Scroll untuk baca artikel
Opini

Sebira versus Siberia: Catatan Untuk Anies Baswedan

×

Sebira versus Siberia: Catatan Untuk Anies Baswedan

Sebarkan artikel ini
Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle (foto_scn)
Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle (foto_scn)

(Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)

WAWAINEWS.ID – Sebira, demikian Anies Baswedan memulai proposisinya tentang demokrasi dan keadilan sosial, pada tulisan “Meluruskan Jalan, Menghadirkan Keadilan”, Kompas, 16/02/23 lalu. Karena tulisan itu viral via medsos dalam potongan copy koran, hurupnya terlalu kecil, saya berpikir tadinya Siberia. Sebira adalah sebuah pulau di utara Jakarta, jauh dari Jakarta. Sedangkan Siberia adalah tanah di Rusia, eks Uni Soviet. Baik Sebira maupun Siberia, keduanya berbicara tentang peristiwa, yang menghadirkan pilihan politik dalam memajukan sebuah kehidupan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Anies Baswedan, melalui tulisan tersebut, sudah mulai memperlihatkan platform politik perjuangannya. Tulisan ini menyebar luas melalui media sosial dan jadi perbincangan publik.

BACA JUGA :  Gibran Bicara Indonesia Emas 2045, Takutnya Menjadi Besi Tua

BACA JUGA: Catatan Akhir Tahun Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle)

Pulau Sebira, cerita Anies, adalah tentang tanah dan rakyat marginal, terpinggirkan, padahal masuk di ibukota.
Pulau ini terlalu jauh dari pusat pemerintahan. Penduduknya kesulitan akses listrik, air bersih dan kapal hanya seminggu sekali. Namun, ketika Anies menjadi gubernur, perspektif pulau terluar, yang kurang diperhatikan, ditiadakan. Semua pulau, menurut Anies, punya hak dasar yang sama. Olehkarena itu, tidak ada perspektif berbasis jarak, semuanya berjarak nol dari ibu pertiwi. Republik menurutnya tidak boleh bekerja berdasarkan perspektif untung rugi, melainkan perspektif keadilan. Dengan demikian, hak-hak pulau Sebira dipenuhi Anies, setara dengan daerah lainnya.

BACA JUGA :  Trans 7 VS Alumni Lirboyo: Siapa Berlebihan?

Disini proposisi Anies Baswedan tentang peran negara harus melihat semua daerah mempunyai hak dan kesempatan yang sama, equal, tidak ada alasan geografis, jarak dari pusat pemerintahan.

BACA JUGA: Catatan Akhir Tahun Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

Untuk memanifestasikan keadilan sosial itu Anies mengajukan proposisi dalam 3 hal, pertama, demokrasi dan kesetaraan hukum. Kedua, ekonomi untuk semua. Dan ketiga, masyarakat yang guyub. Demokrasi penting untuk memberi ruang yang setara bagi semua. “Demokrasi dan keadilan hukum yang akan mendorong kemajuan ekonomi yang berkeadilan”, menurut Anies.

BACA JUGA :  Presiden Soeharto: Pahlawan Nasional dan Aktivis ’98

Ekonomi untuk semua, maksudnya merubah institusi market yang “purely” liberal menjadi “social market economy”. Orang-orang miskin atau pengusaha kecil, bukan sekedar penunggu “Charity”, melainkan ikut bertumbuh, tanpa mematikan pengusaha besar.

BACA JUGA: Siapa Haman Menteri Paling Berpengaruh Saat Fir’aun Berkuasa

Terakhir, Anies menjelaskan perlunya masyarakat guyub. Maksudnya terjadi interaksi sosial yang kuat antar warga dan penyelenggara negara. Kuncinya pada aspek kolaborasi dan meritokrasi. Kedua aspek ini akan memunculkan pemerintah(an) yang berintegritas. Pemerintah seperti ini yang akan meluruskan jalan dan memberikan keadilan untuk semua.