WawaiNEWS.ID – Hari Raya Iduladha sudah di depan mata. Jika kalender tidak berubah haluan, umat Muslim akan merayakannya sekitar 27 Mei 2026. Biasanya, yang mulai ramai dibahas, harga kambing, ukuran sapi, dan siapa panitia kurban tahun ini. Padahal, ada satu “investasi akhirat” yang sering luput dari perhatian puasa sunah di bulan Dzulhijjah.
Ya, bukan cuma hewan yang disiapkan. Iman juga perlu “digemukkan”.
Berikut tiga puasa sunah yang bisa jadi menu pembuka menuju Iduladha tanpa perlu antre di pasar, tanpa takut kehabisan stok, dan yang pasti: pahalanya tidak kena inflasi.
1. Puasa Dzulhijjah (1–7 Dzulhijjah): Fondasi Awal, Jangan Cuma Niat
Puasa ini dilakukan sejak tanggal 1 sampai 7 Dzulhijjah. Ini adalah momen emas, bahkan bisa dibilang “prime time”-nya ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beramal saleh selain sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Artinya? Ini bukan waktu untuk rebahan spiritual.
Keutamaannya:
- Amal dilipatgandakan
- Momentum memperbaiki rutinitas ibadah
- Start yang baik sebelum puncak ibadah Arafah
Niat:
Nawaitu shouma syahri dzulhijjah sunnatan lillahi ta‘ala.
Kalau biasanya kita kuat puasa demi diet atau tren hidup sehat, masa untuk akhirat malah “skip”? Ironis, tapi sering terjadi.
2. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Yang Sering Terlupakan, Padahal Istimewa
Puasa Tarwiyah mungkin kalah populer dibanding Arafah. Ibarat pemain cadangan, tapi sebenarnya punya kualitas starter.
Dalam beberapa riwayat disebutkan, puasa di hari ini memiliki keutamaan besar bahkan disamakan dengan puasa setahun penuh.
Keutamaannya:
- Pahala besar meski jarang dikerjakan
- Peluang “curi start” sebelum Arafah
- Bukti kesungguhan, bukan sekadar ikut-ikutan
Niat:
Nawaitu shouma tarwiyata sunnatan lillahi ta‘ala.
Kalau ibadah kita hanya yang “viral” saja, mungkin kita perlu evaluasi. Jangan sampai semangatnya lebih ke tren daripada ketakwaan.
3. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): Bintang Utama yang Jangan Sampai Terlewat
Ini dia puasa yang paling dikenal dan paling sering jadi “last minute comeback” bagi yang sebelumnya belum mulai.
Puasa Arafah memiliki keutamaan luar biasa: menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang (tentu dengan izin Allah).
Keutamaannya:
- Penghapus dosa dua tahun
- Momentum taubat besar-besaran
- Puncak spiritual sebelum Iduladha
Niat:
Nawaitu shouma arafata sunnatan lillahi ta‘ala.
Kalau hanya satu puasa yang bisa dikerjakan, ini jangan sampai lolos. Tapi kalau bisa semua, kenapa harus pilih satu?
Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Puasa tanpa perubahan perilaku itu seperti beli kambing kurban tapi lupa disembelih ada niat, tapi tidak selesai.
Lengkapi dengan:
- Zikir (bukan cuma saat lagi butuh)
- Salawat (bukan cuma saat ingat)
- Sedekah (bukan nunggu sisa)
- Tilawah Al-Qur’an (bukan dekorasi rak)
Iduladha bukan sekadar rutinitas tahunan dengan menu sate dan gulai. Ini adalah momentum pengorbanan bukan hanya hewan, tapi ego, malas, dan kebiasaan buruk.
Puasa Dzulhijjah adalah latihan kecil untuk pengorbanan yang lebih besar.
Kalau tahun ini masih sama seperti tahun lalu, mungkin bukan waktunya yang kurang tapi keseriusannya yang perlu ditambah.
Selamat menjemput Dzulhijjah. Semoga lapar kita bukan sekadar menahan makan, tapi juga membuka jalan menuju ketakwaan.***













