YOGYAKARTA – Di tengah kemegahan Candi Prambanan yang telah berdiri lebih dari seribu tahun, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi mengirimkan pesan yang melampaui diplomasi biasa. Bukan sekadar mempererat hubungan bilateral, keduanya menegaskan bahwa kebudayaan adalah fondasi peradaban, sementara demokrasi tetap menjadi jalan terbaik meski tak pernah benar-benar mulus.
Dalam kunjungan kenegaraan PM Narendra Modi ke Indonesia, Rabu (8/7), Prabowo mendampingi pemimpin India tersebut mengunjungi Candi Prambanan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi Presiden, kunjungan itu bukan agenda seremonial, melainkan simbol hubungan historis yang telah menghubungkan Nusantara dan India selama lebih dari satu milenium.
“Hari ini saya berkesempatan mendampingi Yang Mulia Perdana Menteri India mengunjungi Candi Prambanan. Ini bukan hanya mahakarya peradaban dunia, tetapi juga bukti eratnya hubungan Indonesia dan India yang telah terjalin lebih dari seribu tahun,” kata Prabowo.
Presiden menegaskan Candi Prambanan bukan sekadar destinasi wisata atau warisan budaya dunia, melainkan saksi hidup pertukaran nilai, ilmu pengetahuan, agama, seni, dan kebudayaan yang membentuk perjalanan kedua bangsa.
Menurut Prabowo, hubungan Indonesia dan India tidak dibangun semata melalui perdagangan, investasi, kerja sama pertahanan, maupun politik luar negeri. Akar persahabatan itu telah tumbuh jauh sebelum konsep negara modern lahir.
Kerja sama konservasi dan restorasi Candi Prambanan yang didukung Pemerintah India pun disebut sebagai simbol nyata bahwa diplomasi budaya mampu menjadi perekat hubungan bilateral.
Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, Prabowo menyampaikan apresiasi kepada PM Narendra Modi atas kunjungan kenegaraan selama tiga hari serta komitmen India dalam memperkuat kerja sama kebudayaan.
“Semoga persahabatan Indonesia dan India semakin erat dan menghasilkan kerja sama yang nyata serta saling menguntungkan bagi kedua negara,” ujar Presiden.
Dari Prambanan ke Demokrasi: Peradaban Tidak Dibangun dalam Semalam
Pesan penting lain disampaikan Prabowo sehari sebelumnya saat menghadiri Indian Community Reception di Jakarta International Convention Center (JICC).
Dalam forum tersebut, Presiden berbicara mengenai demokrasi—bukan sebagai sistem yang sempurna, melainkan sebagai proses yang menuntut kedewasaan dan kesabaran.
“Demokrasi bukan jalan yang mudah. Kadang-kadang sangat berantakan. Tetapi saya percaya ini adalah sistem terbaik untuk menghadirkan keadilan, harapan, dan inklusivitas,” kata Prabowo.
Menurut Kepala Negara, setiap negara demokrasi menghadapi ancaman yang sama, mulai dari polarisasi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga pihak-pihak yang berusaha membajak proses demokrasi demi kepentingan tertentu.
Namun, tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan demokrasi.
“Ada bahaya dalam demokrasi. Ada jebakan. Ada orang yang ingin membajak demokrasi. Tetapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus mempertahankan demokrasi karena inilah sistem terbaik yang pernah dicoba umat manusia,” tegasnya.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyoroti pengalaman India sebagai demokrasi terbesar di dunia dengan lebih dari 1,4 miliar penduduk, ratusan kelompok etnis, serta puluhan bahasa daerah.
Menurut Presiden, kemampuan India menjaga stabilitas pemerintahan dan melaksanakan transisi kekuasaan secara damai selama puluhan tahun merupakan pencapaian yang layak menjadi referensi bagi Indonesia.
“Indonesia memiliki keberagaman yang luar biasa. Karena itu kita perlu terus belajar dari pengalaman India dalam mengelola demokrasi dan menjaga persatuan,” ujarnya.
Pidato Prabowo juga mengandung pesan yang relevan bagi banyak negara demokrasi saat ini. Demokrasi memang sering menghadirkan perdebatan, kritik, bahkan kebisingan politik. Namun, menurut Presiden, kebisingan itu jauh lebih sehat dibandingkan hilangnya ruang kebebasan.
Kalau candi bertahan lebih dari seribu tahun karena fondasinya kokoh, maka demokrasi hanya akan bertahan jika fondasinya dijaga: hukum ditegakkan, perbedaan dihormati, dan kekuasaan tidak dijadikan milik segelintir orang.
Satirnya sederhana: demokrasi memang kadang membuat ruang sidang gaduh, media sosial panas, dan lini masa penuh perdebatan. Tetapi sejarah menunjukkan, yang lebih berbahaya bukanlah demokrasi yang ramai, melainkan ketika suara publik perlahan kehilangan ruang untuk didengar.
Kunjungan Prabowo dan Modi ke Prambanan pun menjadi simbol bahwa hubungan Indonesia dan India tidak hanya dibangun melalui angka perdagangan, investasi, atau kerja sama strategis. Persahabatan kedua negara berdiri di atas fondasi yang lebih tua dari republik modern: kebudayaan, penghormatan terhadap peradaban, serta komitmen untuk terus memperkuat demokrasi dalam masyarakat yang majemuk.
Di hadapan warisan leluhur yang telah melampaui zaman, pesan itu terasa sederhana namun kuat: membangun gedung bisa selesai dalam hitungan tahun, tetapi membangun peradaban membutuhkan keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap berdiri.***












