Scroll untuk baca artikel
Lampung

Jokowi Batal Temui Tokoh Adat Lampung Timur, Teriakan “Jokowi Pembohong” Menggema di Pugung Raharjo

×

Jokowi Batal Temui Tokoh Adat Lampung Timur, Teriakan “Jokowi Pembohong” Menggema di Pugung Raharjo

Sebarkan artikel ini
Foto: Sejak pagi, tokoh adat dari berbagai etnis seperti Lampung, Jawa, Padang, hingga sejumlah komunitas budaya lainnya telah berkumpul untuk menyambut kedatangan Jokowi

LAMPUNG TIMUR – Agenda Presiden ke-7 RI Joko Widodo untuk menyapa tokoh adat di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Minggu (28/6/2026), berujung kekecewaan. Sosok yang ditunggu sejak pagi tak kunjung datang, memicu teriakan “Joko Ngibul” dan “Jokowi Pembohong” dari sebagian warga yang telah memadati Sekretariat Bela Budaya Nusantara.

Teriakan ungkapan kekecewaan itu pun viral di media sosial karena disiarkan live melalui Facebook Minggu siang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sejak pagi, tokoh adat dari berbagai etnis seperti Lampung, Jawa, Padang, hingga sejumlah komunitas budaya lainnya telah berkumpul untuk menyambut kedatangan Jokowi. Mereka mengaku telah melakukan berbagai persiapan selama hampir satu bulan, mulai dari rapat, latihan penyambutan, hingga gladi resik sehari sebelumnya.

BACA JUGA :  K-Fest 2023, Pawai Tupeng Lampung Jadi Ikon dengan Tema Nemui Nyimah

“Kami dari tokoh adat Sekappung Limo Migo sangat kecewa. Sudah hampir sebulan kami mempersiapkan penyambutan, bahkan kemarin gladi resik. Sebelumnya sudah dipastikan hadir, tetapi pada hari H justru tidak datang,” ujar salah seorang tokoh adat di hadapan massa.

Kekecewaan itu pun berubah menjadi luapan emosi. Sejumlah warga meneriakkan yel-yel “Jokowi Pembohong”, sementara sebagian lainnya menyebut “Joko Ngibul”, sebagai bentuk protes atas batalnya agenda tersebut.

Tak hanya tokoh adat, warga yang datang mengenakan berbagai atribut penyambutan juga mengaku kecewa. Bahkan beberapa ibu-ibu yang hadir menyampaikan rasa iba terhadap para tokoh adat yang telah bekerja keras mempersiapkan penyambutan tersebut.

Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi mengenai alasan batalnya kunjungan Jokowi ke Pugung Raharjo.

Sebelumnya, berdasarkan agenda yang beredar, Jokowi dijadwalkan menghadiri Kirab Budaya di Lampung Timur pada pukul 09.00 WIB sebelum melanjutkan rangkaian kegiatan lain, di antaranya menyapa pelaku UMKM di Kota Gajah serta bersilaturahmi dengan santri dan kiai di Pondok Pesantren Nurul Qodiri sebelum kembali ke Jakarta melalui Bandara Radin Inten II.

BACA JUGA :  "Di Saat Banyak Orang Lupa Leluhur dan Hafal Influencer, Sekappung Limo Migo Justru Bangkitkan Warisan Lampung"

Sehari sebelumnya, Sabtu (27/6), Jokowi masih menjalani sejumlah agenda safari politik di Lampung, mulai dari menerima gelar adat, menghadiri Rakorda PSI, mengunjungi Museum Transmigrasi, hingga bertemu pengurus PSI se-Lampung. Pada Jumat (26/6), ia juga tercatat menghadiri sejumlah agenda di Mesuji dan Tulang Bawang.

Ironisnya, seluruh dekorasi, penyambutan adat, hingga perlengkapan acara di Sekretariat Bela Budaya Nusantara sudah terpasang lengkap. Namun tamu utama yang dinantikan tak pernah muncul.

Di tengah kekecewaan itu, suasana setidaknya tidak sepenuhnya muram. Bertepatan dengan pelaksanaan Festival Budaya Sekappung Limo Migo di kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo, warga dan relawan yang semula menunggu kedatangan Jokowi akhirnya mengalihkan perhatian menikmati berbagai pertunjukan budaya.

BACA JUGA :  Sekda Pringsewu Dukung Program IWO Indonesia untuk Jadi Jembatan Informasi Masyarakat

Panggung budaya akhirnya tetap ramai. Bedanya, yang tampil bukan tokoh politik yang dijadwalkan, melainkan tarian, musik tradisional, dan semangat masyarakat menjaga warisan leluhur. Barangkali inilah satu-satunya “janji” yang benar-benar ditepati hari itu, festival tetap berlangsung, meski tamu utamanya batal hadir.

Bagi sebagian tokoh adat dan warga, peristiwa tersebut meninggalkan kesan pahit. Mereka berharap ke depan setiap agenda yang telah dipastikan kepada masyarakat benar-benar memiliki kepastian pelaksanaan, agar kepercayaan publik dan penghormatan terhadap para tokoh adat tidak kembali menjadi korban perubahan agenda di menit-menit terakhir. ***