Oleh: Yusuf Blegur
WawaiNEWS.ID – Ada masa ketika rakyat masih percaya bahwa perubahan bisa diperjuangkan melalui pemilu, parlemen, demonstrasi, diskusi publik, atau sekadar suara yang disampaikan dengan jujur. Namun ada pula masa ketika semua saluran itu terasa seperti lorong panjang yang berujung pada dinding tebal kekuasaan.
Hari ini, banyak rakyat mulai bertanya dalam diam, apakah negara masih bekerja untuk rakyat, atau rakyat yang dipaksa bekerja untuk menopang negara dan para penguasanya?
Kita hidup di zaman yang paradoks. Demokrasi dirayakan dengan pesta-pesta politik yang mahal, tetapi suara rakyat sering terdengar murah. Konstitusi diagungkan dalam pidato-pidato kenegaraan, namun substansinya kerap diperdebatkan di ruang publik. Transparansi menjadi slogan, sementara keputusan-keputusan penting sering terasa jauh dari jangkauan rakyat biasa.
Negeri ini tidak kekurangan pejabat. Tidak kekurangan lembaga. Tidak kekurangan aturan. Bahkan mungkin tidak kekurangan pidato tentang kesejahteraan.
Yang terasa langka justru keteladanan.
Rakyat menyaksikan bagaimana jabatan sering diperebutkan mati-matian, tetapi tanggung jawabnya kerap dipindahkan ke sana-sini. Kekuasaan diperlakukan seperti warisan keluarga yang harus diamankan, bukan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Dalam praktiknya, negara seolah memiliki dua wajah.
Di depan rakyat, negara berbicara tentang pengorbanan, efisiensi, dan kesabaran.
Namun di hadapan para elite, negara sering terlihat begitu ramah terhadap privilese, fasilitas, dan kemewahan.
Rakyat diminta memahami keadaan. Sementara keadaan tampaknya selalu memahami kepentingan mereka yang berkuasa.
Ketika harga kebutuhan hidup naik, rakyat diminta bersabar.
Ketika lapangan pekerjaan menyusut, rakyat diminta beradaptasi.
Ketika pajak bertambah, rakyat diminta berkontribusi.
Tetapi ketika rakyat bertanya ke mana arah bangsa ini berjalan, sering kali yang datang justru kebisingan politik, bukan jawaban.
Yang lebih menyedihkan, kritik sering dianggap ancaman. Padahal dalam negara demokrasi, kritik seharusnya menjadi vitamin, bukan virus.
Mereka yang bersuara kerap dicap pengganggu stabilitas. Mereka yang bertanya dianggap melawan. Mereka yang mengingatkan dianggap menghambat pembangunan.
Akhirnya lahirlah generasi yang memilih diam, bukan karena setuju, tetapi karena lelah.
Lelah melihat hukum yang kadang terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Lelah menyaksikan korupsi datang silih berganti seperti musim tahunan.
Lelah mendengar janji perubahan yang berulang, namun kondisi hidup terasa jalan di tempat.
Ironisnya, bangsa yang begitu kaya sumber daya alam ini justru menghasilkan banyak warga yang hidup dalam kecemasan ekonomi.
Tanah subur.
Laut luas.
Tambang melimpah.
Namun sebagian rakyat masih sibuk menghitung sisa saldo sebelum akhir bulan.
Barangkali yang salah bukan kekayaan negeri ini.
Melainkan cara mengelolanya.
Kita juga menyaksikan fenomena yang semakin mengkhawatirkan: politik telah berubah menjadi industri, bukan lagi pengabdian.
Kontestasi bukan lagi pertarungan gagasan, melainkan pertarungan modal.
Kebenaran sering kalah oleh pencitraan.
Integritas sering kalah oleh popularitas.
Dan akal sehat sering kalah oleh algoritma media sosial.
Dalam situasi seperti ini, wajar jika sebagian rakyat mulai kehilangan kepercayaan kepada institusi.
Bukan karena mereka membenci negaranya.
Justru karena mereka terlalu mencintainya.
Mereka kecewa karena berharap.
Mereka marah karena peduli.
Mereka mengkritik karena masih ingin melihat negeri ini menjadi lebih baik.
Namun ketika harapan terus berbenturan dengan kenyataan, sebagian rakyat akhirnya memilih menyerahkan semuanya kepada kekuasaan yang lebih tinggi.
Bukan kepada partai.
Bukan kepada parlemen.
Bukan kepada oligarki.
Melainkan kepada Tuhan.
Kalimat “Atur saja Tuhan, kami ikut” bukanlah ungkapan menyerah.
Ia adalah jeritan batin rakyat yang merasa ruang perjuangannya semakin sempit.
Ia adalah doa dari mereka yang kehilangan tempat mengadu.
Ia adalah refleksi bahwa di atas seluruh kekuasaan politik, ekonomi, hukum, dan militer, masih ada satu kekuasaan yang tak bisa dibeli, diatur, ataupun dimanipulasi.
Kekuasaan Tuhan.
Sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi.
Tak ada rezim yang terlalu besar untuk runtuh.
Tak ada penguasa yang terlalu kuat untuk jatuh.
Dan tak ada kesombongan yang tidak menemukan batasnya.
Karena itu, pesan terbesar bagi siapa pun yang sedang memegang kekuasaan hari ini sesungguhnya sederhana:
Dengarkan rakyat sebelum rakyat berhenti berharap.
Sebab ketika rakyat sudah berhenti berharap kepada pemimpinnya, mereka hanya akan menengadah ke langit.
Dan ketika itu terjadi, sejarah biasanya sedang menyiapkan babak berikutnya.***












