Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Dari Anak Desa Nyaris DO hingga Punya 1.000 Karyawan: Danang Setya Pulang Kampung, Tampar Mental Minder Anak Zaman Now

×

Dari Anak Desa Nyaris DO hingga Punya 1.000 Karyawan: Danang Setya Pulang Kampung, Tampar Mental Minder Anak Zaman Now

Sebarkan artikel ini
Acara perpisahan dan pelepasan peserta didik kelas IX SMPN 1 Gunung Pelindung, Angkatan ke-21 dihadiri langsung oleh Alumni Danang setia Owner HS Sumatera, Sabtu (23/5) - foto Jali

LAMPUNG TIMUR — Di tengah zaman ketika banyak orang sibuk pamer kesuksesan di media sosial sambil cicilan motor belum lunas, seorang alumni SMP dari desa di Lampung Timur justru datang membawa tamparan realitas yang cukup keras, sukses itu bukan soal lahir di kota, bukan soal feed Instagram, dan kadang juga bukan soal panjang gelar.

Adalah Danang Setya, alumni tahun 2011 UPTD SMPN 1 Gunung Pelindung, yang hadir dalam acara pelepasan siswa kelas IX, Sabtu (23/5/2026).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kehadirannya bukan sekadar nostalgia mantan siswa pulang ke sekolah. Tetapi seperti alarm keras bagi generasi muda yang terlalu cepat minder hanya karena lahir di desa dan sinyal internet kadang masih kalah cepat dibanding ayam pulang kandang.

Di hadapan wali murid, guru, perangkat desa, dan para siswa, Danang bicara lugas tanpa gaya motivator seminar Rp500 ribu per kursi.

“Jangan minder karena kita berasal dari desa. Kita harus mampu bersaing dan wajib melek teknologi agar tidak tertinggal perkembangan zaman,” ujarnya.

BACA JUGA :  Dua Warga Asahan Jadi Korban Penodongan di Jabung

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di era sekarang, ketika banyak anak muda lebih sibuk mengejar viral daripada skill, nasihat itu terasa seperti sindiran terbuka.

Danang mengaku hidupnya jauh dari cerita sukses instan ala konten “umur 20 sudah punya perusahaan”.

Ia pernah kuliah, tetapi hanya sampai semester dua sebelum akhirnya drop out karena keterbatasan biaya.

“Saya sebenarnya hanya lulusan SMA,” katanya.

Namun justru dari titik itulah hidupnya mulai ditempa.

Ia pernah bekerja serabutan, menjalani bisnis kayu, jatuh bangun mencari arah hidup, sampai akhirnya membangun usaha sendiri.

Sebuah realitas yang sering terlupakan di zaman sekarang, tidak semua orang punya privilege untuk fokus mengejar mimpi sambil ngopi estetik dan healing tiap akhir pekan.

Sebagian orang harus bertarung dulu dengan keadaan.

Sekarang Punya 1.000 Karyawan, Bukan 1.000 Followers

Danang kini dikenal sebagai pemilik HS Sumatera dan mengaku memiliki sekitar 1.000 karyawan.

Ia juga tengah mengembangkan sejumlah unit usaha baru, termasuk pabrik air minum dan perusahaan rokok di Desa Nibung yang disebut akan membuka ribuan lapangan pekerjaan.

BACA JUGA :  Libur ke Sekolah di Lamtim Diperpanjang

“Yang penting punya kemauan untuk bekerja,” ujarnya.

Kalimat itu mungkin terdengar biasa.

Tetapi di tengah budaya hari ini yang kadang lebih menghargai estetika CV daripada etos kerja, ucapan itu terasa menampar.

Karena faktanya, banyak orang ingin gaji besar tetapi alergi tekanan. Mau sukses cepat, tetapi mentalnya rapuh seperti sinyal WiFi saat hujan.

“Sekarang Banyak Orang Pintar, Tapi…”

Puncak sindiran Danang muncul ketika ia membahas soal pendidikan dan karakter.

“Sekarang banyak orang pintar, tapi kalau pintarnya hanya untuk diri sendiri, itu tidak ada manfaatnya,” katanya.

Satu kalimat yang terasa seperti menyindir satu generasi penuh.

Generasi yang IPK-nya tinggi, tetapi empatinya tipis.

Rajin update LinkedIn, tetapi lupa membantu lingkungan sekitar.

Pintar debat di media sosial, tetapi bingung menghadapi kenyataan hidup.

Danang tampaknya ingin mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan cuma soal gelar, melainkan tentang cara manusia berguna bagi orang lain.

BACA JUGA :  “Raker Rasa Rekreasi”: Disdik Kota Bekasi Kompak Tutup Mata, Kepala Sekolah Jadi Turis Jam Kerja?

Acara pelepasan siswa kelas IX UPTD SMPN 1 Gunung Pelindung berlangsung hangat dan penuh haru.

Turut hadir Zainal Abidin Kepala Desa Pempen, Marlin Putra Kurnia Kades Nibung, Ketua Komite Syafarudin, dan Kepala Sekolah Agus Sahid Afandi.

Dalam sambutannya, para tokoh desa dan pihak sekolah juga mengingatkan siswa agar menjauhi narkoba, menjaga akhlak, dan terus melanjutkan pendidikan.

Namun di balik seluruh rangkaian seremoni itu, ada satu pesan yang terasa paling membekas dari sosok Danang:

Bahwa hidup tidak menentukan manusia dari titik lahirnya.

Karena kadang anak desa yang dulu diremehkan, justru tumbuh menjadi orang yang membuka lapangan kerja bagi mereka yang dulu merasa lebih hebat.

“Para lulusan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan menjaga nama baik sekolah,”ujar Agus Sahid Afandi berharap.

Acara pelepasan berlangsung penuh kehangatan dan ditutup dengan doa bersama serta ucapan selamat kepada seluruh siswa kelas IX yang resmi dilepas tahun 2026.***