Scroll untuk baca artikel
NASIONAL

Pantura Jawa Terancam Tenggelam: AHY Bongkar ‘Tekanan Ganda’, Tanah Turun Cepat, Laut Naik Pelan Tapi Pasti

×

Pantura Jawa Terancam Tenggelam: AHY Bongkar ‘Tekanan Ganda’, Tanah Turun Cepat, Laut Naik Pelan Tapi Pasti

Sebarkan artikel ini
Menteri Koordinator (Kemenko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY

JAKARTA — Ancaman serius membayangi kawasan pesisir utara Pulau Jawa (Pantura). Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkap kondisi Pantura kini berada dalam situasi kritis akibat kombinasi penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut.

Hal itu disampaikan AHY dalam rapat koordinasi (rakor) bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, Senin (4/5/2026).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Penurunan permukaan tanah terjadi antara 15 hingga 20 cm per tahun. Ini paling parah di Jakarta dan Semarang, tapi wilayah lain juga mengalami hal serupa,” ujar AHY.

BACA JUGA :  Menkeu Sebut 86 Persen BBM Subsidi Dinikmati Orang Kaya

AHY menyebut kondisi ini sebagai “twin pressure” atau tekanan ganda. Di satu sisi, tanah terus ambles. Di sisi lain, permukaan air laut perlahan naik akibat pemanasan global.

Data menunjukkan kenaikan air laut mencapai 0,8 hingga 1,2 cm per tahun. Angka yang terlihat kecil, tetapi berdampak besar jika terjadi secara konsisten dalam jangka panjang.

Dampaknya sudah terasa:

  • Banjir rob semakin sering
  • Permukiman warga terendam
  • Infrastruktur rusak perlahan

Kalau diibaratkan, Pantura seperti rumah yang lantainya turun, sementara air di luar terus naik kombinasi yang sulit dilawan tanpa intervensi serius.

AHY mengingatkan, tanpa langkah konkret, kondisi Pantura pada 2050 bisa jauh lebih buruk.

BACA JUGA :  Lumba-Lumba Dilindungi Ditemukan Mati Mengapung di Kutai, Duka yang Menjadi Alarm bagi Laut Indonesia

“Proyeksi penggenangan air laut akan semakin luas jika tidak ada intervensi. Ini bukan ancaman jangka jauh, tapi proses yang sudah terjadi sekarang,” tegasnya.

Dengan kata lain, ini bukan cerita masa depan. Ini masalah yang sedang berjalan pelan, tapi pasti.

Ironisnya, di tengah ancaman banjir, kawasan Pantura juga menghadapi krisis air bersih.

“Bukan hanya kelebihan air dalam bentuk banjir, tapi juga kekurangan air bersih. Ini harus ditangani serius,” kata AHY.

Fenomena ini menunjukkan ketidakseimbangan lingkungan:

  • Air laut masuk ke daratan (intrusi)
  • Sumber air tanah menurun
  • Kualitas air memburuk

Singkatnya, air ada di mana-mana, tapi tidak semuanya bisa diminum.

BACA JUGA :  Kapolri Lantik Delapan Kapolda Baru

Masalah Pantura bukan hanya isu lingkungan, tapi juga ekonomi nasional.

Pada 2025, kawasan ini menyumbang sekitar 27,53% PDB Indonesia, setara dengan US$368,37 miliar.

Jika kerusakan terus dibiarkan:

  • Aktivitas industri terganggu
  • Logistik tersendat
  • Kawasan produktif berkurang

“Potensi kerugian ekonomi sangat besar. Ini kawasan strategis yang menopang perekonomian nasional,” ujar AHY.

AHY menegaskan penanganan Pantura harus dilakukan secara serius dan terkoordinasi.

Ia mendorong:

  • Sinergi pusat dan daerah
  • Perencanaan berbasis riset
  • Intervensi infrastruktur dan lingkungan

“Kita harus bergerak bersama, kompak, dan cepat agar kerusakan tidak semakin parah,” tegasnya.***