Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

KDM Dukung Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih

×

KDM Dukung Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan kunjungan kerja ke Museum Batutulis di Kota Bogor, Senin (14/4/2025)

KOTA BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendukung penyusunan kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake. Kajian tersebut dinilai penting untuk mengubah cara pandang masyarakat, dari yang selama ini cenderung bernuansa mistis menjadi pemahaman yang lebih ilmiah dan historis.

Hal itu disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri Diskusi Kecagarbudayaan bertema “Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake” di Museum Pajajaran Bogor, Kamis (14/5/2026).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menurut KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, Prasasti Batutulis perlu memiliki buku akademik yang mengupas secara menyeluruh mulai dari waktu pembuatan, bahan, pembuat, hingga makna tulisan yang tertera di dalamnya. Kajian serupa juga perlu dilakukan terhadap Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake.

Ia menilai keberadaan Prasasti Batutulis menjadi bukti penting bahwa Kerajaan Sunda pernah berjaya dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran yang kini berada di wilayah Kota Bogor. Karena itu, sejarah tersebut perlu dijelaskan secara komprehensif kepada masyarakat.

BACA JUGA :  “KDM Bilang Stop, Sekolah Tetap Gas!” Wisuda SMK di Bekasi Bikin Orang Tua Sampai Ngutang

KDM juga berharap naskah akademik yang disusun nantinya dapat menjadi pijakan dalam penyusunan tata ruang, tata bangunan, hingga tata kelola pendidikan dan kesehatan di Jawa Barat, sehingga ada kesinambungan antara nilai sejarah masa lalu dan pembangunan masa depan.

Prasasti Batutulis sendiri diyakini menyimpan catatan penting tentang kejayaan Kerajaan Sunda pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Dalam diskusi tersebut, ahli epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa prasasti itu dibuat atas perintah Raja Surawisesa sebagai bentuk penghormatan kepada Prabu Siliwangi yang dianggap berjasa membangun dan menata Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda.

Seiring perjalanan waktu, peninggalan fisik Kerajaan Sunda tidak banyak tersisa. Salah satu penyebabnya adalah kuatnya pengaruh kerajaan Islam di Pulau Jawa pada masa berikutnya. Namun, salah satu artefak yang masih dianggap merepresentasikan kemegahan kerajaan tersebut adalah Mahkota Binokasih yang hingga kini tersimpan di Keraton Sumedang Larang.

BACA JUGA :  Kritisi Hasil Rakor Penanganan Banjir, Ketua KP2C Ajak KDM Susur Sungai Cileungsi-Cikeas

Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, Mahkota Binokasih dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi raja-raja Sunda. Setelah Kerajaan Sunda runtuh, mahkota itu kemudian diserahkan kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun, oleh empat utusan Pajajaran.

Sementara itu, ahli arkeometalurgi BRIN Harry Octavianus Sofian menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih memiliki keterkaitan erat dengan konsep kosmologi Sunda “Tritangtu”, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Ia menerangkan bahwa mahkota tersebut dirancang dengan tiga unsur utama yang melambangkan peran Rama, Ratu/Prabu, dan Resi dalam struktur masyarakat Sunda kuno.

Bagian atas mahkota melambangkan Rama atau pemimpin spiritual, dihiasi ornamen berbentuk stupa dan bunga teratai yang menggambarkan kebijaksanaan serta manfaat bagi kehidupan masyarakat.

BACA JUGA :  Mobil Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Dicegat Mahasiswa di HUT ke-29 Kota Bekasi, Banjir Jadi “Kado Pahit” Kota Patriot

Sementara bagian tengah melambangkan Ratu atau Prabu sebagai simbol kepemimpinan dan ketegasan dalam mengambil keputusan. Ornamen daun segitiga dan Garuda Mungkur pada bagian ini dimaknai sebagai perlindungan, keberanian, dan sifat kesatria seorang pemimpin.

Adapun bagian bawah mahkota merepresentasikan Resi, yakni kaum intelektual dan penasihat kerajaan yang berperan memberikan ilmu pengetahuan dan pertimbangan bijak. Konsep tersebut dikaitkan dengan ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati yang dikenal sebagai pemimpin bijaksana pada abad ke-14.

Karena nilai sejarah dan budayanya yang sangat tinggi, Mahkota Binokasih selama ini disimpan dengan ketat oleh Keraton Sumedang Larang. Namun dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut sempat dibawa ke sejumlah daerah di Jawa Barat sebagai bagian dari napak tilas sejarah Pajajaran sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sejarah Kerajaan Sunda. ***