Scroll untuk baca artikel
Wisata

Bukan Mal atau Universal Studio, Pelajar Singapura Belajar Adab Melayu, Sejarah Islam dan Menanam Mangrove di Pulau Penyengat

×

Bukan Mal atau Universal Studio, Pelajar Singapura Belajar Adab Melayu, Sejarah Islam dan Menanam Mangrove di Pulau Penyengat

Sebarkan artikel ini
Selama lima hari empat malam, para pelajar Singapura hidup bersama masyarakat, belajar sejarah, memahami budaya Melayu, mengikuti gotong royong, hingga menanam mangrove di pulau yang selama ratusan tahun menjadi salah satu pusat peradaban Melayu di Nusantara Pulau Penyengat - foto dok

TANJUNGPINANG – Di saat sebagian generasi muda dunia modern menghabiskan waktu berjam-jam mengejar tren media sosial, berburu konten viral, atau mengabadikan makanan sebelum sempat disantap, sekelompok pelajar dari Singapura justru memilih cara berbeda untuk belajar tentang kehidupan. Mereka datang ke Pulau Penyengat.

Bukan sekadar berkunjung untuk berfoto lalu pulang. Selama lima hari empat malam, para pelajar itu hidup bersama masyarakat, belajar sejarah, memahami budaya Melayu, mengikuti gotong royong, hingga menanam mangrove di pulau yang selama ratusan tahun menjadi salah satu pusat peradaban Melayu di Nusantara.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar masa depan, Pulau Penyengat justru mengajarkan pentingnya mengenal akar sejarah.

Melalui program kerja sama antara Nusantara Connect Singapore dan pulaupenyengat.id, para pelajar diajak menyelami kehidupan masyarakat secara langsung. Mereka tidak hanya mendengar cerita tentang budaya Melayu dari buku atau ruang kelas, tetapi merasakan sendiri bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam keseharian masyarakat.

BACA JUGA :  Pantai Labuhan Jukung Telan Korban Lagi: Wisata Bahari atau Jalur Cepat ke Alam Baka?

Pendiri pulaupenyengat.id, Raja Farul, mengatakan program ini telah berlangsung untuk keenam kalinya dan terus mendapat sambutan positif.

“Selama di Penyengat mereka belajar tentang sejarah, budaya, adat istiadat, bahkan bagaimana masyarakat Melayu menjaga adab dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga dikenalkan dengan tradisi perkawinan Melayu dan berbagai nilai sosial yang masih hidup hingga sekarang,” ujarnya.

Fenomena ini menjadi ironi yang menarik.

Ketika sebagian masyarakat lokal terkadang lupa betapa berharganya warisan budaya yang dimiliki, justru para pelajar dari negara tetangga datang untuk mempelajarinya dengan penuh antusias.

Mereka rela meninggalkan kenyamanan kota modern demi merasakan kehidupan sederhana di sebuah pulau kecil yang menyimpan jejak sejarah besar.

Pulau Penyengat memang bukan pulau biasa.

Di tanah inilah berdiri megah Masjid Sultan Riau yang menjadi ikon wisata religi Kepulauan Riau. Masjid berwarna kuning keemasan itu tidak hanya menjadi simbol kejayaan Kesultanan Riau-Lingga, tetapi juga saksi perkembangan peradaban Islam dan kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara.

BACA JUGA :  Keindahan Alam di Negeri 'Para Saibatin' Membuat Kalian Malas Pulang!

Pulau ini juga dikenal sebagai tempat lahirnya berbagai karya sastra Melayu klasik yang menjadi fondasi perkembangan Bahasa Indonesia modern.

Tak berlebihan jika Penyengat disebut sebagai salah satu “perpustakaan hidup” dunia Melayu.

Karena itu, program yang dijalankan tidak berhenti pada wisata sejarah dan budaya semata.

Para pelajar juga diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui kegiatan penanaman mangrove.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan kerusakan pesisir yang terjadi di berbagai wilayah dunia, kegiatan ini menjadi pelajaran nyata bahwa menjaga alam bukan sekadar teori di ruang kelas.

Mangrove yang mereka tanam hari ini mungkin baru tumbuh besar beberapa tahun mendatang, namun nilai yang ditanamkan jauh lebih penting: kesadaran bahwa manusia tidak boleh hidup dengan mewariskan kerusakan kepada generasi berikutnya.

BACA JUGA :  Pagar Prendjak Berujung Meja Hijau: Akses Jalan 23 Tahun Digugat Rp3,3 Miliar

Selain itu, para peserta juga melakukan riset lapangan terkait pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Mereka mempelajari bagaimana warga lokal menjadi pelaku utama dalam menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan sektor pariwisata secara berkelanjutan.

Pendekatan ini membuat Pulau Penyengat tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga laboratorium sosial yang hidup.

Keberhasilan program yang telah berlangsung enam kali berturut-turut menjadi bukti bahwa Pulau Penyengat memiliki daya tarik yang jauh melampaui keindahan fisik semata.

Di saat banyak destinasi berlomba membangun wahana modern, Pulau Penyengat justru menawarkan sesuatu yang semakin langka di era digital: identitas, sejarah, adab, dan makna.

Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah tentang seberapa jauh seseorang melangkah.

Melainkan seberapa dalam ia memahami akar peradabannya.

Dan di Pulau Penyengat, para pelajar Singapura tampaknya menemukan pelajaran yang tidak selalu tersedia di buku sekolah maupun layar gawai mereka.***