LAMPUNG TIMUR — Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah kembali menghadirkan pelajaran lama yang sering dilupakan banyak pejabat: jabatan bukan soal fasilitas, melainkan soal pengabdian.
Di tengah suasana politik yang kerap dipenuhi pencitraan dan janji manis, Tri Prabowo memilih menunjukkan kepedulian dengan cara yang lebih nyata. Anggota DPRD Kabupaten Lampung Timur dari Dapil V itu menyalurkan 70 ekor kambing dan 2 ekor sapi kurban untuk masyarakat di wilayah Sekampung Udik, Waway Karya, dan Marga Tiga.
Puluhan hewan kurban tersebut didistribusikan ke sejumlah masjid agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat di berbagai pelosok desa.
Bagi sebagian politisi, momen Iduladha mungkin cukup dijadikan bahan unggahan media sosial. Namun bagi Tri Prabowo, kurban disebut sebagai rutinitas tahunan yang sudah lama dijalankan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus kepedulian terhadap masyarakat.
“Selain ibadah, ini juga menjadi bentuk silaturahmi saya dengan masyarakat,” ujar Politisi muda PKB Lampung Timur ini, Selasa (26/5).
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di tengah kenyataan banyak wakil rakyat yang mendadak dekat dengan warga hanya saat musim pemilu, ucapan tersebut terasa seperti sindiran yang menampar tanpa perlu berteriak.
Apalagi Tri Prabowo secara terbuka menegaskan bahwa seluruh pembiayaan kurban berasal dari hasil usaha pribadi dan keluarga, bukan dari gaji maupun penghasilan politiknya.
Pernyataan itu seolah ingin menegaskan satu hal, bahwa tidak semua pejabat hidup bergantung pada jabatan, dan tidak semua politikus menjadikan kekuasaan sebagai tempat mencari keuntungan pribadi.
Jika pada Iduladha tahun lalu ia menyalurkan 17 ekor sapi, tahun ini bentuk kurbannya dibuat lebih beragam. Dominasi kambing dipilih agar distribusi bisa menjangkau lebih banyak titik masyarakat kecil.
Sebuah keputusan yang mungkin sederhana, tetapi sarat makna sosial.
Karena hakikat kurban bukan soal seberapa besar hewan yang disembelih, melainkan seberapa besar keikhlasan yang tumbuh di dalam hati. Iduladha bukan hanya tentang darah dan daging, tetapi tentang kemampuan manusia menekan ego, keserakahan, dan rasa memiliki yang berlebihan terhadap dunia.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, pembagian hewan kurban seperti ini menjadi energi sosial yang penting. Bukan hanya membantu masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga menghidupkan kembali rasa persaudaraan dan gotong royong yang mulai terkikis oleh kerasnya kehidupan.
Sebagai Sekretaris Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung sekaligus kader Fraksi PKB di DPRD Lampung Timur, Tri Prabowo mengaku jabatan yang diembannya hanyalah sarana untuk memberi manfaat lebih luas kepada masyarakat.
“Jabatan itu titipan. Saya benar-benar ingin mengabdi,” tuturnya.
Ucapan yang mungkin terdengar klise bagi sebagian orang. Namun ketika disertai tindakan nyata, kalimat itu justru menjadi pengingat keras bagi banyak pejabat yang terlalu sibuk menjaga citra, tetapi lupa menjaga amanah.
Sebab pada akhirnya rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang pandai berpidato tentang kepedulian. Rakyat hanya ingin melihat siapa yang benar-benar hadir saat mereka membutuhkan.
Dan di tengah riuh politik yang sering kehilangan empati, 70 kambing dan 2 sapi milik Tri Prabowo mendadak terasa lebih lantang daripada seribu baliho dan janji kampanye.***













