Scroll untuk baca artikel
OlahragaPENDIDIKAN

Kisah Maulana Rifky, Mahasiswa S2 Unesa Borong 4 Medali Asian Para Games 2026, Pecahkan Rekor Asia demi Keluarga

×

Kisah Maulana Rifky, Mahasiswa S2 Unesa Borong 4 Medali Asian Para Games 2026, Pecahkan Rekor Asia demi Keluarga

Sebarkan artikel ini
Perenang Indonesia Maulana Rifky Yavianda saat mengikuti latihan resmi cabang olahraga Renang Asian Para Games 2026 di General Gymnasium Rainbow Pool, Nagoya, Jepang, Kamis (15/10/2026). Sebanyak 12 perenang Indonesia mulai menjalani latihan resmi dan mencoba venue pertandingan renang Asian Games 2016 Aichi-Nagoya yang digelar pada 19 hingga 23 Oktober. NPC INDONESIA/Mohammad Ayudha Foto: NPC INDONESIA/MOHAMMAD AYUDHA

NAGOYA — Empat medali berhasil dibawa pulang Maulana Rifky Yavianda dari Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Mahasiswa S2 Manajemen Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu menyabet dua emas dan dua perak, sekaligus memecahkan rekor Asia. Di balik prestasi tersebut, ada istri dan anaknya yang baru berusia 10 bulan sebagai sumber ketenangan saat menghadapi tekanan kompetisi.

Rifky membuka raihan emas Indonesia pada Senin (19/10/2026) lewat nomor 100 meter gaya bebas putra S12. Ia mencatat waktu 55,34 detik, unggul 0,10 detik dari perenang Uzbekistan Dmitriy Khorlin. Perenang tuan rumah Jepang, Genki Saito, finis di posisi ketiga.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Emas keduanya diraih dari nomor 100 meter gaya punggung putra S12 dengan catatan waktu 1 menit 3,07 detik. Hasil itu memecahkan rekor Asia sebelumnya, yakni 1 menit 3,46 detik, yang dipegang Saito sejak Mei 2026. Saito harus puas di posisi kedua dengan waktu 1 menit 3,76 detik, disusul Khorlin dengan 1 menit 5,77 detik.

BACA JUGA :  Perang Melawan Narkoba, GRANAT Lamtim Gelar P4GN di Sekampung Udik

Dua medali perak melengkapi koleksi Rifky, masing-masing dari nomor 100 meter gaya kupu-kupu S12 putra dan 50 meter gaya bebas S13 putra. Raihan empat medali itu melampaui target pribadinya, meski sejak awal tim pelatih tidak secara khusus membebankan target emas.

“Jujur, kalau berangkat dari sini sebenarnya target dari pelatih juga nggak ada. Untuk target diri sendiri itu ada. Cuma setelah sampai sini, lihat lawan-lawan, ya sempat deg-degan,” kata Rifky, dikutip dari laman Unesa.

BACA JUGA :  Dugaan Skandal Dana KIP Kuliah Unisla Metro: Mahasiswa Diintimidasi?

Di tengah persaingan, Rifky mengaku keluarga menjadi sumber motivasi terbesarnya. Sebelum berangkat ke Jepang, ia berusaha meluangkan lebih banyak waktu bersama istri dan anaknya. Selama berada di Jepang, panggilan video menjadi cara sederhana untuk mengobati rindu sekaligus menjaga ketenangan.

“Untuk istri dan anak, nggak ada yang lain motivasi saya bisa berenang lepas, berusaha semaksimal mungkin. Itu yang bikin motivasi saya, bikin tambah tenang,” ujarnya.

Pada nomor gaya punggung, Rifky memilih lebih menikmati perlombaan dan memusatkan perhatian pada performanya sendiri. Ia tidak larut dalam tekanan menghadapi lawan-lawan kuat. Pendekatan itu membantunya tampil lebih rileks hingga mencatatkan rekor Asia.

BACA JUGA :  Kenal di Telegram, Berujung Jadi Tersangka! Mahasiswa di Bandar Lampung Ditangkap dalam Kasus Dugaan Persetubuhan Anak

Empat medali tersebut kini menjadi modal sekaligus pemacu bagi Rifky untuk meningkatkan kualitas latihan dan mempertajam catatan waktu. Target berikutnya sudah mengarah ke Paralimpiade Los Angeles, dengan kerja keras dan disiplin sebagai bekal.

“Latihan sekeras mungkin. Jangan lupa berdoa. Usaha dan doa, nanti hasil Allah yang menentukan,” ucapnya.

Prestasi Rifky menunjukkan bahwa di balik angka pada papan waktu dan medali di podium, ada perjuangan menjaga fokus, menghadapi tekanan, serta merawat motivasi dari jauh. Bagi perenang Indonesia itu, dukungan keluarga bukan sekadar penyemangat, melainkan salah satu alasan untuk terus memberikan yang terbaik.