TANGGAMUS — Pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMP Muhammadiyah 2 Wonosobo, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, disorot.
Persoalan yang mencuat bukan semata soal penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), melainkan dugaan ketidaksesuaian antara kegiatan yang tercantum dalam laporan pertanggungjawaban (LPJ) dana BOS dengan pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Informasi tersebut disampaikan sumber Wawai News yang mengetahui proses penyusunan LPJ. Menurut sumber, kepala sekolah SMP Muhammadiyah 2 Wonosobo, Dwi Apriyani, bersama bendahara tengah menyusun pertanggungjawaban penggunaan dana BOS.
Dalam proses tersebut, sumber mengaku menemukan dugaan penggunaan teknologi AI untuk membuat atau mengubah dokumentasi foto sejumlah kegiatan sekolah.
Sumber bahkan menduga sebagian kegiatan yang dokumentasinya digunakan dalam LPJ tersebut tidak benar-benar dilaksanakan.
“Kepala sekolah dan bendahara mengakali foto kegiatan menggunakan AI, padahal sebenarnya kegiatan ekskul dan lainnya tidak terlaksana,” ujar sumber Wawai News, Kamis (10/9/2026).
Jika dugaan tersebut benar, persoalannya tentu tidak berhenti pada apakah sebuah foto dibuat dengan AI atau tidak.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kegiatan yang dilaporkan menggunakan dana BOS benar-benar terlaksana?
Sebab, keberadaan sebuah foto semestinya bukan satu-satunya dasar untuk membuktikan pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan yang benar-benar berlangsung pada umumnya meninggalkan sejumlah jejak administrasi maupun faktual, seperti jadwal kegiatan, daftar peserta, guru pembina atau penanggung jawab, lokasi kegiatan, daftar hadir, bukti pembelian atau pembayaran, serta laporan pelaksanaan.
Keterangan siswa maupun guru yang disebut terlibat juga dapat menjadi bagian dari proses verifikasi.
Karena itu, apabila terdapat dugaan dokumentasi kegiatan tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya, pemeriksaan idealnya tidak hanya berhenti pada pemeriksaan foto, tetapi juga menelusuri kegiatan, anggaran, transaksi dan pertanggungjawabannya.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah dana BOS untuk kegiatan tersebut benar-benar digunakan sesuai peruntukannya.
Sumber juga menyebut kepala sekolah dan bendahara SMP Muhammadiyah 2 Wonosobo beberapa kali dipanggil oleh Inspektorat.
Menurut sumber, pemanggilan terakhir berkaitan dengan persoalan dokumentasi kegiatan yang dipersoalkan.
“Kepsek dan bendahara beberapa kali dipanggil Inspektorat, terakhir kemarin masalah dokumentasi kegiatan, yaitu mengakali foto-fotonya menggunakan AI,” ungkapnya.
Sumber juga mengklaim persoalan dokumentasi dalam penyusunan LPJ bukan baru terjadi.
Menurut dia, dugaan praktik serupa disebut telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
“Akal-akalan seperti itu sudah berlangsung lama, pokoknya setahu saya sejak tiga tahun terakhir,” tandasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, Kepala SMP Muhammadiyah 2 Wonosobo, Dwi Apriyani, belum berhasil dikonfirmasi terkait dugaan tersebut. ***












