LAMPUNG SELATAN – Di negeri yang konstitusinya menjamin setiap anak berhak mendapat pendidikan, seorang ibu di Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, justru harus menangis di media sosial demi memperjuangkan hak anaknya untuk masuk sekolah dasar.
Namanya Rusmini. Dengan suara bergetar dan mata sembab, ia mengaku kebingungan karena anaknya yang telah berusia tujuh tahun belum juga diterima di UPTD SDN 1 Jatimulyo, sekolah yang letaknya paling dekat dari rumah mereka.
Ironisnya, di tengah gencarnya slogan “Pendidikan untuk Semua” dan “Wajib Belajar 12 Tahun”, masih ada anak yang terancam tidak sekolah hanya karena terbentur sistem.
“Sudah datang ke sekolah minta tolong, tapi tetap tidak bisa. Sekolah lain jauh, yang dekat hanya SDN 1 Jatimulyo. Saya sampai bingung, ya sudah kalau begini, tidak usah sekolah saja,” ujar Rusmini dalam video yang kini viral di media sosial, Minggu (21/6).
Bagi keluarga sederhana seperti Rusmini, sistem penerimaan murid baru terasa seperti labirin. Persyaratan, jalur, kuota, dan aturan administrasi seolah menjadi tembok tinggi yang sulit ditembus.
Padahal, yang diperjuangkan seorang ibu hanyalah satu yakni anaknya bisa duduk di bangku sekolah.
Alih-alih mendapat solusi, Rusmini justru mengaku semakin bingung. Bahkan, anaknya disebut kerap menjadi bahan ejekan teman-temannya.
Bayangkan, seorang anak yang seharusnya sedang bersemangat membeli seragam dan tas baru, justru harus menanggung pertanyaan yang menyakitkan, “Kapan kamu masuk sekolah?”
Sementara sang ibu menangis, mencari pintu yang entah di mana letaknya.
Pendidikan Gratis, Tapi Masuk Sekolah Seperti Rebutan Tiket Konser
Pemerintah sering menyampaikan bahwa pendidikan dasar adalah hak setiap warga negara. Namun, di lapangan, masih ada orang tua yang harus memohon-mohon agar anaknya diterima di sekolah negeri.
Pendidikan gratis seharusnya tidak berubah menjadi perlombaan administrasi yang membuat rakyat kecil kalah sebelum bertanding.
Jika anak usia tujuh tahun yang tinggal dekat sekolah saja tidak mendapat tempat, lalu untuk siapa sebenarnya sekolah negeri dibangun?
Apakah gedung sekolah hanya boleh diisi oleh mereka yang memahami seluruh mekanisme sistem, sementara masyarakat kecil harus pasrah?
Viral dan Mengundang Simpati
Dalam videonya, Rusmini meminta bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Pemerintah Provinsi Lampung, hingga tokoh masyarakat yang dikenal dengan sebutan Paman Acong.
Keluhannya pun mengundang simpati warganet.
Banyak yang mempertanyakan, mengapa setiap tahun persoalan penerimaan siswa baru selalu berulang? Mengapa orang tua harus menangis demi hak dasar anaknya untuk bersekolah?
Menurut pengumuman resmi, UPTD SDN 1 Jatimulyo membuka kuota sebanyak 56 siswa melalui jalur domisili, afirmasi, dan mutasi.
Namun hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Lampung Selatan terkait keluhan yang viral tersebut.
Pendidikan seharusnya menjadi tangga untuk mengubah nasib, bukan tembok yang menghalangi anak-anak dari keluarga sederhana.
Sebab yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar slogan “Merdeka Belajar”, tetapi juga merdeka untuk bisa masuk sekolah.
Karena ketika seorang ibu harus menangis di media sosial agar anaknya diterima sekolah, sesungguhnya yang sedang diuji bukan kecerdasan anak itu, melainkan kepekaan sistem pendidikan kita sendiri.***













