Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi
WawaiNEWS.ID – Figur Tedy Indra Wijaya belakangan seperti tidak pernah absen dari panggung kekuasaan. Di rapat ada. Di kunjungan ada. Di momen strategis lagi-lagi ada. Publik pun mulai bertanya: ini kerja efektif, atau mulai “terlalu ke depan”?
Istilah “offside” muncul bukan tanpa sebab. Dalam politik, siapa yang terlalu sering terlihat di dekat pusat kekuasaan akan selalu dicurigai entah karena dianggap menguasai akses, atau sekadar terlalu gesit dibanding yang lain.
Padahal, jika ditarik ke struktur formal, peran penghubung antara presiden dan kabinet memang melekat pada Sekretariat Kabinet. Fungsi utamanya bukan membuat kebijakan, tetapi mengatur alur: menyiapkan bahan, menyusun agenda, menyampaikan arahan, dan memastikan keputusan berjalan.
Masalahnya, dalam politik modern, mengatur arus seringkali lebih menentukan daripada membuat keputusan itu sendiri.
Dalam teori administrasi publik, peran ini dikenal sebagai gatekeeping coordination. Siapa yang mengatur apa yang sampai ke presiden, pada dasarnya ikut menentukan apa yang menjadi prioritas negara.
Riset Thomas menyebutkan, aktor dengan akses langsung ke kepala pemerintahan bisa memengaruhi hingga 60–70% agenda tanpa harus menandatangani satu pun kebijakan.
Di sinilah letak ironi kekuasaan modern: yang terlihat “bukan pengambil keputusan” justru bisa menjadi penentu arah keputusan.
Maka ketika Tedy terlihat “ada di mana-mana”, itu bukan semata soal gaya. Itu konsekuensi dari posisi yang berada di simpul arus informasi.
Namun politik tidak hanya soal struktur, tapi juga persepsi.
Frekuensi kehadiran yang tinggi dengan cepat dibaca sebagai dominasi akses. Dalam bahasa sederhana: terlalu sering dekat dengan presiden bisa dianggap “menguasai pintu masuk”.
Kritik pun muncul bukan karena ada bukti pelanggaran kewenangan, tetapi karena adanya rasa ketimpangan akses di antara aktor-aktor lain di lingkar kekuasaan.
Dan di politik, persepsi seringkali lebih kuat dari fakta.
Ada satu variabel yang sering luput dibahas yakni kebugaran.
Data OECD (2022) menunjukkan pejabat di bawah 45 tahun memiliki mobilitas kerja hingga 30% lebih tinggi. Dalam ritme kerja pemerintahan yang padat rapat, kunjungan, koordinasi lintas sektor energi menjadi keunggulan tersendiri.
Di tengah birokrasi yang sering bergerak lambat, figur yang cepat akan terlihat “lebih dominan”, meski sebenarnya hanya lebih gesit.
Ditambah latar belakang militer yang identik dengan disiplin dan eksekusi cepat kesan “selalu hadir dan siap” semakin menguat.
Fenomena ini juga bisa dibaca melalui konsep agile governance model pemerintahan yang menekankan kecepatan, fleksibilitas, dan pemangkasan birokrasi.
Model ini terbukti mampu meningkatkan efisiensi koordinasi hingga 40%. Tapi ada efek sampingnya: figur yang menjadi penghubung utama akan tampak sangat menonjol.
Dalam situasi seperti ini, publik sering kesulitan membedakan antara “kerja cepat” dan “terlalu dominan”.
Offside atau Sekadar Terlalu Terlihat?
Apakah Tedy benar-benar “offside”? Sejauh ini, belum ada bukti ia melampaui kewenangan formal.
Namun apakah kritik publik sepenuhnya keliru? Juga tidak.
Kritik tersebut lahir dari realitas bahwa akses adalah mata uang paling mahal dalam politik. Siapa yang menguasai akses, otomatis memiliki pengaruh.
Dan ketika satu figur terlihat terlalu sering berada di titik strategis, pertanyaan itu akan selalu muncul: ini koordinasi… atau konsentrasi kekuasaan?
Kesimpulan: Bukan Offside, Tapi di Titik Rawan
Fenomena Tedy lebih tepat dibaca sebagai pertemuan tiga hal: struktur, gaya kerja, dan persepsi politik.
Ia mungkin tidak “offside”. Tapi jelas berada di zona paling sensitif dalam kekuasaan: titik di mana akses, kecepatan, dan visibilitas bertemu.
Dan dalam politik, berada di titik itu berarti satu hal siap dikritik, bahkan ketika tidak melanggar.***












