Scroll untuk baca artikel
Opini

Ijazah antara Ghibah dan berbantah-bantah

×

Ijazah antara Ghibah dan berbantah-bantah

Sebarkan artikel ini
Yusuf Blegur
Yusuf Blegur

Disampaikan Oleh Yusuf Blegur

WAWAINEWS.IDTak perlu terguncang menyadari ijazah palsu seorang presiden. Republik ini sejak lampau telah terbiasa dipenuhi pengkhianat, koruptor, penjilat kekuasaan, konflik dan bahkan genosida sesama rakyatnya sendiri. Kejahatan apalagi yang paling menyesakkan dada dan tak lebih menjadi sekadar ghibah dan berbantah-bantah sesama anak bangsa?

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menguras energi, ya. Menciptakan pembelahan sosial, sudah terjadi. Menimbulkan korban, itu fakta. Lalu apa yang sebenarnya berlaku saat sebuah ijazah muncul di langit publik?, memancar polemik kepalsuan dan keasliannya.

Dari warung kopi hingga menembus dinding istana. Dalam obrolan orang pinggiran, deras sampai terngiang di telinga penguasa. Bising, terdengar gaduh dan sampai mengusik jiwa. Getaran perdebatannya mengoyak akal dan perasaan. Adu kuat narasi dan emosi, tak lebih sebatas melukai kesadaran makna bagi siapapun yang terlibat dan menjadi penontonnya.

BACA JUGA :  Pilihan Tidak Netral Jokowi, Itu Bentuk Kecemasan Diri Sulit Disembunyikan

Tak ada lagi tempat bagi etika, moral, dan hukum. Buang jauh-jauh tentang kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Singkirkan dulu soal kepantasan dan kelayakan menyoal kontroversi ijazah dan si empunya. Kubur dalam-dalam pemikiran verifikasi dan validasi sebuah pengakuan gelar akademis sekaligus marwah pendidikan termasuk yang meyandangnya. Kenapa bisa begitu?.

Sebab.
Negeri ini memang sudah sejak lama menjunjung dan menyanjung kepalsuan dan kepura-puraan. Republik yang dasar negaranya palsu. Konstitusinya palsu. Pemimpin-pemimpinya banyak yang palsu. Bahkan bukan tidak mungkin ada presidennya yang palsu.

Apa yang menjadi cita-cita proklamasi kemerdekaan dan keinginan luhur Para pendiri bangsa telah dipalsukan. Tak terkecuali Tuhan dan agama, yang kerap diyakini dan ditaati hanya seolah-olah. Pancasila menjadi halusinasi. Sedangkan UUD 1945 tak lebih dari sekadar imitasi.
Celakanya, dengan semua kepalsuan itu, rakyat penghuni negara bangsa bernama Indonesia itu terus dipaksa dan diperkosa oleh segelintir elit politik. Berpura-pura menjadi negara sejahtera. Berpura-pura rakyatnya bahagia, menikmati kesemuan adil dan makmur.

BACA JUGA :  Defensif, Overprotektif dan Konspiratif Merespon Gugatan Ijazah Palsu

Dengan demikian, meski drama ijazah dibuat dramatis dengan episode yang panjang dan tak berkesudahan sekalipun. Masalahnya bukan lagi bertumpu pada aspek forum pengadilan ataupun sekedar kejelasan dan pembuktian keabsahannya semata.

Ijazah dari orang yang semestinya terhormat dan menjadi teladan bagi semua anak bangsa. Kini tak penting dan tak berlaku lagi. Selembar kertas itu seakan menjadi simbol dari generasi penerus luka sejarah dan peradaban bangsa ini. Ada yang lebih besar berupa masalah kebangsaan yang tragis dan memilukan jika dibanding secarik kertas keilmuan itu.

BACA JUGA :  Buku Menjemput Mandat Presiden untuk Anies, Karya Aktifis GMNI Diterbitkan

Dengan jam terbang tinggi republik yang sarat pengkhiat, koruptor, penjilat kekuasaan, konflik dan bahkan genosida sesama anak bangsa. Indonesia memang telah terbukti menjadi negara yang jauh dari keadaban. Negeri ini memang mewarisi kejahatan yang tak terkira kengeriannya.

Maka, sesungguhnya gonjang-ganjing ijazah tersebut, tak lain dan tak bukan hanya menyisakan panggung ghibah dan berbantah-bantah. Ijazah yang selamanya memegang teguh kebisuan dari entah kebohongan entah kebenaran.
Sekaligus merangkai tragedi dan manipulasi sebuah bangsa yang telah menjadi dan akan terus menjadi, sejarah kelam dari masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Bekasi Kota Patriot.
28 Syawal 1447 H/17 April 2026.