Scroll untuk baca artikel
EKONOMIPERTANIAN

Pakan Ternak Makin Mahal, Nunik Geram: Peternak Terjepit, Pemerintah Jangan Cuma Berprogram!

×

Pakan Ternak Makin Mahal, Nunik Geram: Peternak Terjepit, Pemerintah Jangan Cuma Berprogram!

Sebarkan artikel ini
Anggota DPR RI dan Ketua Ketua DPW PKB Lampung Chusnunia Chalim - foto Jali

LAMPUNG – Peternak kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Harga pakan ternak yang terus merangkak naik membuat usaha semakin berat, sementara harga jual hasil ternak belum tentu mampu menutup ongkos pemeliharaan. Kondisi ini mendapat sorotan Anggota DPR RI, Chusnunia Chalim atau Nunik.

Mantan Wakil Gubernur Lampung dan Bupati Lampung Timur itu meminta pemerintah tidak hanya ramai menyampaikan program bantuan, tetapi juga turun tangan mengendalikan harga pakan yang menjadi kebutuhan utama peternak.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Melalui akun Threads, Senin (2/11/2026), Nunik mengaku menerima laporan dari staf mengenai kenaikan harga pakan yang mulai berlaku hari itu.

“Tadi pagi dapat laporan dari staf tentang kenaikan harga pakan yang berlaku mulai hari ini, yang menjadi keluhan,” tulis Ketua PKB Lampung ini.

BACA JUGA :  Beras Kadaluwarsa & Smart Commodity Dashboard

Ia menyayangkan kondisi di lapangan yang dinilai belum sejalan dengan berbagai program pemerintah yang kerap dipublikasikan. Menurutnya, kenaikan harga pakan justru semakin menekan peternak karena biaya produksi tidak lagi sebanding dengan hasil penjualan.

“Di konsumen harga naik, di peternak lebih parah lagi karena ongkos produksi nggak ketutup. Ini problem pakan, plis kendalikan harga pakan,” tulisnya.

Nunik bahkan menggambarkan kondisi peternak seperti berada di tengah himpitan biaya. Jika harga pakan terus naik tanpa langkah konkret, keberlangsungan usaha peternakan rakyat semakin terancam.

“Peternak mati di tengah kejepit… pliiissss tolonglah yang kongkrit nangani ini,” lanjutnya, sebagaimana dikutip Wawai News.

Keluhan tersebut bukan tanpa alasan. Pakan merupakan komponen penting dalam biaya pemeliharaan, terutama bagi peternak ayam pedaging dan petelur. Kenaikan harga sekecil apa pun dapat berdampak besar ketika pembelian dilakukan rutin dalam jumlah besar.

BACA JUGA :  Gubernur Lampung Mirza Kirim “Surat Sakti” ke DPR & Presiden Prabowo: Begini Isinya

Data kisaran harga pasar yang dihimpun dalam bahan berita menunjukkan pakan ayam pedaging jenis starter dan grower tertentu dijual sekitar Rp410.000 hingga Rp450.000 per karung 50 kilogram. Sementara pakan ayam petelur berbentuk konsentrat berada di kisaran Rp440.000 hingga Rp490.000 per karung.

Untuk pakan komplit ayam petelur, harganya berkisar Rp340.000 hingga Rp380.000 per karung. Adapun konsentrat sapi potong berada pada kisaran Rp160.000 hingga Rp220.000 per karung 50 kilogram.

Bahan baku seperti jagung, dedak, dan bungkil kedelai juga menjadi penentu biaya produksi peternak yang meracik pakan sendiri. Kisaran harga jagung pakan dalam data tersebut mencapai Rp7.500–Rp8.500 per kilogram, sedangkan dedak sekitar Rp3.800–Rp6.000 per kilogram, bergantung kualitas dan wilayah.

BACA JUGA :  Dualisme Dekopin Selesai, Nurdin Halid Diminta Segera Jalin Komunikasi

Perbedaan angka dalam data harga tersebut menunjukkan bahwa harga di tingkat produsen, grosir, dan eceran tidak selalu sama. Karena itu, diperlukan pemantauan langsung dan data resmi yang diperbarui agar kebijakan pengendalian harga tidak sekadar berdasarkan laporan di atas meja.

Sorotan Nunik sekaligus menjadi pengingat bahwa keberpihakan kepada peternak tidak cukup diukur dari banyaknya program yang diumumkan. Peternak membutuhkan langkah nyata: harga pakan yang terjangkau, pasokan bahan baku yang terjaga, serta pengawasan distribusi agar biaya produksi tidak terus membengkak.

Sebab, ketika harga pakan terus naik, yang terancam bukan hanya keuntungan peternak. Ada usaha keluarga, pekerja kandang, dan pasokan pangan masyarakat yang ikut dipertaruhkan.***