Scroll untuk baca artikel
Megapolitan

Jakarta Timur Siaga! Polisi Dirikan Posko Anti Tawuran dan Begal di Duren Sawit

×

Jakarta Timur Siaga! Polisi Dirikan Posko Anti Tawuran dan Begal di Duren Sawit

Sebarkan artikel ini
Guna menciptakan situasi yang kondusif dan menekan angka kriminalitas jalanan, Polsek Duren Sawit mengambil langkah preventif dengan mendirikan Posko Terpadu “Jaga Jakarta Timur”. - foto Syarif

JAKARTA – Polsek Duren Sawit tak mau lagi kecolongan melihat jalanan malam di Jakarta Timur berubah jadi arena tawuran, balap liar, hingga jalur favorit begal. Untuk meredam kriminalitas yang makin meresahkan warga, polisi kini mendirikan Posko Terpadu “Jaga Jakarta Timur” di sejumlah titik rawan, mulai dari Flyover Klender hingga kawasan Kebon Singkong yang kerap memanas saat dini hari.

Wilayah Jakarta Timur yang biasanya mulai “panas” selepas tengah malam kini dijaga ekstra ketat. Polisi tak lagi mau kecolongan melihat jalan raya berubah fungsi jadi arena balap liar, lokasi duel remaja, atau tempat nongkrong yang ujung-ujungnya viral di media sosial karena baku lempar batu.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kapolsek Duren Sawit, Kompol Sutikno, menegaskan bahwa pendirian posko ini bukan sekadar pajangan proyek keamanan atau tempat numpang ngopi aparat saat dini hari. Posko tersebut disiapkan sebagai pusat pengawasan sekaligus markas gerak cepat untuk memburu berbagai gangguan kamtibmas.

BACA JUGA :  Parah! RS Harum Jakarta Buang Limbah Medis di Bekasi

“Menjaga keamanan lingkungan bukan tugas polisi semata, tetapi tanggung jawab bersama,” tegasnya Jumat (29/5).

Kalimat itu terdengar formal. Tapi pesan sederhananya begini: kalau kampung mau aman, jangan semuanya diserahkan ke polisi sambil warga sibuk jadi penonton live tawuran di TikTok.

Titik Rawan yang Kini Diawasi Ketat

Penempatan posko dilakukan berdasarkan peta kerawanan wilayah. Dan ya, polisi tampaknya sudah hafal lokasi mana saja yang kalau lewat tengah malam bikin orang otomatis menambah kecepatan motor.

Beberapa titik yang jadi fokus pengamanan antara lain:

  • Flyover Klender
    Kawasan yang bukan cuma ramai kendaraan, tapi juga sering jadi titik kumpul anak-anak muda dengan agenda yang kadang lebih misterius daripada hubungan tanpa status.
  • Jalan I Gusti Ngurah Rai
    Jalan panjang yang kalau malam kerap berubah fungsi menjadi “sirkuit dadakan” versi hemat anggaran.
  • Kawasan Kebon Singkong
    Nama tempatnya memang terdengar sederhana dan membumi. Tapi aparat tahu, kawasan ini beberapa kali menjadi titik rawan gesekan antar-kelompok yang bisa meledak hanya gara-gara saling tatap terlalu lama.
BACA JUGA :  Ingat, Mulai 1 November Motor dan Mobil Usia Lebih dari 3 Tahun Akan Dirazia!

Lewat Posko Terpadu “Jaga Jakarta Timur”, aparat gabungan dari unsur Tiga Pilar TNI, Polri, dan pemerintah daerah akan melakukan patroli intensif terutama pada jam-jam rawan.

Targetnya jelas adalah membuat para pelaku kriminal kehilangan panggung.

1. Tawuran Remaja

Fenomena klasik yang seolah diwariskan turun-temurun seperti resep keluarga. Bedanya, dulu tawuran pakai surat tantangan, sekarang cukup lewat story Instagram.

Polisi akan membubarkan kerumunan yang dicurigai berpotensi bentrok sebelum berubah jadi headline berita berdarah.

BACA JUGA :  DKI Gelontorkan Rp253,6 Miliar untuk Perluas Akses Pendidikan, 103 Sekolah Swasta Digratiskan

2. Begal dan Curanmor

Motor hilang dalam hitungan detik sudah jadi horor urban warga Jakarta Timur. Polisi kini mempertebal patroli untuk mempersempit ruang gerak pelaku.

Karena warga ingin pulang malam dengan tenang, bukan pulang sambil jalan kaki karena motor mendadak “berpindah kepemilikan”.

3. Balap Liar

Suara knalpot tengah malam yang memekakkan telinga warga akhirnya masuk daftar prioritas penertiban.

Aksi balap liar di Jalan I Gusti Ngurah Rai selama ini bukan cuma bikin resah, tapi juga membuat pengguna jalan lain seperti sedang melewati sesi kualifikasi MotoGP versi nekat.

4. Peredaran Narkoba

Pengawasan terhadap aktivitas mencurigakan juga diperketat. Polisi ingin memastikan wilayah Duren Sawit tidak menjadi ladang nyaman bagi peredaran narkotika.

Program memberi sinyal bahwa aparat mulai bergerak lebih agresif menghadapi kriminalitas jalanan yang makin meresahkan warga.***