Scroll untuk baca artikel
Internasional

Kursi Kosong, Surat Panjang, dan Musuh Abadi: Pemimpin Baru Iran Ajak Rakyat Bersatu Hadapi “Konspirasi AS”

×

Kursi Kosong, Surat Panjang, dan Musuh Abadi: Pemimpin Baru Iran Ajak Rakyat Bersatu Hadapi “Konspirasi AS”

Sebarkan artikel ini
Mojtaba Khamenei, putra sang Ayatollah, sebagai Pemimpin Tertinggi baru di Iran

TEHERAN — Jika dunia politik punya genre drama keluarga, maka Iran tampaknya sedang menulis episode terbarunya. Setelah kematian Pemimpin Tertinggi sebelumnya dalam perang besar yang mengguncang kawasan, sosok penggantinya, Mojtaba Khamenei, kembali “muncul” pada Kamis (4/6/2026). Bukan lewat pidato megah atau kemunculan publik, melainkan melalui secarik surat yang dibacakan orang lain.

Dalam pesannya, Mojtaba menuding Amerika Serikat tengah menjalankan strategi lama yang dianggap tak pernah pensiun: menanamkan keraguan, ketakutan, dan perpecahan di tengah rakyat Iran.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Musuh yang jahat sedang berusaha menanam benih keraguan, keputusasaan, ketakutan, ketidakpercayaan, dan perpecahan di antara masyarakat,” tulis Mojtaba.

Narasi soal “musuh eksternal” memang bukan barang baru di Timur Tengah. Seperti serial televisi yang tak pernah tamat, tokoh antagonisnya tetap sama, hanya musim dan pemain pendukungnya yang berganti.

Mojtaba kemudian meminta seluruh elemen bangsa memperkuat solidaritas nasional dan menggagalkan apa yang disebutnya sebagai “plot jahat” pihak lawan.

“Semua orang harus, melalui keteguhan hati, wawasan, menjaga persatuan dan kohesi… menetralisir niat buruk mereka,” lanjut isi surat tersebut.

Kursi Kosong yang Bicara Lebih Banyak

Pesan itu dibacakan dalam upacara peringatan wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini di kompleks makam pendiri Revolusi Islam Iran tersebut. Namun yang paling menyita perhatian justru bukan isi pidato, melainkan sebuah kursi kosong yang dihiasi foto mendiang Ali Khamenei.

Selama puluhan tahun, Ali Khamenei selalu hadir langsung dalam peringatan tersebut. Tahun ini, yang hadir hanyalah simbol. Kursi kosong itu seolah menjadi metafora bahwa politik Timur Tengah memang sering lebih banyak berbicara lewat simbol daripada dialog.

Ali Khamenei sendiri dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, sebuah peristiwa yang memicu perang regional sebelum akhirnya dihentikan sementara lewat gencatan senjata pada 8 April.

Sayangnya, sebagaimana lazimnya banyak kesepakatan damai di kawasan, tinta di atas dokumen sering kali lebih cepat kering daripada bara konflik di lapangan.

Pemimpin Baru, Strategi Lama

Sejak resmi menggantikan ayahnya pada Maret 2026, Mojtaba Khamenei hampir tak pernah tampil di depan publik. Seluruh komunikasi dilakukan melalui pernyataan tertulis, membuat banyak pengamat menilai kepemimpinannya dibangun dengan pendekatan yang sangat tertutup.

Meski demikian, foto Mojtaba tetap dipasang berdampingan dengan dua pemimpin tertinggi Iran sebelumnya di area makam Khomeini. Sebuah pesan visual bahwa tongkat estafet kekuasaan tetap berjalan, meski sang pelari utamanya belum benar-benar terlihat.

Dalam siaran langsung upacara tersebut, para peserta tampak membawa bendera Republik Islam Iran serta spanduk-spanduk Hezbollah, kelompok sekutu utama Teheran di Lebanon.

Perdamaian Masih Jauh dari Garis Akhir

Pemerintah Iran hingga kini mempertahankan sikap bahwa setiap perjanjian damai dengan Amerika Serikat harus mencakup penghentian konflik secara menyeluruh di kawasan Timur Tengah. Teheran juga tetap mengaitkan proses diplomasi dengan situasi di Lebanon, tempat Hezbollah masih terus melancarkan serangan terhadap Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.

Di tengah kebuntuan negosiasi, pesan Mojtaba Khamenei tampaknya ingin memastikan satu hal: selama masih ada lawan di luar pagar, rakyat diminta untuk tidak sibuk bertengkar di dalam rumah.

Karena dalam politik, terutama di kawasan yang tak pernah benar-benar sepi konflik, musuh bersama sering kali menjadi perekat yang lebih kuat daripada janji-janji perdamaian.***

BACA JUGA :  Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah: Industri Dalam Negeri Tertekan, UMKM Terancam