Scroll untuk baca artikel
InfrastrukturLampung

Jalan Poros Lampung Timur Bak “Kolam Ikan Raksasa”: 6 Km Lubang, Pejabat Lewat Tapi Tak Terlihat?

×

Jalan Poros Lampung Timur Bak “Kolam Ikan Raksasa”: 6 Km Lubang, Pejabat Lewat Tapi Tak Terlihat?

Sebarkan artikel ini
Kondisi jalan poros kabupaten yang menghubungkan Desa Negara Nabung menuju Jalan H. Abdul Rahman hingga ke Sukadana Ilir dan Bumi Ayu, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, kian memprihatinkan. -foto doc ist

LAMPUNG TIMUR — Jalan poros kabupaten yang menghubungkan Desa Negara Nabung menuju Jalan H. Abdul Rahman hingga Sukadana Ilir dan Bumi Ayu, Kecamatan Sukadana, kini kondisinya kian memprihatinkan. Alih-alih mulus sebagai jalur utama, ruas ini justru berubah jadi “arena uji nyali” bagi pengendara.

Di sepanjang jalur dari Balai Desa Negara Nabung hingga kawasan hilir, lubang menganga tampak di berbagai titik. Ukurannya pun bukan lagi sekadar retakan kecil beberapa bahkan cukup dalam untuk “menjebak” kendaraan jika lengah.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kalau hujan turun, situasinya naik level: dari jalan rusak menjadi jebakan tak kasat mata versi gratis.

BACA JUGA :  Bertambah, Kasus Positif Covid-19 di Lampung Jadi 105 Orang

Tokoh masyarakat setempat, Sakimin, menyebut kerusakan jalan ini bukan cerita baru. Sudah bertahun-tahun, namun tak pernah tersentuh perbaikan menyeluruh.

“Sudah lama belum pernah diperbaiki total. Kalau pun ada, paling hanya beberapa meter saja,” ujarnya sebagaimana dikutip Wawai News, Kamis (30/4).

Pola ini bukan asing: datang, tambal, foto, selesai. Lubang hilang sebentar, lalu kembali seperti “janji yang lupa ditepati”.

Akses Vital, Tapi Kondisi Tak Layak

Padahal, jalan ini bukan jalur biasa. Ini adalah urat nadi aktivitas warga:

  • akses anak sekolah,
  • jalur pekerja dan perkantoran,
  • distribusi hasil pertanian,
  • hingga mobilitas layanan kesehatan.

Kerusakan diperkirakan mencapai 5 hingga 6 kilometer, membentang hingga ke arah Desa Bumi Ayu dan wilayah hilir lainnya.

Seorang warga menyebut kondisi ini sudah meluas dan makin parah.

“Sudah sampai ke hilir. Hampir semua jalur rusak,” katanya.

Kepala Desa Negara Nabung, Samsi, turut menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai pemeliharaan jalan poros kabupaten ini belum optimal.

“Terakhir perbaikan mungkin menjelang Pemilu 2024. Sekarang justru makin parah,” ujarnya.

Pernyataan ini seolah menegaskan “tradisi lama”: jalan mulus saat momen penting, lalu kembali rusak setelahnya.

Ironisnya, jalan ini bukan hanya dilalui warga biasa. Deretan kantor penting berdiri di sepanjang jalur ini:

  • Pengadilan Negeri
  • Kementerian Agama
  • Komisi Pemilihan Umum
  • Gerakan Pramuka
  • Brimob
  • hingga berbagai kantor vertikal lainnya

Artinya, jalan ini juga rutin dilalui ASN dan pejabat.

Pertanyaannya sederhana: apakah lubangnya tidak terlihat, atau sudah dianggap “pemandangan biasa”?

Kerusakan jalan bukan sekadar soal kenyamanan. Dampaknya nyata:

  • biaya transportasi meningkat,
  • distribusi hasil pertanian terhambat,
  • risiko kecelakaan meningkat,
  • aktivitas harian warga terganggu.

Jika dibiarkan, jalan ini bukan hanya rusak tapi bisa melumpuhkan roda ekonomi lokal.

Masyarakat Desa Negara Nabung berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, khususnya Bupati, segera memprioritaskan perbaikan jalan tersebut.

“Minimal bisa diperbaiki dan layak dilalui. Ini akses utama masyarakat,” kata Samsi.

Ia juga menegaskan bahwa posisi desa sebagai pintu masuk menuju pusat Sukadana membuat perbaikan jalan menjadi sangat strategis.***