LAMPUNG TIMUR — Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk tidak sekadar jadi penonton, tapi ikut “menghitung diri sendiri” dalam Sensus Ekonomi 2026.
Pesannya sederhana tapi krusial, isi data dengan jujur, lengkap, dan jangan asal kira-kira. Karena di balik angka-angka itu, tersimpan arah masa depan daerah.
“Sensus Ekonomi milik kita bersama. Mari kita sukseskan dengan memberikan data yang benar dan akurat,” tegasnya.
Sensus Ekonomi 2026 akan memotret seluruh aktivitas usaha, dari warung kecil di pinggir jalan hingga perusahaan besar. Hasilnya bukan hanya laporan statistik, tapi peta jalan pembangunan ekonomi Lampung Timur ke depan.
Dengan data yang akurat, pemerintah bisa:
- menyusun kebijakan yang tepat sasaran,
- meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
- hingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Kalau datanya ngawur? Kebijakannya pun berpotensi “salah alamat”.
Sepanjang 2025, ekonomi Lampung Timur tumbuh 4,65% angka yang cukup solid, dengan sektor pertanian sebagai tulang punggung utama.
Artinya, roda ekonomi berputar. Tapi pertanyaannya, apakah semua sudah ikut menikmati, atau masih ada yang tertinggal di pinggir jalan?
Di sinilah pentingnya sensus, memastikan tidak ada yang “tidak terhitung” dalam pembangunan.
Kabar baik lainnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung Timur pada 2025 mencapai 73,92—masuk kategori tinggi dan naik dari tahun sebelumnya.
Peningkatan ini mencerminkan kemajuan di berbagai sektor:
- Kesehatan: Umur Harapan Hidup naik menjadi 74,54 tahun
- Pendidikan:
- Rata-rata Lama Sekolah: 8,46 tahun
- Harapan Lama Sekolah: 13 tahun
- Ekonomi: Pengeluaran per kapita meningkat menjadi Rp11,67 juta/tahun
Singkatnya, kualitas hidup warga terus membaik. Tapi tentu saja, target berikutnya bukan sekadar naik angka melainkan pemerataan nyata.
Jangan Sampai “Data Fiktif, Kebijakan Fiktif”
Pemerintah mengingatkan, keberhasilan Sensus Ekonomi sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Petugas dari Badan Pusat Statistik akan turun langsung ke lapangan, dan di situlah peran warga jadi penentu.
Karena kalau data diisi asal-asalan:
- usaha kecil bisa tak terdata,
- potensi daerah bisa terlewat,
- bantuan bisa tidak tepat sasaran.
Dengan kata lain, data fiktif bisa berujung kebijakan yang juga “fiktif manfaatnya”.
Bupati Ela menegaskan, hasil Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi dasar penting dalam mendorong Lampung Timur yang lebih maju, makmur, dan sejahtera.
Pesan akhirnya jelas, masa depan daerah dimulai dari data hari ini.
Jadi ketika petugas datang, jangan dihindari. Bukan debt collector ini “penagih data demi masa depan”.***







