OPD Tidak Boleh Jalan Sendiri-sendiri
Persoalan lain yang digali DPRD Kota Depok adalah pola kolaborasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD).
Pemerintah Kota Bekasi menerapkan pola kerja terpadu dengan melibatkan perangkat daerah sesuai tugas dan kewenangannya.
Artinya, pembiayaan sebuah program tidak selalu harus dibebankan kepada satu OPD.
Jika sebuah kegiatan memiliki beberapa komponen pekerjaan, masing-masing perangkat daerah dapat mengambil bagian sesuai kewenangannya.
Sebagai contoh, ketika Dinas Kepemudaan dan Olahraga memiliki keterbatasan anggaran, perangkat daerah lain seperti Dinas Pekerjaan Umum maupun Dinas Pariwisata dapat mendukung aspek yang sesuai dengan tugas masing-masing.
Model seperti ini membuat sebuah program tidak harus berhenti hanya karena satu kantong anggaran sedang tipis.
Dalam bahasa sederhana: kalau pekerjaan dikerjakan bersama, jangan sampai anggarannya justru saling menunggu.
Sports City Bukan Sekadar Proyek Fisik
Konsep Sports City yang dibahas dalam pertemuan tersebut pada akhirnya tidak berhenti pada pembangunan fisik.
Yang menjadi perhatian adalah bagaimana kawasan olahraga dapat diintegrasikan dengan ruang publik, kegiatan ekonomi, UMKM, perdagangan dan jasa.
Dengan pendekatan tersebut, stadion dan kawasan olahraga diharapkan tidak menjadi aset yang hanya menghabiskan biaya pemeliharaan.
Sebaliknya, aset pemerintah dapat dioptimalkan untuk menciptakan aktivitas dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pendapatan juga dapat diperoleh dari pemanfaatan fasilitas seperti Gedung Olahraga (GOR) dan stadion untuk kegiatan olahraga profesional maupun kegiatan non-olahraga.
Pertandingan sepak bola tingkat nasional, konser, festival dan berbagai kegiatan berskala besar dapat menjadi sumber aktivitas ekonomi sekaligus meningkatkan pemanfaatan aset daerah.
Dari Korea Selatan hingga Konsep Sister City
Pemerintah Kota Bekasi juga menyampaikan pengalaman menjalin kemitraan internasional melalui konsep Sister City, termasuk dengan mitra dari Korea Selatan.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu upaya memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai pengelolaan kawasan olahraga terpadu dengan perspektif yang lebih luas dan berorientasi internasional.
Bagi pemerintah daerah, kerja sama seperti ini bukan sekadar urusan bertukar kunjungan atau foto bersama.
Pengetahuan mengenai pengelolaan kawasan, tata ruang, fasilitas publik dan aktivitas ekonomi dapat menjadi referensi dalam menyusun strategi pengembangan kota.
Parkir hingga Utilitas Juga Jangan Lupa Dikelola
Pembahasan juga menyentuh pengelolaan parkir dan utilitas secara profesional di kawasan terpadu.
Hal yang terlihat sederhana tersebut sebenarnya memiliki nilai ekonomi.
Ketika sebuah kawasan mampu mendatangkan ribuan bahkan puluhan ribu orang dalam sebuah kegiatan, pengelolaan parkir, fasilitas pendukung dan utilitas harus dirancang secara baik.
Jika dikelola secara profesional, fasilitas tersebut bukan hanya mendukung kenyamanan pengunjung, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Jadi, jangan hanya menghitung berapa gol yang tercipta di stadion.
Parkirnya berapa, UMKM-nya berapa, hotelnya terisi berapa, transaksi kulinernya berapa, dan berapa banyak uang yang berputar di sekitar kawasan—itu juga bagian dari “skor” ekonomi.
Depok Bawa Pulang Bahan Evaluasi
Kunjungan kerja Komisi B DPRD Kota Depok kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif bersama Pemerintah Kota Bekasi.
Berbagai informasi mengenai strategi pengembangan ekonomi perkotaan, optimalisasi aset daerah, pemberdayaan UMKM, Sports City, pengelolaan ruang publik hingga kolaborasi lintas OPD menjadi bagian dari diskusi.
Pemerintah Kota Bekasi menyambut baik kunjungan tersebut sebagai momentum memperkuat hubungan dan sinergi antarpemerintah daerah.
Sementara bagi DPRD Kota Depok, hasil kunjungan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus referensi dalam merumuskan kebijakan ekonomi daerah yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Pertemuan ditutup dengan foto bersama dan pertukaran cinderamata sebagai simbol penguatan hubungan kelembagaan.
Namun, inti dari kunjungan tersebut jauh lebih besar daripada sekadar cinderamata.
Ada sebuah pelajaran yang sedang dibawa pulang: aset kota tidak harus selalu menjadi beban anggaran. Jika dikelola dengan strategi yang tepat, stadion bisa menjadi pusat keramaian, ruang publik bisa menjadi pasar, UMKM bisa mendapatkan konsumen, dan kegiatan olahraga bisa berubah menjadi mesin ekonomi.
Tantangannya tinggal satu: memastikan konsep tersebut tidak berhenti sebagai bahan presentasi dan bahan kunjungan kerja.
Sebab warga tidak membutuhkan terlalu banyak slogan tentang ekonomi yang bergerak.
Mereka membutuhkan ekonomi yang benar-benar bergerak.












