terkendala status tanah yang belum menjadi aset pemerintah.

“Ke depan memang direncanakan dibangun, tapi kendalanya tanah bukan milik pemda. Syarat utama pembangunan tanah harus milik pemerintah,” jelasnya.

BACA JUGA :  Keluh Kesah Warga Lampung Akibat Listrik Padam Hampir 48 Jam, Kali Diserbu untuk BAB hingga Mandi

Ia menambahkan bantuan mobiler akan segera dikirim melalui APBD karena kelas jauh tersebut masih menjadi bagian SD induk.

Namun satu pernyataan Viktor justru menyentil realitas birokrasi pendidikan hari ini.

“Kebetulan ini lagi viral, jadi kami datang langsung ke lokasi,” katanya.

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup menggambarkan ironi pelayanan publik era digital: kadang suara rakyat kalah cepat dibanding suara viral.

Hardiknas tahun ini akhirnya terasa begitu kontras. Di satu sisi pemerintah bicara kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas SDM. Di sisi lain, masih ada anak-anak yang belajar di ruangan nyaris roboh sambil berharap suatu hari negara benar-benar hadir, bukan sekadar datang untuk dokumentasi.

Meski begitu, anak-anak Batu Nyangka tampaknya belum menyerah. Mereka tetap datang ke sekolah dengan sepatu berdebu dan semangat besar.

Karena bagi mereka, pendidikan bukan soal gedung megah atau pendingin ruangan. Pendidikan adalah harapan agar kelak hidup mereka tak sesulit jalan menuju sekolah hari ini.***