Scroll untuk baca artikel
NASIONAL

Penyelam Tembus Kamar KM Virgo Transport 8, Banyak Jasad Korban Terjebak di Dalam Bangkai Kapal

×

Penyelam Tembus Kamar KM Virgo Transport 8, Banyak Jasad Korban Terjebak di Dalam Bangkai Kapal

Sebarkan artikel ini
foto dok net

JAKARTA — Operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 memasuki fase paling memilukan. Tim penyelam gabungan berhasil menembus sejumlah kamar penumpang di dalam bangkai kapal yang tenggelam di Laut Jawa dan menemukan banyak korban yang masih terjebak di dalamnya.

Kaca jendela beberapa kamar terpaksa dipecahkan untuk membuka akses menuju ruang-ruang yang sebelumnya sulit dijangkau penyelam. Di balik akses tersebut, tim menemukan jasad korban yang diduga masih terjebak karena tubuh mereka terjepit struktur kapal.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Temuan itu membuat fokus operasi SAR hari ke-10 bergeser semakin dalam ke badan kapal. Bukan lagi sekadar mencari titik keberadaan korban, tetapi membuka satu per satu ruang yang menjadi perangkap bagi penumpang KM Virgo Transport 8.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana selaku SAR Mission Coordinator mengatakan tim penyelam telah melihat banyak penumpang berada di dalam kamar kapal.

Namun, menemukan korban ternyata belum otomatis berarti korban dapat langsung dievakuasi.

Beberapa korban yang telah dicoba ditarik menggunakan tali belum berhasil dikeluarkan. Kondisi bangkai kapal yang sudah tidak normal membuat sejumlah korban diduga terjepit di dalam ruangan.

“Fokus di sana, memang sudah banyak terlihat penumpang-penumpang yang terjebak di dalam kamar kapal. Tadi beberapa korban sudah dicoba ditarik pakai tali tapi enggak bisa. Sepertinya ada korban kejepit di dalam kapal atau apa yang menyebabkan seperti itu,” kata Putu dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari ke-10 di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Selasa malam.

BACA JUGA :  Bareskrim Bongkar Jejak Sindikat Narkoba Internasional di Laut Kepri

Operasi evakuasi akan dilanjutkan dengan harapan kondisi di lokasi memungkinkan penyelam bekerja lebih aman.

Tim penyelam gabungan yang terdiri atas Basarnas Special Group (BSG), Kopaska dan Pangkoarmada II TNI AL, PT Jasalindo serta unsur lainnya telah memecahkan kaca jendela sejumlah kamar.

Langkah tersebut dilakukan bukan sekadar untuk membuka jalan, tetapi menjadi bagian penting dari upaya mencapai ruang yang menjadi lokasi korban terjebak.

Bangkai kapal kini menjadi medan pencarian tersendiri. Setiap kompartemen harus diperiksa dengan mempertimbangkan struktur kapal, posisi korban, jarak pandang penyelam hingga kondisi arus di bawah permukaan.

Dalam kondisi seperti itu, operasi tidak bisa dilakukan dengan logika sederhana: korban ditemukan, lalu langsung ditarik keluar.

Di bawah laut, bangkai kapal tidak menyediakan “pintu darurat” yang ramah. Setiap celah bisa menjadi akses sekaligus ancaman bagi penyelam.

Pada Selasa pagi, tim penyelam gabungan berhasil menemukan dan mengevakuasi tiga korban meninggal dunia dari dalam bangkai kapal.

Namun, proses tersebut kembali menghadapi kendala ketika kondisi air semakin keruh dan arus laut menguat.

Putu menjelaskan, sejumlah korban sebenarnya sudah terlihat oleh penyelam. Akan tetapi, proses evakuasi tidak dapat dilanjutkan karena kondisi bawah air semakin tidak aman.

BACA JUGA :  Bukan Janji, Tapi Bukti! Rembuk Nelayan 2025 Tanggamus Guncang Laut Kebijakan Lama

“Untuk melanjutkan evakuasi, airnya keruh karena faktor arus yang sudah cukup kencang. Akhirnya tim penyelam tidak bisa mengevakuasi korban-korban yang sudah terlihat,” ujarnya.

Situasi tersebut membuat operasi harus dilakukan dengan perhitungan ketat. Keselamatan korban menjadi tujuan utama, tetapi keselamatan penyelam juga tidak boleh dipertaruhkan secara serampangan.

Pada operasi lanjutan, tim SAR akan memusatkan pencarian pada kompartemen kapal, terutama kamar penumpang kelas ekonomi dan kelas eksekutif.

Setelah area kamar dituntaskan, tim akan mempertimbangkan pencarian terhadap kendaraan yang berada di dalam kapal apabila kondisi memungkinkan.

Persoalannya, kendaraan di dalam kapal kini berada dalam posisi tidak normal dan sebagian saling bertindihan.

“Kendaraan di dalam kapal saling bertindih karena posisi kapal sudah tidak normal. Kalau memungkinkan dan aman pasti akan kita laksanakan. Operasi SAR ini harus mengutamakan keselamatan petugas,” kata Putu.

Pernyataan itu sekaligus menggambarkan betapa rumitnya medan operasi. Bangkai kapal bukan lagi sebuah ruang dengan tata letak normal. Setelah tenggelam, setiap bagian di dalamnya dapat berubah menjadi ruang sempit yang sulit ditembus.

117 Orang Masih Dalam Pencarian

Hingga Selasa pukul 22.00 WITA, Basarnas mengonfirmasi 126 korban telah ditemukan dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 108 orang ditemukan selamat, sedangkan 18 orang meninggal dunia.

BACA JUGA :  Mulai Tahun Depan Harga Minyakita Jadi Harga Rp15 Ribu

Sementara itu, 117 orang masih dalam proses pencarian.

Angka tersebut membuat operasi SAR memasuki tahap yang semakin krusial. Temuan korban di kamar-kamar kapal memberikan petunjuk baru mengenai lokasi korban yang belum ditemukan, tetapi pada saat bersamaan menunjukkan beratnya pekerjaan evakuasi di dalam bangkai kapal.

Rabu, Penyelam Kembali Masuk ke Bangkai Kapal

Pencarian dan evakuasi akan kembali dilanjutkan pada Rabu (23/9/2026) mulai pagi hingga sore hari.

Tim berharap kondisi cuaca membaik dan arus laut lebih tenang sehingga penyelam dapat memperluas proses evakuasi.

Fokus pertama tetap pada kamar dan kompartemen penumpang. Setelah itu, pencarian akan dikembangkan ke bagian lain, termasuk kendaraan di dalam kapal, sepanjang kondisi dinilai aman.

Bagi tim SAR, setiap korban yang ditemukan bukan sekadar menambah angka dalam laporan operasi. Di balik satu jasad yang berhasil dievakuasi, ada keluarga yang menunggu kepastian.

Karena itu, ketika bangkai kapal menjadi semakin sulit ditembus, operasi tidak boleh berubah menjadi perlombaan melawan waktu yang mengabaikan keselamatan penyelam. Targetnya bukan sekadar menemukan korban, tetapi membawa mereka keluar dari perangkap bangkai kapal dengan selamat bagi petugas yang menjalankan misi.

Dan di bawah permukaan Laut Jawa, pekerjaan itu kini benar-benar menjadi pertarungan antara waktu, arus, bangkai kapal, dan harapan keluarga yang belum mendapat kepastian.***