LAMPUNG TIMUR – Video penangkapan dramatis yang viral di media sosial dan dikaitkan dengan kasus penembakan anggota Intel Polda Lampung terus memicu spekulasi liar. Bahkan, sejumlah akun media sosial hingga konten kreator lokal ramai menyebut pelaku yang ditangkap merupakan warga Gunung Mekar, Kecamatan Jabung, Lampung Timur.
Namun Kepala Desa Gunung Mekar, Edi Prayitno, langsung meluruskan informasi tersebut. Ia menegaskan, pria yang diamankan aparat bukan warga desanya maupun warga Kecamatan Jabung.
“Banyak yang menghubungi saya menanyakan siapa yang ditangkap. Saya pastikan bukan warga sini atau Kecamatan Jabung. Informasinya warga Pesawaran, tapi lebih jelasnya silakan tanya langsung ke polisi,” tegas Edi kepada Wawai News, Selasa (12/5/2026).
Menurut Edi, informasi yang berkembang di media sosial sudah melebar ke mana-mana, bahkan berubah seolah penangkapan dilakukan melalui penggerebekan rumah warga di Gunung Mekar. Padahal, berdasarkan keterangan warga dan aparat di lapangan, penangkapan terjadi di jalan depan lapangan desa, bukan di rumah warga.
“Bukan penggerebekan rumah. Penangkapannya di jalan, tepat di depan lapangan Desa Gunung Mekar,” jelasnya.
Edi juga mengungkapkan, berdasarkan informasi warga, saat penangkapan berlangsung terdapat dua orang yang berada di atas satu sepeda motor. Namun hanya satu orang yang berhasil diamankan, sementara satu lainnya disebut berhasil melarikan diri.
“Katanya ada dua orang, satu berhasil lolos,” ujarnya.
Menariknya, menurut Edi, aparat dari Polsek Jabung sendiri sempat menanyakan langsung kepadanya terkait kejadian tersebut. Hal ini menunjukkan operasi penangkapan diduga melibatkan tim gabungan di luar wilayah setempat.
Pernyataan senada disampaikan tokoh pemuda Kecamatan Jabung. Ia memastikan hingga saat ini belum ada informasi mengenai warga dari tiga desa induk Kecamatan Jabung yakni Negara Batin, Jabung, dan Negara Saka yang ditangkap dalam operasi tersebut.
“Sampai sekarang belum ada informasi warga Jabung yang ditangkap di Gunung Mekar. Dari aparat juga disebut bukan warga sini, penangkapannya di jalan,” katanya.
Akibat narasi yang terlanjur viral, perdebatan pun pecah di media sosial. Banyak warga Jabung turun langsung ke kolom komentar berbagai akun untuk meluruskan informasi yang dinilai menyesatkan. Mereka keberatan karena nama wilayah Jabung disebut-sebut seolah identik dengan pelaku kriminal, padahal identitas resmi belum diumumkan kepolisian.
Sebagian warga bahkan menyayangkan munculnya klaim sepihak dari sejumlah akun dan konten kreator yang dianggap terlalu cepat menyimpulkan tanpa klarifikasi.
“Warga sini sampai capek klarifikasi di komentar. Belum tentu benar tapi sudah ramai menuduh,” warga Jabung lainnya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana “pengadilan netizen” sering berjalan lebih cepat dibanding proses penyidikan resmi. Video baru beredar beberapa jam, tetapi identitas, asal daerah, hingga kesimpulan kasus sudah diputuskan publik digital.
Padahal hingga saat ini, kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait identitas terduga pelaku maupun keterkaitannya dengan kasus penembakan polisi di Bandar Lampung.
Diketahui, suasana di sekitar lapangan dan Masjid Agung Desa Gunung Mekar mendadak gempar pada Senin (11/5/2026) sekitar pukul 13.00 WIB. Rentetan suara tembakan terdengar ketika gabungan anggota Polda Lampung dan Polres Lampung Timur melakukan penyergapan terhadap terduga pelaku curanmor.
Aksi penangkapan berlangsung cepat dan menegangkan. Seorang pria berhasil diamankan dan langsung dibawa menggunakan mobil hitam.
Warga sekitar mengaku panik saat mendengar suara letusan senjata api di tengah aktivitas siang hari.
“Katanya penggerebekan begal yang nembak polisi di Bandar Lampung kemarin,” ujar salah seorang warga.
Sementara warga lainnya mengaku gemetar mendengar suara tembakan.
“Takut mas, saya gemetar dengar letusan senjata,” kata warga.
Kasus ini kembali menjadi contoh bagaimana derasnya arus informasi digital bisa dengan cepat membentuk opini publik, bahkan sebelum fakta resmi diumumkan aparat penegak hukum.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah menyimpulkan informasi hanya berdasarkan video viral dan narasi media sosial. Sebab dalam banyak kasus, lokasi kejadian bisa benar, tetapi identitas dan cerita di baliknya belum tentu sesuai kenyataan.***












