Scroll untuk baca artikel
AgamaPendidikan

Madrasah Jangan Kalah dari Konten Receh! Kakanwil Kemenag Lampung Ajak Pesantren Kuasai Medsos

×

Madrasah Jangan Kalah dari Konten Receh! Kakanwil Kemenag Lampung Ajak Pesantren Kuasai Medsos

Sebarkan artikel ini
Kakanwil Kemenag Lampung, Dr Zulkarnain saat membuka Rapat koordinasi daerah bidang pendidikan madrasah di lingkungan Kemenag Lampung Tengah. / Dok Humas Kemenag Lampung

LAMPUNG TENGAH – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Dr. Zulkarnain, melontarkan pesan keras kepada madrasah dan pondok pesantren, jangan hanya sibuk mendidik, tapi juga wajib “melek panggung digital”.

Menurutnya, di era media sosial, lembaga pendidikan Islam tak boleh kalah cepat dari penyebaran konten negatif, hoaks, bahkan gosip receh yang kerap mendominasi ruang maya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pesan itu disampaikan Zulkarnain saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Bidang Pendidikan Madrasah Kabupaten Lampung Tengah di Pondok Pesantren Darus Sa’adah, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Selasa (19/5/2026).

Di hadapan ratusan peserta mulai dari kepala madrasah, guru, operator sekolah, pengawas hingga tenaga kependidikan, Zulkarnain menegaskan bahwa citra madrasah tidak cukup dibangun hanya lewat kerja nyata di lapangan. Menurutnya, prestasi, inovasi, hingga keberhasilan alumni juga harus “dipamerkan” secara sehat melalui media sosial.

“Kalau madrasah punya prestasi, kabarkan. Kalau ada praktik baik, tampilkan. Jangan biarkan ruang digital hanya dipenuhi narasi yang melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap madrasah dan pesantren,” tegasnya.

Ia menyebut, derasnya arus informasi saat ini membuat isu negatif tentang lembaga pendidikan Islam lebih cepat viral dibandingkan kabar baik. Karena itu, seluruh elemen madrasah diminta aktif mengisi ruang digital dengan konten positif.

BACA JUGA :  Sambut Ramadhan, Saudi Salurkan Bantuan 100 Ton Kurma untuk Warga Muslim Indonesia

“Madrasah jangan kalah eksis dari akun gosip. Tampilkan prestasi anak-anak, kegiatan pembinaan karakter, inovasi pembelajaran, sampai alumni yang sukses. Itu penting untuk menjaga kepercayaan publik,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.

Dalam arahannya, Zulkarnain juga menepis stigma lama yang menganggap lulusan madrasah hanya berorientasi menjadi tokoh agama. Ia menegaskan, madrasah justru memiliki keunggulan karena memadukan ilmu umum dan pendidikan agama secara seimbang.

Menurut dia, seluruh mata pelajaran umum tetap diajarkan di madrasah seperti sekolah lainnya. Namun, madrasah memiliki nilai tambah melalui pembelajaran Al-Qur’an Hadis, Fikih, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, hingga Bahasa Arab yang diajarkan secara khusus oleh guru sesuai bidangnya.

“Madrasah itu paket lengkap. Anak dapat ilmu umum, agama juga kuat. Alumni madrasah sekarang banyak jadi dokter, pejabat, pengusaha, akademisi, sampai pemimpin,” katanya.

Ia menilai paradigma lama terhadap madrasah harus diubah. Sebab, lembaga pendidikan Islam saat ini sudah berkembang menjadi institusi modern yang mampu bersaing di berbagai bidang.

Selain soal publikasi, Zulkarnain juga menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi digital guru dan tenaga kependidikan. Ia mengingatkan bahwa tantangan pendidikan saat ini bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan teknologi.

BACA JUGA :  Sanlat SMPN 2 Abung Semuli Tanamkan Iman, Takwa, dan Kepedulian Sosial Siswa

Menurutnya, pengalaman saat pandemi COVID-19 menjadi bukti bahwa guru sebenarnya mampu bertransformasi secara cepat ketika keadaan memaksa.

“Dulu semua panik saat pembelajaran daring dimulai. Tapi akhirnya guru bisa beradaptasi. Artinya kemampuan itu ada, tinggal terus ditingkatkan,” ujarnya.

Ia meminta madrasah tidak tertinggal dalam pengelolaan data, administrasi digital, hingga sistem pembelajaran berbasis teknologi.

Dalam Rakorda tersebut, Zulkarnain juga memberi perhatian serius terhadap kualitas data pendidikan madrasah. Ia mengingatkan operator dan kepala madrasah agar tidak bermain-main dengan data karena seluruh kebijakan pemerintah lahir dari basis data.

“Data itu wajah madrasah. Dari data bantuan disalurkan, kebijakan dibuat, dan program ditentukan. Jadi jangan asal input,” katanya.

Ia bahkan meminta kepala madrasah lebih memperhatikan peran operator sekolah yang selama ini menjadi ujung tombak administrasi digital

Tak hanya soal data, pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) juga ikut disorot. Zulkarnain mengingatkan agar dana negara tersebut digunakan secara transparan, tertib, dan sesuai aturan.

“BOS itu amanah negara agar anak-anak tidak putus sekolah. Jadi pengelolaannya harus jujur dan akuntabel,” tegasnya.

BACA JUGA :  Kasusnya Memalukan, Mahasiswa IAIN Metro Berdemo di Depan Rektorat

Ia juga mengingatkan seluruh madrasah untuk menerapkan pendidikan ramah anak dan bebas kekerasan. Guru diminta tidak mudah memberi label negatif kepada siswa.

“Bisa jadi anak yang hari ini dianggap biasa saja, kelak justru menjadi orang sukses yang mengangkat nama guru dan madrasahnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Lampung, Herry Setiawan, menyebut Kabupaten Lampung Tengah saat ini memiliki 365 madrasah dengan total 44.459 peserta didik dan 3.415 guru berdasarkan data EMIS dan SIMPATIKA.

Menurut Herry, jumlah tersebut menjadi potensi besar sekaligus tantangan serius dalam penguatan tata kelola dan kualitas pendidikan madrasah.

“Madrasah di Lampung Tengah harus terus bergerak menjadi lembaga yang unggul, tertib administrasi, ramah anak, dan terintegrasi,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Lampung Tengah hingga kini belum mendapat alokasi pembangunan dari skema SBSN. Namun melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), saat ini tengah berjalan rehabilitasi dua madrasah swasta, yakni satu MTs dan satu MA swasta.

Rakorda tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan melahirkan langkah konkret untuk memperkuat mutu pendidikan Islam di tengah tantangan era digital yang semakin kompetitif.***