KOTA BEKASI — Api hanya membutuhkan waktu sekitar 10–15 menit untuk mengubah sebuah Nissan Grand Livina menjadi bangkai kendaraan.
Namun yang membuat peristiwa kebakaran di sebuah SPBU kawasan Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Kota Bekasi, pada Minggu (9/8/2026), bukan sekadar soal mobil yang terbakar.
Ada pertanyaan yang jauh lebih besar:
Bagaimana sebuah kendaraan bisa terbakar di area SPBU, sementara belasan alat pemadam api ringan (APAR) yang seharusnya menjadi pertahanan pertama justru disebut tidak berfungsi optimal?
Pertanyaan itu semakin serius karena lokasi kendaraan yang terbakar berada hanya beberapa meter dari area tangki timbun bahan bakar.
Beruntung, api tidak menjalar ke fasilitas utama SPBU.
Kalau sampai terjadi, cerita yang hari ini hanya tentang satu mobil hangus bisa berubah menjadi cerita tentang bencana yang jauh lebih besar.
Rudi: Saya Masuk SPBU Cuma Mau Pompa Ban
Pemilik Nissan Grand Livina tersebut, Rudi, akhirnya memberikan kesaksian resmi setelah dihubungi pada Selasa (11/8/2026).
Kepada wartawan melalui sambungan WhatsApp, Rudi menceritakan bahwa dirinya bersama istri dan anak sedang melintas di kawasan Rawalumbu.
Saat mengemudikan mobil, ia merasakan setir bergoyang.
Karena menduga ada persoalan pada ban, Rudi kemudian mengambil keputusan yang menurutnya paling masuk akal yakni mencari SPBU terdekat untuk memeriksa sekaligus memompa ban.
Tidak ada firasat bahwa beberapa menit kemudian mobilnya akan berubah menjadi kobaran api.
Begitu kendaraan berhenti di sekitar area SPBU, kepulan asap mendadak keluar dari balik kap mesin.
“Pas saya turun, tiba-tiba saja asap dari kap depan keluar. Istri saya di dalam bilang, ‘Pak, ini kok kayak ada apinya.’ Akhirnya istri dan anak-anak saya suruh keluar dulu,” kata Rudi, Selasa (11/8/2026).
Keputusan itu menjadi hal terpenting yang dilakukan Rudi pada saat tersebut.
Situasi berubah menjadi panik.
Rudi bersama operator SPBU dan seorang anggota polisi yang kebetulan berada di lokasi berupaya melakukan pemadaman menggunakan APAR yang tersedia.
Masalahnya, alat yang seharusnya menjadi senjata pertama melawan api justru disebut banyak yang tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Menurut Rudi, belasan APAR dikeluarkan dari lokasi.
Termasuk APAR beroda berkapasitas 68 kilogram serta sejumlah tabung lainnya.
Namun sebagian besar disebut mengalami masalah teknis.
“Ada satu yang berfungsi tapi tidak banyak, cuma nyemprot sedikit doang. APAR yang satu lagi bocor, keluarnya di selang dekat tabung,” ungkap Rudi.
Kalau kesaksian tersebut benar, maka persoalannya menjadi jauh lebih serius daripada sekadar satu kendaraan yang terbakar.
Sebab, APAR bukan dekorasi keselamatan.
APAR dipasang untuk digunakan ketika api masih kecil sebelum petugas pemadam datang, sebelum api membesar, dan sebelum sebuah insiden berubah menjadi bencana.
Ironisnya, dalam peristiwa ini, ketika APAR benar-benar dibutuhkan, justru muncul cerita bahwa sebagian besar alat tersebut tidak dapat bekerja maksimal.
Ibarat payung yang baru diketahui bolong ketika hujan sudah turun.
Bedanya, hujan bisa ditunggu reda. Api tidak.
10–15 Menit, Mobil Tinggal Kerangka
Menurut Rudi, api berkembang sangat cepat.
Ketiadaan peralatan pemadaman yang dinilai siap digunakan membuat upaya pemadaman awal tidak banyak membendung kobaran api.
“Tadi tidak ada selang air, tidak ada fasilitas pemadam yang siap. Saya sudah panik saja di situ. Kondisinya cepat banget, sekitar 10 sampai 15 menit api sudah gede dan mobil habis semuanya,” tuturnya.
Dalam waktu singkat, Grand Livina tersebut akhirnya dilalap api.
Yang tersisa hanyalah kerangka kendaraan.
Situasinya menjadi semakin mengkhawatirkan karena kendaraan berada dekat dengan area tangki timbun bahan bakar.
Rudi mengaku mendengar beberapa ledakan kecil.
Namun ia menduga suara tersebut berasal dari bagian ban kendaraan, bukan dari tangki bahan bakar.
“Alhamdulillah ledakan-ledakannya kecil, kayaknya dari ban saja, tidak sampai ledakan dari tangki bensin. Tapi ini posisi kejadian dekat banget dengan area pengisian tangki timbun untuk truk,” ujarnya.
Kalimat terakhir itulah yang seharusnya menjadi alarm.
“Dekat banget.”
Dalam konteks SPBU, jarak bukan sekadar angka.
Beberapa meter bisa menjadi perbedaan antara kebakaran kendaraan dan insiden yang mengancam fasilitas bahan bakar.
Bukan Cuma Soal APAR, Damkar Juga Terjebak Kemacetan
Persoalan tidak berhenti pada kesiapan APAR.
Penanganan dari sisi eksternal juga menjadi sorotan.
Armada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Bekasi dilaporkan mengalami kendala saat menuju lokasi karena kondisi jalan yang sempit dan kemacetan.
Akibatnya, ketika petugas pemadam tiba, api telah membesar dan kendaraan hampir seluruhnya hangus.
Kondisi tersebut kembali memunculkan pertanyaan lama yang terus menghantui kota-kota padat:
Kalau mobil pemadam kebakaran saja kesulitan menembus kemacetan, bagaimana nasib warga ketika kebakaran terjadi di titik yang lebih sulit dijangkau?
Sirene boleh meraung.













