KOTA BEKASI – Musim kemarau belum benar-benar datang, tetapi alarm bahaya lingkungan sudah lebih dulu berbunyi di Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. Ironisnya, sumber ancaman itu bukan berasal dari hutan belantara, melainkan dari aktivitas pembakaran sampah yang diduga rutin dilakukan di lahan kosong yang berbatasan langsung dengan permukiman warga.
Puncak keresahan terjadi pada Sabtu (6/6/2026) sekitar pukul 14.20 WIB. Api yang sebelumnya diduga berasal dari pembakaran sampah merambat ke rumpun bambu kering yang telah tumbang sejak awal Mei lalu. Dalam hitungan menit, kobaran api membesar dan membuat penghuni Komplek Wahana berhamburan keluar rumah.
Jeritan panik warga pecah ketika api menjulang tinggi hanya beberapa meter dari rumah-rumah mereka. Sejumlah video dan foto kejadian pun langsung beredar luas di media sosial, memperlihatkan betapa dekatnya kobaran api dengan kawasan hunian.
Warga mengaku kegiatan tersebut bukan sekali dua kali terjadi, melainkan sudah berulang kali dilakukan. Bahkan ketika api berhasil dipadamkan warga karena dianggap membahayakan, tak lama kemudian titik pembakaran kembali muncul.
“Kalau hujan berhenti, pembakaran jalan lagi. Seolah-olah ada jadwal tetap yang tidak pernah diumumkan ke warga,” keluh salah seorang penghuni komplek.
Lebih ironis lagi, lokasi yang dipenuhi rumpun bambu kering itu juga disebut menjadi tempat pembuangan sampah liar. Kombinasi antara sampah, cuaca panas, angin kencang, dan vegetasi kering menciptakan resep sempurna menuju bencana.
Untungnya, petugas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi bergerak cepat begitu menerima laporan. Api berhasil dijinakkan sebelum menjalar lebih luas ke permukiman.
Warga setempat, Ade Novik yang juga aktif di Karang Taruna, memberikan apresiasi kepada petugas Damkar yang dinilai sigap menangani situasi darurat tersebut.
“Kami berterima kasih kepada petugas Damkar yang langsung turun ke lokasi dan menangani kebakaran dengan cepat. Tapi harapannya tentu bukan sekadar cepat memadamkan, melainkan kejadian seperti ini jangan sampai terus berulang,” ujarnya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran meninggalkan kerugian materi bagi sejumlah warga.
Berdasarkan laporan lingkungan setempat, rumah milik Gilar di Blok V1 Nomor 7 mengalami kerusakan berupa talang meleleh, pipa paralon rusak, tirai terdampak panas, hingga penutup mobil yang ikut meleleh akibat suhu tinggi dari kobaran api.
Sementara rumah milik Heri di Blok V1 Nomor 8 mengalami kerusakan pada penutup pagar yang meleleh karena terpapar panas kebakaran.
Beruntung, kabel listrik di sekitar lokasi telah diperiksa dan dinyatakan dalam kondisi aman sehingga potensi kebakaran susulan dapat dihindari.
Peristiwa ini kembali membuka pertanyaan lama yang kerap muncul setiap musim kemarau, sampai kapan praktik pembakaran sampah di dekat permukiman akan dianggap hal biasa?
Padahal, selain melanggar prinsip pengelolaan lingkungan hidup yang baik, pembakaran sampah terbuka juga menghasilkan polusi udara, mengganggu kesehatan warga, serta berpotensi memicu kebakaran yang jauh lebih besar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu saat yang terbakar bukan lagi rumpun bambu atau tumpukan sampah, melainkan rumah warga.
Warga berharap Pemerintah Kota Bekasi bersama aparat wilayah segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan aktivitas pembakaran sampah di lokasi tersebut, membersihkan area rawan kebakaran, serta mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Sebab kebakaran kemarin seharusnya menjadi peringatan keras bahwa lahan kosong bukanlah tempat sampah raksasa, dan asap pembakaran bukan bagian dari program penghijauan.
Musim kemarau baru akan dimulai. Pertanyaannya sekarang bukan apakah kebakaran akan terjadi lagi, melainkan apakah ada tindakan nyata sebelum api berikutnya datang menyapa. Terakhir wajar saja dalam beberapa hari terakhir ini daerah Jatiasih dipagi hari selalu dipenuhi kabut asap.***













