Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Mobil Terbakar di SPBU Bekasi, APAR Belasan Tabung Tak Berdaya: Rudi Panik, “Yang Nyemprot Cuma Sedikit”

×

Mobil Terbakar di SPBU Bekasi, APAR Belasan Tabung Tak Berdaya: Rudi Panik, “Yang Nyemprot Cuma Sedikit”

Sebarkan artikel ini
Mobil Nissan grand livina ludes dilalap si jago merah saat hendak mengisi BBM di SPBU Sepanjang Jaya, jembatan nol. Diduga korseliting, Minggu (9/8) - foto dok

Tetapi api tidak mengenal istilah “sedang terjebak macet”.

Di sinilah persoalan mitigasi bencana harus dilihat secara menyeluruh.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bukan hanya apakah petugas pemadam memiliki armada, tetapi juga apakah jalan menuju lokasi memungkinkan armada tersebut tiba dalam waktu yang cukup untuk menyelamatkan situasi.

Peristiwa di Sepanjang Jaya menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Bekasi dan pihak terkait untuk tidak sekadar melihatnya sebagai kebakaran satu kendaraan.

SPBU merupakan fasilitas publik dengan risiko tinggi.

Di sana terdapat kendaraan, bahan bakar, aktivitas pengisian, peralatan listrik, hingga fasilitas penyimpanan bahan bakar.

Karena itu, kesiapan sistem proteksi kebakaran seharusnya bukan formalitas.

APAR harus ada, tetapi yang lebih penting: APAR harus benar-benar bisa digunakan.

Jumlah belasan tabung tidak berarti banyak jika ketika tuas ditekan, yang keluar hanya sedikit.

BACA JUGA :  Maksimalkan Pelayanan Adminduk, Pemko Bekasi Luncurkan Upgrade Aplikasi e-Open 2.0

Bahkan, dalam bahasa yang lebih sederhana:

APAR yang tidak berfungsi hanyalah tabung yang kebetulan dicat untuk terlihat seperti alat keselamatan.

Tentu, kesaksian Rudi mengenai kondisi APAR perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang dan pengelola SPBU. Termasuk memastikan apakah seluruh perangkat memang rusak, kapan terakhir dilakukan pemeriksaan, siapa yang bertanggung jawab atas pemeliharaan, serta apakah standar keselamatan telah dipenuhi.

Namun justru karena itu, inspeksi menyeluruh menjadi penting.

Jangan Tunggu SPBU Terbakar Baru APAR Diperiksa

Pemerintah Kota Bekasi bersama instansi terkait dan pihak Pertamina patut mempertimbangkan inspeksi mendadak terhadap SPBU, khususnya menyangkut kesiapan sistem proteksi kebakaran.

Pemeriksaan tidak cukup berhenti pada pertanyaan:

“APAR-nya ada?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Kalau sekarang terjadi kebakaran, apakah APAR itu benar-benar bisa digunakan?”

Kemudian perlu dilihat pula:

BACA JUGA :  Pengecoran BBM di SPBU Simpang Sribhawono: Pertamina Pastikan Sanksi Tegas, Tanpa Kompromi
  • kapan terakhir APAR diperiksa dan diservis;
  • apakah tekanan tabung masih sesuai;
  • apakah selang dan nozzle berfungsi;
  • apakah APAR kedaluwarsa atau rusak;
  • apakah peralatan pemadam lain tersedia dan dapat digunakan;
  • apakah jalur evakuasi dan akses kendaraan pemadam bebas hambatan;
  • serta apakah petugas SPBU memiliki kesiapan menghadapi kebakaran kendaraan di area pengisian.
  • Sebab, keselamatan publik tidak boleh bergantung pada keberuntungan.

Dalam kasus Rudi, keberuntungan masih berpihak.

Angin bergerak menjauhi area dispenser utama. Api tidak merambat ke tangki timbun. Keluarga Rudi berhasil keluar dari mobil.

Tetapi mitigasi bencana tidak boleh dirancang dengan berharap semua unsur keberuntungan selalu hadir.

Hari Ini Grand Livina, Besok Apa?

Kebakaran mobil di SPBU Sepanjang Jaya mungkin terlihat sebagai insiden kecil dibandingkan skenario kebakaran besar.

Justru karena skalanya masih terbatas, peristiwa ini seharusnya menjadi alarm murah sebelum kita harus membayar harga yang jauh lebih mahal.

BACA JUGA :  Sidak Pasar Terus, Pasar Baru Kranji Bekasi Kapan Diselesaikan? 7 Tahun Pedagang Menunggu Kepastian

Satu mobil hangus masih bisa dihitung dalam kerugian material.

Namun jika api menjalar ke fasilitas penyimpanan bahan bakar, yang dipertaruhkan bukan lagi harga sebuah kendaraan.

Nyawa manusia dan keselamatan lingkungan sekitar bisa menjadi taruhannya.

Rudi datang ke SPBU karena merasakan setir mobilnya bergoyang.

Ia hanya ingin memompa ban.

Ia pulang dengan kendaraan yang tinggal kerangka.

Dan dari kejadian tersebut, ada satu pertanyaan yang layak dijawab bersama oleh pengelola fasilitas, pemerintah daerah, serta instansi terkait:

Jika APAR yang belasan jumlahnya saja tidak siap ketika api datang, sebenarnya seberapa siap kita menghadapi kebakaran yang lebih besar?

Jangan sampai jawabannya baru ditemukan setelah api membesar.

Karena dalam urusan kebakaran, “nanti diperiksa” adalah kalimat yang bisa datang terlambat.***