BEKASI — Stadion biasanya identik dengan sepak bola, tribun penuh suporter, dan suara peluit wasit. Tetapi Pemerintah Kota Bekasi melihatnya dari sudut yang berbeda: bagaimana stadion, kawasan olahraga, ruang publik dan aset daerah bisa ikut “bermain” dalam menggerakkan roda ekonomi kota.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik ketika Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe menerima kunjungan kerja rombongan Komisi B DPRD Kota Depok di Ruang Rapat Wakil Wali Kota Bekasi, Kompleks Pemerintah Kota Bekasi.
Rombongan DPRD Kota Depok dipimpin Hj. Yeti Wulandari selaku koordinator Komisi B dan H. Hamzah selaku Ketua Komisi B.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat. Namun, di balik dialog dan pertukaran cinderamata, ada agenda yang cukup serius: menggali strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian masyarakat perkotaan.
DPRD Kota Depok datang bukan sekadar untuk bertamu. Mereka membawa misi mengumpulkan data, informasi, pengalaman, sekaligus strategi yang diterapkan Kota Bekasi dalam mengelola potensi ekonomi perkotaan.
Stadion Jangan Hanya Ramai Saat Ada Pertandingan
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian adalah konsep Sports City.
Pemerintah Kota Bekasi memandang kawasan olahraga dan stadion bukan hanya sebagai fasilitas olahraga yang hidup ketika pertandingan berlangsung.
Kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi ruang publik multifungsi yang mampu menarik masyarakat, menghidupkan perdagangan dan jasa, sekaligus menciptakan sumber aktivitas ekonomi baru.
Logikanya sederhana.
Kalau stadion hanya ramai ketika ada pertandingan, berarti sebagian besar waktunya berpotensi menjadi ruang yang “tidur”.
Sebaliknya, jika kawasan olahraga dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, maka denyut ekonominya bisa berlangsung lebih sering.
Dari pertandingan sepak bola, konser musik, festival, kegiatan komunitas hingga aktivitas masyarakat berskala besar, kawasan olahraga dapat menjadi magnet yang mendatangkan orang dari berbagai wilayah.
Dan ketika orang datang, biasanya ada cerita lain yang ikut bergerak: kuliner, parkir, hotel, pusat perbelanjaan, transportasi hingga jasa lainnya.












